Connect with us

Tomohon

Pertamina PGE Lahendong Perkuat Konservasi Biodiversitas

Lindungi Satwa Endemik Yaki dan Kembangkan Agroforestri Aren Berbasis Panas Bumi

Yaziin Solichin

Published

pada

698fc838 c705 4549 8f63 77ba23b48974

TOMOHON,mediakontras.com. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong, Sulawesi Utara, terus memperkuat komitmennya dalam konservasi keanekaragaman hayati. Melalui serangkaian program inisiatif, perusahaan tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa endemik Yaki (Macaca nigra), tetapi juga mengembangkan agroforestri aren yang memadukan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Yaki, yang merupakan monyet endemik Sulawesi dengan status Critically Endangered (CR) atau terancam punah, menjadi perhatian utama dalam program konservasi PGE Area Lahendong.

Berdasarkan hasil survei dan pengamatan lapangan, tercatat keberadaan sembilan individu Yaki yang saat ini tengah menjalani tahap habituasi di Hutan Rurukan sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Upaya perlindungan satwa dilindungi ini juga diwujudkan melalui program “Lestari Manimpang: Dengan ‘Mapalus’ Torang Lestarikan dan Lindungi Monyet Yaki”.

Data dari program tersebut mencatat keberadaan lima individu Yaki di area seluas sekitar 6,94 hektare, menandakan bahwa ekosistem di sekitar wilayah operasi masih menjadi habitat yang layak bagi satwa primata tersebut.

Selain perlindungan fauna, PGE Area Lahendong mengembangkan program “SEGARIS PELANGI” – Strategi Pengembangan Industri Gula Aren Berbasis Agroforestri dan Pemanfaatan Langsung Panas Bumi.

Program ini mengembangkan tanaman aren dengan pendekatan agroforestri, yang tetap mempertahankan naungan serta vegetasi alami hutan. Dengan demikian, pemanfaatan lahan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.

Berdasarkan data Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan (DRKPL), program SEGARIS PELANGI telah mencatat penanaman 789 individu tanaman aren pada area seluas 6,7 hektare.

Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat melalui produksi gula aren, tanpa mengorbankan fungsi ekologis hutan.

General Manager PGE Area Lahendong, Yanuaris Dwi Cahyono, menegaskan bahwa strategi konservasi di wilayah operasi selalu disesuaikan dengan kondisi ekosistem setempat serta melibatkan partisipasi multi-pihak.

“Konservasi di wilayah Lahendong kami lakukan dengan melihat kondisi lingkungan dan potensi yang ada di sekitar wilayah operasi. Kami terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak agar upaya perlindungan ekosistem dan satwa dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Yanuaris.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menekankan pentingnya keseimbangan antara pengembangan energi panas bumi dengan aspek perlindungan lingkungan dan sosial.

“Pengembangan panas bumi perlu melihat konteks ekologis dan sosial di setiap wilayah operasi. Bagi PGE, keberlanjutan merupakan bagian dari bagaimana kami menjalankan operasional dan mengembangkan potensi panas bumi dengan tetap memperhatikan perlindungan keanekaragaman hayati serta manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” kata Ahmad Yani.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PGE Area Lahendong terus mendorong upaya konservasi yang adaptif dengan karakteristik wilayah operasi, mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, keterlibatan masyarakat, serta pengembangan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Tentang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi.

Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terbagi atas 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.

Sebagai world class green energy company, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060. PGE memiliki kredensial ESG yang sangat baik, dengan 20 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. PGE juga termasuk perusahaan dengan risiko ESG sangat rendah, yang menempatkannya sebagai peringkat 1 dari 679 perusahaan di Sektor Utilitas Global pada Sustainalytics ESG Risk Rating.(*/M.yaziin Solichin)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */