Religi
“Dikenal Sepenuhnya, Dikasihi Seutuhnya, Dijaga Selamanya”

Nats Alkitab : Mazmur 139:1-24
Oleh: Pdt Lucy Abe Gerret
Bapak ibu saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pernahkah kita memperhatikan bagaimana cara kita menilai sesama?
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi kita untuk melihat cara seseorang berpakaian, mendengar satu kalimat yang mereka ucapkan, lalu—klik—di dalam pikiran kita, kita sudah selesai menghakimi mereka.
Kita senang sekali bertindak seperti kaca spion; sibuk melihat ke luar, sibuk mengamati cacat cela kendaraan orang lain di belakang kita, sampai kita lupa memeriksa mesin kehidupan kita sendiri yang mungkin sedang mogok atau rusak.
Mengapa manusia begitu sulit bertindak menjadi cermin dan lebih memilih menjadi kaca spion? Karena menatap kekurangan diri sendiri membutuhkan keberanian untuk jujur, kita harus menanggalkan ego kita untuk mengakui semua ketidaksempurnaan kita dan ini adalah proses yang menyakitkan bagi kebanyakan orang.
Jauh lebih mudah bagi kita untuk menilai hidup orang lain.
Namun saudara, hal berbeda justru ditunjukan oleh seorang raja besar bernama Daud, yang dengan berani menanggalkan seluruh egonya sebagai raja dan datang ke kamar selidik Allah.
Di puncak kejayaannya, di tengah kekuasaan dan kemegahan yang ia miliki, Daud tidak menggunakan posisinya untuk menunjuk hidung orang lain.
Ia justru berlutut, menaruh cermin rohani di hadapannya, dan berseru kepada pencipta-Nya dengan kalimat yang sangat radikal: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiran yang ada dalam hatiku!”
Daud meminta Allah menyelidiki dan menguji dirinya bukan karena ia merasa sebagai orang yang paling hebat, paling benar, atau paling suci.
Kalimat itu bukanlah kesombongan rohaninya, melainkan sebuah tanda dari kerendahan hati yang dalam.
Daud sadar betul bahwa hatinya bisa menipu dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia memiliki titik-titik buta (blind spots)—dosa-dosa yang tersembunyi, motivasi-motivasi yang melenceng, dan ego yang bisa menjatuhkannya kapan saja.
Daud tidak mengandalkan penilaian pribadinya yang terbatas. Ia justru rindu dikoreksi oleh Allah.
Ia dengan sukarela menjadikan Allah sebagai kompas absolut dalam hidupnya, yang menentukan ke mana arah langkah kakinya harus melangkah, melampaui apa yang dianggapnya benar.
Mengapa Daud dengan begitu berani membuka seluruh ruang hatinya untuk dikoreksi? Jawabannya sederhana: karena Daud sadar betul bahwa Allah itu Mahatahu.
Ia berkata bahwa Tuhan tahu saat ia duduk atau berbaring. Duduk dan berbaring adalah aktivitas yang sangat sepele, rutinitas harian yang bahkan jarang kita perhatikan atau beri makna.
Tetapi bagi Tuhan, tidak ada detail yang terlalu kecil untuk luput dari perhatian-Nya. Tuhan mengamati saat kita beristirahat dalam lelah, dan Dia memperhatikan saat kita duduk merenungkan beban hidup.
Daud bahkan menambahkan, sebelum sepatah kata pun keluar dari lidah, Tuhan sudah tahu semuanya.
Allah tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi Dia sudah mengerti maksud, kerinduan, dan rasa sakit di balik kata-kata yang bahkan belum sanggup kita formulasikan dalam bahasa manusia.
Tuhan mengenal kita melampaui kita mengenal diri kita sendiri. Di hadapan Allah, tidak ada topeng yang bisa dipakai.
Tidak ada ruang rahasia yang bisa dikunci. Semuanya telanjang di mata-Nya.
Namun Keajiban Allah yang maha tahu ini, tidak berjalan begitu saja, tetapi itu juga dibalut oleh kehadiran-Nya yang konstan di semua musim hidup kita.
Daud berkata: jika ia naik ke langit : Langit mewakili musim-musim kehidupan saat kita berada di atas—saat semuanya sukses, bahagia, dan penuh tawa – Allah di sana.
Selanjutnya, jika ia menaruh tempat tidurnya di dunia orang mati (Sheol) : dunia orang mati mewakili titik terendah dalam hidup kita atau lembah kekelaman, kegagalan, depresi, dan kedukaan yang pekat – Allah pun ada di sana.
Bahkan jika ia terbang dengan sayap fajar dan diam di ujung laut : ujung laut melambangkan ketidakpastian masa yang akan datang, sebuah cerita yang tidak kita ketahui dan asing – disitu pula tangan Tuhan tetap menuntun dan memegang kendalinya.
Dalam situasi apa pun, di musim hidup mana pun kita berada saat ini, ketahuilah bahwa Allah hadir. Dia tidak pernah absen.
Daud menyadari betapa herannya Allah bekerja dalam hidupnya. Ajaib, tidak terkatakan dan tidak dapat dilukiskan betapa hebatnya Allah dalam merajut dan menjaga hidupnya sedemikian rupa.
Dan seharusnya, kekaguman yang sama juga mencengkeram hati kita hari ini.
Saudaraku, dunia ini sering kali begitu kejam. Dunia hanya mengenal kita dari keputusan-keputusan yang kita buat.
Sering kali, dunia menghakimi dan memberi kita label hanya dari satu kesalahan atau dari satu kejadian buruk di masa lalu kita.
Ketika kita gagal, dunia berbalik arah. Namun tidak demikian dengan Allah.
Dia tahu segalanya. Dia tahu motif hati yang terdalam. Dia tahu pikiran-pikiran kita yang kacau, yang bahkan tidak dapat dipahami oleh orang-orang terdekat.
Allah tahu kesedihan kita dan mengerti bahasa air mata. Ketika kita menangis di dalam kamar yang terkunci tanpa bisa menjelaskan apa yang kita rasakan kepada siapa pun, air mata itu adalah sebuah bahasa yang fasih di hadapan takhta Allah.
Dia menghitung setiap tetesnya. Namun bukan hanya Allah tahu, Dia juga adalah Allah yang berjanji yang akan terus hadir, dan berjalan di samping kita, Ia memegang tangan kita erat saat menghadapi derasnya badai dan pergumulan kehidupan.
Kita tidak sedang berjalan sendirian menembus kabut ketidakpastian. Dia yang telah membentuk, menenun, dan mengenal sejak kita masih bakal anak, Dia juga punya rancangan terbaik untuk masa depan kita.
Saudara, tahukah kita bahwa hidup ini bagaikan hidup ini seperti selembar kain rajutan sulaman yang besar.
Jika hari ini kita melihat hidup ini dari bawah, kita mungkin hanya akan melihat benang-benang yang saling silang dengan tidak beraturan.
Kita melihat potongan-potongan benang yang digunting kasar, simpul-simpul mati yang tampak jelek, dan warna-warni gelap kedukaan yang seolah-olah merusak keindahan.
Kita sering kali menangis melihat sisi bawah kain ini, mengira bahwa hidup kita telah hancur dan berantakan.
Namun ketahuilah, di atas sana, Sang Penenun Agung—Allah kita yang Mahatahu—sedang melihat kain yang sama dari sisi atas.
Tangan-Nya yang penuh kasih tidak pernah keliru mengambil warna benang. Dia tahu persis mengapa Dia harus menyanyat hati kita dengan benang hitam kedukaan dan kesedihan, karena Dia tahu benang itu akan membuat benang emas kebahagiaan bersinar jauh lebih gemerlap nantinya.
Dia sedang merajut sebuah mahakarya yang indah dari hidup kita.
Ketika kelak rajutan itu selesai, kita akan melihat bahwa tidak ada satu pun benang kusut yang sia-sia.
Maka saat ini taruhlah hidupmu di atas janji-Nya. Dia tahu, Dia mengerti, dan tangan-Nya yang menenunmu, adalah tangan yang sama yang sedang memegangmu hari ini yang akan membawamu pada hari depan penuh harapan.
Amin.












