Religi
Air Mata yang Menjadi Mahkota: Bertahanlah

Nats Alkitab : 2 Timotius 4:7
Oleh: Pdt Lucy Abe Gerret STh
Saudara-saaudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, pada Tahun 1968, tepatnya pada Olimpiade yang dilaksanakan di Kota Meksiko, ada sebuah kisah yang tidak akan pernah dilupakan dunia. Malam itu, lomba lari maraton telah usai, pemenang telah dikalungkan medali, dan stadion hampir kosong.
Namun tiba-tiba, sirene berbunyi tanda ada satu pelari lagi yang memasuki stadion. Ia adalah John Stephen Akhwari dari Tanzania. Kakinya dibalut perban yang berlumuran darah karena terjatuh dan mengalami dislokasi lutut di tengah jalan.
Sambil terpincang-pincang menahan rasa sakit yang luar biasa, ia terus melangkah mengitari lintasan hingga melewati garis finish. Ketika para jurnalis bertanya mengapa ia tidak menyerah saja, Akhwari memberikan jawaban yang menggetarkan hati: “Negara saya tidak mengirim saya ribuan mil ke Kota Meksiko hanya untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim saya untuk menyelesaikan perlombaan.”
Saudara, sama seperti yang dilakukan oleh Akhwari, hidup kekristenan juga bukanlah tentang bagaimana kita memulainya dengan spektakuler, melainkan tentang bagaimana kita menyelesaikannya dengan setia hingga akhir.
Dan kesetiaan hingga akhir inilah yang diperjuangkan oleh Rasul Paulus, seperti yang kita saksikan dalam pembacaaan ini. Menjelang akhir hidupnya di penjara Roma yang dingin, Rasul Paulus merefleksikan hidupnya bukan dengan penyesalan, melainkan dengan sebuah kidung kemenangan rohani. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Paulus mengatakan bahwa ia telah mengakhiri pertandingan, (agon) pertandingan yang dimaksud ialah bukan hanya sekadar pertandingan tinju atau gulat biasa, tetapi merujuk pada keseluruhan perjuangan yang mulia dari seorang atlet.
Paulus mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan perjuangannya dengan indah di medan pertempuran dunia yaitu melawan dosa, ego, dan tantangan zaman. Ia telah mencapai garis akhir tanpa berhenti di tengah jalan, dan tidak menyerah saat badai karam, saat didera, atau saat ditinggalkan oleh teman-temannya, ia telah menuntaskan tugasnya dengan baik sampai selesai.
Dan ditambahkan olehnya, aku telah memelihara iman. Ungkapan ini menjadi penegasan akhir Paulus yang memiliki arti yang begitu indah, sebab ada dua makna yang indah terkandung didalamnya yaitu ; yang pertama sebagai janji atlet, dimana Sebelum bertanding di Olimpiade, setiap atlet wajib meletakkan tangannya di atas patung Dewa Zeus dan bersumpah bahwa mereka telah berlatih selama 10 bulan penuh dan tidak akan berbuat curang.
Ini berarti bahwa ia telah menjaga janjinya dan mematuhi aturan dari Tuhan dengan setia. Yang kedua, yaitu sebagai penjaga amanat, dimana di dalam dunia komersial, frasa ini berarti seorang pelayan atau bendahara telah menjaga seluruh uang/barang titipan majikannya dengan aman tanpa berkurang sepeser pun.
Paulus bermaksud mengatakan pula bahwa ia telah menjaga kemurnian Injil sebagai harta rohani yang begitu berharga tetapipun telah menghidupinya dengan setia sampai akhir. Sehingga ’memelihara iman” yang dimaksud oleh Paulus ialah, ia telah tidak ingkar janji, bersikap taat, tidak ada kecurangan dan juga menjaga dengan setia kemurnian Injil dari Tuhan Yesus.
Ia telah mengerjakan panggilannya dengan loyalitas dan integritas penuh, ia meyakini ini adalah kemenangan imannya, yang dengan kemenangan ini ia yakin bahwa ia akan menerima makhota yang akan diberikan Tuhan sebagai Hakim yang adil.
Kata makhota diambil dari kata Stephanos, bukan Diadema (mahkota emas seorang raja). Stephanos adalah mahkota daun laurel atau daun zaitun liar yang dikalungkan kepada pemenang perlombaan atletik di arena.. Paulus yakin bahwa ia akan menerima sebuah penghargaan utama yaitu mahkota kebenaran, yang membuktikan bahwa sang pelari-sang atlet yaitu dia sendiri diakui telah menang dengan sah oleh juri tertinggi yaitu Tuhan yang adalah Hakim yang adil. Inilah sebuah nyanyian kemenangan rasul Paulus diakhir hidupnya.
Pertanyaannya, bagaimana dengan kita saudara? bagaimana pertandingan iman kita saat ini? sudah sejauh mana dan ada dititik mana perjuangan kita? Apakah saat ini kita sudah terlalu lelah dan mau menyerah saja. Maka biarkan Firman ini menuntun dan mengarahkan kehidupan kita. Saudara, tetaplah melangkah, meski dengan air mata yang berlinang.
Saudara, masih dari kisah yang terjadi di olimpiade. Tetapi kali ini pada Olimpiade Barcelona 1992. Kisah Derek Redmond. Derek adalah pelari jagoan yang digadang-gadang memenangkan medali emas. Namun di tengah lintasan 400 meter, otot kakinya robek.
Ia terjatuh dan mengerang kesakitan. Impiannya hancur. Tim medis datang membawa tandu, tetapi Derek menolaknya. Sambil menangis menahan sakit yang luar biasa, ia bangkit dan kembali melompat-lompat dengan satu kaki. Ia bertekad: Ia harus menyelesaikan pertandingan. Melihat hal itu, seorang pria menerobos penjagaan ketat stadion. Pria itu adalah Jim Redmond, ayah Derek. Ia berlari ke lintasan, merangkul anaknya yang sedang menangis terpincang-pincang. Sang ayah berbisik, “Nak, kamu tidak perlu melakukan ini.”
Derek menjawab sambil terisak, “Ayah, aku harus menyelesaikannya.”
Dengan mata berkaca-kaca, ayahnya berkata, “Kalau begitu, kita akan menyelesaikannya bersama-sama.” Sang ayah menopang tubuh anaknya. Langkah demi langkah, mereka berjalan bersama menembus garis finish diiringi tangis haru dan tepuk tangan meriah dari 65.000 penonton. Derek tidak mendapat medali, tetapi ia menyelesaikan perlombaannya karena sang ayah menopangnya.
Saudara dalam lintasan iman yang sedang kita lalui hari ini, mungkin hati ini terasa begitu hancur dan jiwa ini seperti sedang lumpuh. Air mata yang tersembunyi di hadapan manusia, terasa begitu berat untuk ditahan.
Mungkin kita merasa tidak lagi memiliki sisa kekuatan untuk melanjutkan satu langkah pun dalam pertandingan ini. Namun, ingatlah pada firman-Nya saat ini: Jangan menyerah. Sebab, Tuhan kita bukanlah penonton yang dingin di atas takhta-Nya, yang hanya melihat dan menuntut kita menang dari kejauhan.
Tetapi, di saat kita terjatuh dan tak sanggup bangkit, Dia adalah Tuhan yang turun langsung ke lintasan hidup kita. Dia berlutut di sebelah kita, merangkul Pundak kita yang gemetar karena menahan beban, menopang kaki yang terasa goyah, lalu berbisik dengan penuh kasih di telinga kita: ‘Mari, Anak-Ku sayang… jangan takut, kita jalani dan selesaikan perlombaan ini bersama-sama.’
Tetaplah melangkah, meski dengan air mata yang berlinang, kelak tanganNya sendiri yang akan menyeka air matamu dan memberimu mahkota kebenaran yang mulia dan kekal. Tuhan Yesus memberkati. Amin.











