Connect with us

Religi

Dekat di Hati Sang Gembala Sejati

Redaksi

Published

pada

58a3ec47 03ad 4521 89d8 e859970bc015 3

Nats Alkitab : Yohanes 10:1-21

Pdt Lucy Abe Gerret

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Bayangkan seorang pemilik toko kelontong yang tokonya berada tepat di depan lubang jalan yang sangat dalam. Setiap malam, ia menyaksikan orang jatuh terperosok dan terluka di sana, tetapi ia sama sekali tidak peduli.

Suatu hari, seorang warga yang baik hati datang membawa semen dan menambal lubang itu secara sukarela agar jalan kembali aman. Bukannya berterima kasih, pemilik toko itu justru keluar dengan marah-marah.

Ia memaki warga tersebut dan menuntut agar semennya dibongkar kembali, hanya karena warga itu menambal jalan tanpa meminta izin darinya. Pemilik toko ini tidak peduli keselamatan orang lain; ia hanya peduli pada ego, kesombongan, dan wilayah kekuasaannya.

Saudara, karakter pemilik toko kelontong yang angkuh ini persis sama dengan orang Farisi di Yohanes pasal 9. Sebagai pemimpin agama, mereka harusnya mengayom jemaat.

Tetapi ketika ada seorang pengemis yang buta sejak lahir disembuhkan oleh Yesus keluar dari ‘kegelapan’ hidupnya, mereka justru marah besar. Mereka membentak dan mengusir orang buta yang baru sembuh itu keluar dari bait Allah (Yoh 9:34).

Mereka tidak peduli orang itu sekarang bisa melihat; mereka hanya peduli pada aturan Sabat dan ego mereka yang dilangkahi.

Itulah mengapa di Yohanes pasal 10 yang kita baca ini, Yesus langsung membongkar kedok asli mereka. Yesus secara terang-terangan menyebut mereka sebagai PENCURI dan PERAMPOK!

Mengapa Yesus menyebut mereka demikian, karena Mereka memegang jabatan agama bukan karena panggilan suci dari Allah, melainkan didorong oleh ambisi pribadi, dan politik.

Fokus mereka adalah mengeruk keuntungan, kehormatan, dan status sosial dengan cara membebani jemaat lewat aturan yang sebenarnya mematikan jiwa.

Mereka melayani umat Allah dengan mentalitas orang upahan dimana ketika bahaya datang, mereka lari menyelamatkan diri sendiri dan menelantarkan jemaat, sama persis seperti cara mereka membuang si orang buta di pasal 9. Bagaimana bisa orang-orang yang seperti ini menjadi pemimpin dalam kehidupan rohani umat Alllah, sehingga benarlah Yesus menyebut mereka sebagai pencuri dan perampok.

Tetapi saudara, dibandingkan dengan orang-orang Farisi tadi. Yesus memberikan sebuah kepastian Iman yang menyejukan dan membuat hati bersukacita. Yakni semua orang-orang dikasihiNya yang disebutNya sebagai domba-dombaNya, Yesus adalah Gembala yang baik.

Yesus adalah Mesias sejati yang diutus oleh Bapa. Dia Mengenal Kita Secara Pribadi. Yesus tidak melihat kita sebagai sekumpulan orang yang tidak dikenal, tetapi memanggil domba-dombanya menurut namanya.

Dia tahu nama kita, Dia tahu luka hati kita, Dia tahu pergumulan hidup kita, dan Dia tahu setiap air mata yang pun kita sembunyikan dari dunia ini (ay. 3).  Dia bahkan mengatakan sebagai Gembala, Dia rela mengorbankan Nyawa-Nya.

Ini adalah bukti kasih tertinggi, bahwa dengan sukarela, penuh kedaulatan, dan didorong oleh kasih yang tak terukur, Dia naik ke atas kayu salib untuk menerima murka Allah demi menebus dan menyelamatkan kita, domba-domba pilihan-Nya.

Dia adalah Gembala yang membawa hidup dan perlindungan. Pencuri datang untuk merenggut, tetapi Yesus datang agar kita memperoleh hidup kekal dalam segala kelimpahan damai sejahtera (ay. 10). Dia tidak pernah meninggalkan kita sendirian di tengah badai.

Sehingga saudara, Di dalam kehidupan yang kita jalani hari demi hari, tentu kita tahu bahwa jalannya tidak selalu mulus. Seringkali kita dihadapkan pada tumpukan persoalan.

Ada masa-masa di mana kita harus menelan kekecewaan karena harapan yang patah, menghadapi kegagalan yang menguras air mata, hingga sampai pada titik keputusasaan yang membuat kita merasa tidak sanggup lagi untuk berdiri.

Saudara, dunia ini bisa terasa sangat dingin dan kejam, persis seperti sikap orang Farisi kepada si orang buta. Namun, melalui Firman ini, di tengah-tengah badai hidup dan kegelapan yang sementara kita hadapi saat ini, ingatlah satu hal : Gembala kita tahu, Dia mengerti, dan Dia paham benar apa yang sedang kita lalui.

Dia tahu keterbatasan kita, dan Dia tidak pernah membuang kita saat lemah. Dia mengenal kita sedemikian rupa, dan turut merasakan setiap luka-luka di dalam hati kita. Bahkan lebih dari sekadar mengerti, kasih Yesus adalah kasih yang memulihkan.

Tangan-Nya yang penuh bilur siap membalut hati kita yang patah dan merajut kembali harapan Anda yang hancur. Dia adalah Gembala yang selalu siap sedia menjaga dan melindungi kita di garis paling depan. Ketika serigala masalah, rasa takut, atau intimidasi dunia datang menyerang, Dia berdiri sebagai perisai bagi jiwa kita. Di sinilah kepastian yang paling indah bagi jiwa kita sebagai domba-dombaNya: Anda dan saya tidak pernah sendirian. Percayalah saudara, bahkan ketika kita menangis dalam sembunyi, Dia ada di sana.

Di dalam lembah kekelaman yang paling pekat sekalipun, ketika semua orang mungkin meninggalkan kita, kehadiran Yesus selalu nyata, pelukan-Nya hangat, dan perlindungan-Nya sempurna. Karenanya, jangan lari jauh-jauh, tetapi datanglah kepada-Nya.

Biarkan tangan-Nya yang penuh kasih memulihkan jiwamu. Seberat apa pun persoalan hari esok, jangan takut – kita aman karena berjalan di belakang Sang Gembala Agung yang tidak akan pernah melepaskan kita. Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */