Connect with us

Religi

Melayani Sang Raja Semesta

Redaksi

Published

pada

5ab43cdc 2dc7 40ad 968d cd8216451a18

Nats Alkitab : 1 Timotius 3:1-13

Pdt Lucy Abe Gerret

Bapak ibu saudara yang diberkati Tuhan,

Tahukan kita Pada tahun 1965, Singapura adalah sebuah pulau kecil yang miskin, rawa-rawa tanpa sumber daya alam, dan penuh dengan konflik sosial. Banyak pihak meragukan pulau ini bisa bertahan hidup.

Namun, sejarah mencatat perubahan luar biasa. Hari ini, tempat itu menjadi salah satu pusat ekonomi, keuangan, dan teknologi paling maju dan paling bersih di dunia. Apa kunci utama di balik kemajuan raksasa ini?

Kuncinya bukan terletak pada modal uang yang melimpah pada awalnya, melainkan pada karakter dan integritas pemimpinnya, salah satu yang berperan penting dalam kemajuan negara Singapura adalah Lee Kuan Yew yang tentu dibantu oleh kabinetnya.

Beliau memimpin dengan disiplin tinggi, menolak keras korupsi, mengambil keputusan sulit demi kepentingan jangka panjang, dan menjadi teladan nyata.

Saudara, dunia saja tahu bahwa untuk membawa kemajuan dan kestabilan pada sebuah bangsa atau organisasi, dibutuhkan pemimpin dengan integritas karakter batin yang sangat kuat. Terlebih lagi di dalam Gereja-Nya, Jemaat Allah.

Tuhan sangat peduli terhadap kualitas karakter orang-orang yang menggembalakan dan melayani umat-Nya. Oleh sebab itu, melalui Rasul Paulus dalam 1 Timotius 3:1-13, Tuhan menetapkan standar moral dan rohani yang sangat jelas bagi para pelayan-Nya—baik Penatua (Penilik) maupun Diaken.

Seorang hamba Tuhan harus memiliki Integritas Diri dan Kehidupan Pribadi yang tak bercacat yaitu yang hidupnya bersih dari sandungan moral yang merusak reputasi pelayanan ; ia juga harus bijaksana & sopan yaitu mampu menahan diri, memiliki emosi yang stabil, ramah (pendamai), dan tidak pemarah ; bukan seorang hamba uang dimana pelayanannya murni, jujur, serta tidak serakah mencari keuntungan ; dan ia juga harus cakap mengajar yaitu dengan cara rajin belajar Firman untuk memberikan pengajaran yang sehat kepada jemaat.

Kehidupan keluarga seorang hamba Tuhan juga harus diperhitungkan dimana ia haruslah suami satu istri yang menandakan bahwa ia memiliki kesetiaan yang utuh dalam pernikahan dan menjaga kekudusan rumah tangga ; ia juga haruslah menjadi kepala keluarga baik yang mampu mendidik anak-anak dengan baik.

Tetapi keluarganya seorang pelayan Tuhan pun terpanggil untuk memiliki karakter yang baik sebab pelayanan tidak bisa dipisahkan dari dukungan lingkar terdekat. Istri para diaken haruslah seorang yang terhormat, mampu menjaga martabat, bukan pemfitnah – tidak menyebarkan berita tanpa bukti, dapat menahan diri, dan Teliti/Setia dalam segala hal. Keluarga para hamba Tuhan haruslah keluarga  yang dihormati dan disegani.

Saudara, Mendengar semua syarat yang begitu tinggi ini, kita mungkin akan gemetar dan merasa tidak layak. Namun, diatas segala sesuatunya ingatlah Tuhan tidak mencari orang yang sempurna tanpa cela sejak awal.

Tidak ada manusia yang sempurna. Syarat-syarat ini adalah arah kompas, sebuah tujuan, dan standar karakter yang Tuhan inginkan untuk kita perjuangkan. Tuhan mencari orang yang mau berusaha—orang yang sadar akan kelemahannya, namun mau menundukkan diri untuk dibentuk, diuji (ay.10), dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

Tuhan tidak memanggil orang yang sudah mampu, tetapi Ia memampukan setiap orang yang bersedia dan mau berjuang menghidupi firman-Nya. Mengapa kita harus terus berusaha menghidupi standar yang berat ini? Jawabannya sederhana: Karena pelayanan ini adalah sebuah kehormatan yang terlalu besar untuk kita sia-siakan.

Saudara, mari bayangkan seorang pemilik perusahaan kontraktor terbesar dan paling kaya di jagat raya sedang merancang proyek paling berharga dalam hidupnya—sebuah Mahakarya Agung yang sangat ia cintai dan sangat penting bagi nama baiknya.

Dia memiliki modal tak terbatas dan teknologi tercanggih untuk membangunnya sendirian dalam sekejap tanpa cacat. Dia sama sekali tidak membutuhkan bantuan. Namun, Sang Kontraktor Agung ini justru berjalan ke pinggir jalan, memanggil kita—orang-orang awam yang tangannya kasar, amatir, sering teledor, dan penuh keterbatasan.

Dia menunjuk kita dan berkata, “Mari, ikut ambil bagian. Kerjakan bagian ini bersama Saya.” Apakah dia memanggil kita karena dia butuh tenaga kita? Tidak! Apakah karena kepintaran atau kekuatan kita? Sama sekali tidak! Jika Tuhan mau, Ia bahkan bisa memakai batu-batu di jalanan untuk berseru dan melakukan pekerjaan-Nya (Lukas 19:40).

Kita, pekerja awam ini, hanya dipanggil untuk menerima sebuah kehormatan besar dan kepercayaan yang luar biasa. Pelayanan bagi Tuhan itu sangat penting, karena melalui pelayanan itulah Ia menyatakan bahwa Ia mempercayai kita untuk bekerja bagi Kerajaan-Nya.

Oleh karena itu, bagi kita semua, Jangan pernah memandang remeh pekerjaan Tuhan! Jangan pernah kita melayani dengan bersungut-sungut seolah-olah pelayanan ini adalah beban yang melelahkan. Tetapi juga jangan pernah melayani dengan kesombongan seolah-olah gereja tidak bisa berjalan tanpa kita.

Ingatlah, Tuhan sama sekali tidak beruntung memiliki kita. Kitalah—Anda dan saya—yang teramat sangat beruntung, diberkati, dan terhormat karena telah dipilih serta dipercaya oleh Sang Raja Semesta Alam.

Standar yang Tuhan berikan dalam 1 Timotius 3 memang berat, tetapi Tuhan tidak pernah menuntut kita menjadi sempurna dalam semalam. Yang Tuhan mau hanyalah  hati yang mau berjuang dan tidak pernah menyerah untuk dibentuk. Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */