Pendidikan
Edukasi Teman Sebaya Tingkatkan Pengetahuan Remaja tentang Cyberbullying

BITUNG,mediakontras.com — Edukasi teman sebaya berpotensi menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai perundungan siber atau cyberbullying.
Hal ini tercermin dalam penelitian skripsi Milli Mahalya Haerani, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik De La Salle Manado, yang dilakukan terhadap siswa SMP Negeri 2 Bitung.
Penelitian berjudul Efektivitas Edukasi Teman Sebaya (Peer Support) terhadap Peningkatan Pengetahuan tentang Cyberbullying pada Remaja di SMP Negeri 2 Bitung tersebut mengangkat pentingnya edukasi dalam menghadapi risiko perundungan di tengah pesatnya perkembangan dunia digital.
Dalam abstrak penelitiannya, putri kesayangan Adrianus Haerani dan Meike Tulis menjelaskan bahwa penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest. Sebanyak 60 siswa menjadi responden yang memenuhi kriteria penelitian.
Pengukuran dilakukan dengan membandingkan tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah memperoleh edukasi teman sebaya. Intervensi dilaksanakan melalui penyampaian materi menggunakan metode ceramah dan pembagian leaflet.
Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara pengukuran sebelum dan sesudah intervensi, dengan nilai yang dilaporkan peneliti sebesar p < 0,001.
Temuan tersebut mendukung kesimpulan bahwa edukasi teman sebaya dapat meningkatkan pengetahuan responden mengenai cyberbullying dalam konteks penelitian ini.
Pendekatan teman sebaya menjadi menarik karena memanfaatkan interaksi sosial yang dekat dengan kehidupan remaja. Melalui edukasi yang terarah, siswa diharapkan lebih memahami bentuk-bentuk perundungan digital, dampaknya, serta pentingnya membangun interaksi yang saling menghormati di ruang digital.
Dalam bagian saran, penelitian tersebut mendorong sekolah untuk mengintegrasikan edukasi mengenai cyberbullying ke dalam kegiatan bimbingan konseling atau aktivitas ekstrakurikuler secara berkelanjutan.
Guru, orang tua, dan tenaga kesehatan juga memiliki ruang untuk berkontribusi melalui edukasi, komunikasi terbuka, dan pendampingan terhadap remaja yang mengalami atau menyaksikan perundungan.
Meski demikian, peningkatan pengetahuan tidak otomatis berarti angka kejadian cyberbullying telah menurun. Penelitian ini berfokus pada perubahan pengetahuan setelah intervensi, sehingga dampak terhadap perilaku dan kejadian perundungan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Temuan tersebut setidaknya memberikan bahan pertimbangan bagi pengembangan program edukasi antiperundungan di lingkungan sekolah. Upaya ini penting agar remaja tidak hanya memahami risiko dunia digital, tetapi juga memiliki pengetahuan untuk merespons persoalan tersebut secara tepat.(*)











