Artikel
VICTOR MAILANGKAY, POLITISI YANG MENJALANI ZAMANNYA

Catatan tentang panjangnya jalan, ketekunan dan jejak seorang politisi Sulawesi Utara
Oleh : Reymoond ‘Kex’ Mudami
Di balik viral pernyataan pengunduran diri dari partai Nasdem, kiprah panjang sosok Johannes Victor Mailangkay layak dicermati di tengah riuh landscape peta politik Sulut
Ia buah perjalanan politik begitu panjang, sehingga dirinya tidak cukup dibaca hanya dari warna partai yang sedang dikenakannya.
Karena itu, ketika hari ini publik Sulawesi Utara kembali ramai membicarakan namanya setelah ia menyatakan mundur dari Partai NasDem, rasanya terlalu sederhana jika Victor hanya dibaca dari satu surat bertanggal 29 September 2026.
Surat itu memang penting.
Tetapi ia hanyalah satu halaman dari buku yang jauh lebih tebal.
Victor menyatakan pengunduran dirinya dari NasDem terhitung 29 September 2026. Surat tersebut diserahkan langsung kepada Ketua Umum NasDem Surya Paloh di NasDem Tower, Jakarta. Dalam surat itu Victor menyebut ia tidak lagi dapat mengikuti “irama dan cara kerja” Felly Estelita Runtuwene dan menyatakan keputusan tersebut dibuat dengan kesadaran serta tanpa paksaan.
Kita boleh membaca peristiwa itu sebagai dinamika politik.
Tetapi seorang Victor Mailangkay tidak dimulai pada 29 September 2026.
Jalannya jauh lebih panjang.
Dari ruang akademik menuju panggung politik
Victor lahir di Makassar, 20 September 1957. Pendidikan tingginya membawa dia ke Universitas Sam Ratulangi dan kemudian Universitas Hasanuddin, tempat ia meraih gelar doktor. Profil Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mencatat pendidikan Unsrat pada 1983 dan 2004 serta Universitas Hasanuddin pada 2012.
Tetapi yang menarik dari perjalanan Victor bukan semata gelar akademiknya.
Ia tumbuh melalui berbagai ruang.
Hukum.
Kampus.
Organisasi.
Kepemudaan.
Parlemen.
Partai politik.
Dan akhirnya pemerintahan daerah.
Jalan semacam ini membuat seseorang tidak hanya belajar politik dari buku, tetapi juga dari perjumpaan langsung dengan manusia, kepentingan, institusi dan perubahan zaman.
Riwayat yang dihimpun mencatat keterlibatan politik Victor bersama Golkar sejak dekade 1980-an. Ia pernah menjadi Wakil Sekretaris Partai Golkar Sulut pada 1984–1988 dan kemudian Wakil Ketua DPD Golkar Sulut pada 2009–2015. Ia juga pernah duduk di DPRD Kota Manado dan DPRD Sulawesi Utara.
Artinya, ketika nama Victor hari ini muncul dalam percakapan politik, sesungguhnya publik sedang berhadapan dengan seseorang yang telah melewati lebih dari empat dekade perjalanan politik.
Itu bukan waktu yang pendek.
Sembilan pemilu dan tujuh kali duduk di parlemen
Ada satu angka dalam perjalanan Victor yang menarik untuk dicatat. Bahwa Victor mengaku telah mengikuti sembilan pemilu, dengan tujuh kali berhasil masuk parlemen dan dua kali tidak berhasil.
Angka itu memberi gambaran yang lebih jernih daripada sekadar menyebut seseorang sebagai “politisi senior”.
Sebab politik elektoral memiliki hukum yang sederhana tetapi keras:
tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan.
Ada masa ketika seorang politisi mendapatkan mandat.
Ada masa ketika mandat itu harus diperjuangkan kembali.
Ada masa ketika ia menang.
Ada pula ketika ia harus menerima kenyataan politik.
Di situlah pengalaman biasanya ditempa.
Victor melewati siklus itu berkali-kali.
Ia pernah berada di DPRD Kota Manado, kemudian DPRD Sulawesi Utara, bahkan pernah menduduki posisi Wakil Ketua DPRD Sulut. Setelah perjalanan panjang itu, ia masuk ke Partai NasDem dan pada 25 Maret 2022 dilantik sebagai Ketua DPW NasDem Sulawesi Utara.
Maka NasDem pun menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan panjangnya.
Tetapi bukan bab pertama.
Dan, setelah surat 29 September itu, ternyata juga bukan bab terakhir dari kehidupannya di ruang publik.
Dari partai ke pemerintahan
Pada Pilkada Sulawesi Utara 2024, Victor maju sebagai calon wakil gubernur mendampingi Yulius Selvanus Komaling. Pasangan tersebut kemudian dilantik pada 20 Februari 2025 untuk memimpin Sulawesi Utara periode 2025–2030.
Di titik itu, perjalanan Victor memasuki ruang yang berbeda.
Dari memperjuangkan suara politik, ia masuk ke wilayah menjalankan pemerintahan.
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Politik membutuhkan dukungan.
Pemerintahan membutuhkan pelayanan.
Politik berbicara tentang mandat.
Pemerintahan berbicara tentang tanggung jawab.
Dan seorang wakil gubernur harus hidup di antara keduanya.
Menariknya, bahkan setelah menjadi pejabat pemerintahan, ruang sosial Victor tidak berhenti pada pemerintahan dan partai.
Pada Agustus 2026, ia terpilih memimpin Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum Unsrat periode 2026–2029.
Sebelumnya, ruang organisasi lainnya juga menjadi bagian dari kehidupannya.
Dengan kata lain, identitas Victor di ruang publik tidak berhenti pada satu kartu anggota partai.
Politisi yang ditempa oleh perjalanan
Di sinilah saya kira kita perlu membaca Victor dengan lebih tenang.
Politisi yang sudah menjalani perjalanan panjang biasanya tidak lagi hanya memiliki pengalaman menang-kalah dalam pemilu.
Ia membawa arsip manusia.
Orang-orang yang pernah ditemuinya.
Kawan-kawan yang pernah berjalan bersamanya.
Lawan-lawan politik yang pernah berhadapan dengannya.
Organisasi yang pernah dipercayakan kepadanya.
Lembaga yang pernah menjadi tempat pengabdiannya.
Dan tentu saja, keputusan-keputusan politik yang pernah dibuatnya.
Semua itu membentuk seseorang.
Karena itu, ketika sebuah rumah politik tidak lagi menjadi tempat yang sama, pertanyaan yang lebih besar bukan hanya:
“Ke mana Victor akan pergi?”
Tetapi juga:
“Apa yang telah dibentuk oleh perjalanan panjang itu dalam dirinya?”
Saya kira pertanyaan kedua jauh lebih menarik.
Sebab pindah rumah politik bukan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia.
Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana seorang politisi membawa pengalaman, relasi sosial, pengetahuan, dan jejak pengabdiannya dari satu zaman ke zaman berikutnya.
Victor dan kemampuan bertahan melewati perubahan
Ada satu hal yang secara faktual sulit diabaikan dari perjalanan Victor:
ia telah melewati banyak perubahan konfigurasi politik.
Dari era Golkar pada masa awal kariernya.
Kemudian perjalanan panjang di parlemen.
Lalu masuk ke NasDem.
Menjadi Ketua DPW.
Maju sebagai calon wakil gubernur.
Menjadi Wakil Gubernur.
Dan kini, pada September 2026, memilih keluar dari partai yang sebelumnya ia pimpin di tingkat provinsi.
Setiap fase memiliki konteks zamannya sendiri.
Setiap perpindahan memiliki konsekuensinya sendiri.
Dan setiap keputusan politik akan meninggalkan catatan yang kelak dibaca dengan jarak waktu yang berbeda.
Karena itu saya kira tidak adil jika seluruh perjalanan Victor diringkas hanya dengan satu keputusan politik hari ini.
Begitu juga tidak tepat jika seluruh keputusan politiknya dianggap otomatis membenarkan atau menyalahkan pihak tertentu.
Biarlah peristiwa itu berada pada tempatnya.
Sementara perjalanan panjangnya kita baca sebagai perjalanan panjang.
Yang menarik dari Victor justru bukan seragamnya
Dalam politik, warna sering kali menjadi penanda.
Merah.
Biru.
NasDem.
Golkar.
Atau warna-warna lain.
Tetapi manusia politik sesungguhnya lebih kompleks daripada warna yang melekat pada jasnya.
Victor sudah melewati beberapa warna politik.
Dan dari setiap fase itu ada pengalaman yang ikut membentuknya.
Maka saya lebih tertarik melihat Victor bukan dari seragam politik yang sedang atau pernah dikenakannya, melainkan dari jejak perjalanan yang ditinggalkannya di setiap ruang.
Di parlemen ada rekamannya.
Di organisasi ada orang-orang yang mengenalnya.
Di kampus ada almamater yang kembali mempercayakan kepemimpinan alumni kepadanya.
Di pemerintahan kini ada mandat baru yang sedang dijalaninya.
Dan dalam politik Sulawesi Utara, namanya telah menjadi bagian dari perjalanan beberapa generasi.
Itulah sebabnya, bagi saya, Victor Mailangkay tidak cukup disebut sebagai “orang NasDem”.
NasDem adalah salah satu bab.
Tetapi Victor adalah keseluruhan bukunya.
Politik akan berganti, jejak akan menetap
Ada sesuatu yang selalu menarik dalam politik.
Partai dapat berganti.
Jabatan dapat berakhir.
Pengurus dapat berganti.
Koalisi dapat berubah.
Bahkan kawan seperjalanan politik pun bisa mengambil jalan yang berbeda.
Tetapi pengalaman tidak ikut mengundurkan diri.
Ia menetap di dalam diri seseorang.
Dan barangkali di situlah letak makna terdalam dari perjalanan seorang politisi senior.
Bukan pada berapa banyak jabatan yang pernah diduduki.
Bukan pula pada berapa kali seseorang memenangkan pertarungan.
Tetapi pada seberapa panjang ia mampu menjalani perubahan zaman tanpa kehilangan kemampuan untuk terus hadir dalam ruang pengabdian.
Victor kini berada pada satu persimpangan baru.
Surat pengunduran diri dari NasDem telah menjadi fakta politik per 29 September 2026. Tetapi mengenai ke mana arah politik berikutnya, belum ada keputusan resmi yang dapat kita jadikan kesimpulan. Sejumlah pemberitaan juga masih menempatkan arah politik berikutnya sebagai sesuatu yang belum dikonfirmasi.
Maka tidak perlu kita mendahului sejarah.
Biarkan Victor sendiri yang menentukan halaman berikutnya.
Sebab perjalanan belum selesai
Mungkin suatu hari nanti, ketika jarak waktu sudah membuat suasana politik hari ini menjadi lebih dingin, orang tidak lagi terlalu sibuk mengingat pada tanggal berapa Victor Mailangkay meninggalkan sebuah partai.
Orang akan mulai melihat sesuatu yang lebih panjang.
Bahwa ada seorang anak muda yang masuk ke dunia organisasi dan politik sejak dekade 1980-an.
Bahwa ia pernah berkali-kali bertarung dalam pemilu.
Bahwa ia pernah gagal.
Bahwa ia juga berkali-kali mendapatkan mandat.
Bahwa ia pernah berada di parlemen.
Bahwa ia pernah memimpin partai di tingkat provinsi.
Bahwa kemudian ia dipercaya menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Utara.
Dan bahwa pada satu titik dalam perjalanan itu, ia memilih menutup satu bab dan membuka ruang bagi bab berikutnya.
Itulah perjalanan seorang politisi.
Tidak selalu lurus.
Tidak selalu mudah.
Tidak selalu berakhir seperti yang direncanakan.
Tetapi justru karena itulah ia menjadi manusiawi.
Dan mungkin kalimat paling sederhana untuk menutup catatan ini adalah:
Partai boleh menjadi rumah politik pada suatu masa. Jabatan boleh menjadi amanah pada suatu waktu. Tetapi perjalanan seorang manusia jauh lebih panjang daripada usia sebuah rumah dan lebih panjang daripada masa sebuah jabatan.
Victor Mailangkay sedang menjalani zamannya.
Apa yang akan menjadi warisan dari perjalanan itu, biarlah waktu yang menyusunnya.
Sebab politik boleh berganti warna. Tetapi jejak, selalu meninggalkan cerita.
















