Olahraga
AKSI ‘Preman’ Pelatih Bola Volly SMANTU, Dikecam Pengurus PBVSI Sulut

MANADO, mediakontras.com – Aksi tidak terpuji diduga dilakukan oleh pelatih SMANTU Manado, AL alias Andika, dalam kejuaraan Smansa Cup 2026 langsung mendapat kecaman keras dari pengurus Provinsi PBVSI Sulawesi Utara.
Insiden tersebut mencuat setelah sebuah unggahan video yang memperlihatkan aksi yang dicap sebagai “aksi preman” itu beredar dan telah dibagikan di grup WhatsApp Pengurus Provinsi PBVSI Sulut.
Dalam potongan video tersebut,diduga Andika terlihat melakukan aksi pemukulan terhadap Lessman.
Komentar pun mengalir dari para pengurus. Menurut salah satu panitia keamanan yang tidak ingin namanya dipublikasikan, menilai kalau tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.
“Hal ini tidak dibenarkan jika seorang pelatih sampai melakukan pemukulan,” ujarnya, Sabtu (19/9/26).
Panitia tersebut mengungkapkan bahwa dirinya berada di lokasi kejadian dan langsung mendapatkan laporan setelah pertandingan selesai.
Laporan tersebut berupa kiriman video dari salah satu wasit atau pengawas pertandingan.
“Malam itu juga saya langsung membuat berita acara. Salah satu rekomendasinya nanti wasit yang memimpin dan dewan hakim yang ada pada saat itu menyampaikan kepada pengurus PBVSI Sulawesi Utara. Jadi berita acaranya tadi malam sudah dibuat, saya sudah tanda tangan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya memiliki komitmen untuk meluruskan permasalahan yang ada tanpa ada pembiaran, meskipun pelaku adalah rekan atau teman.
“Hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi. Dari komitmen pertama kita ditunjuk sebagai hukum, saya punya niat meluruskan semua permasalahan-permasalahan yang ada. Dalam hal ini tidak boleh ada pembiaran. Kita boleh kawan, kita boleh teman, tapi aturan harus ditegakkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan aturan yang dipelajari, tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat bagi seorang pelatih.
Rekomendasi awal bahkan mengarah pada diskualifikasi terhadap klub atau tim yang bertanding saat itu.
“Setelah saya mempelajari aturan, ternyata ini merupakan pelanggaran berat bagi seorang pelatih. Rekomendasinya pada saat itu sebenarnya bisa mengarah ke diskualifikasi terhadap klub atau tim yang bertanding. Namun situasinya, saya menerima laporan setelah pertandingan itu selesai, dan dalam kurun waktu kurang dari 2 jam berita acara itu saya sudah buat. Hal ini sudah saya sampaikan langsung kepada Ketua Umum Kota Manado yang kebetulan menutup turnamen Smansa Cup,” ungkapnya.
Sementara itu, mantan atlet bola voli Sulut Fredy Ransoen ketika dimintai tanggapan menyoroti insiden ini dari sisi etika dan karakter.
Menurutnya, persoalan ini bukan tentang suka atau tidak suka, melainkan tentang penguasaan diri.
“Ini bukan masalah senang tidak senang (keberpihakan). Ini masalah etika dan karakter serta penguasaan diri. Ada hal-hal yang tidak baik dan tidak pantas, sehingga wajar untuk diingatkan atau ditegur. Kalau dianggap bisa menimbulkan hal-hal yang tidak baik di kemudian hari, bisa diberikan sanksi, apalagi jika kejadiannya berulang,” ujar Fredy Ransoen.
Menurutnya, kejadian seperti yang terekam dalam video tersebut bisa menjadi pemicu keributan.
Senada dengan itu, Richard Steven Tataung, mengingatkan kembali pesan seorang pendidik kepelatihan yang ia terima pada tahun 2017 di Tondano.
“Setau saya waktu diajarkan pelatih waktu tahun 2017 di Tondano, oleh pendidik kepelatihan, masih tertanam sampai sekarang: ‘Bola boleh keras saat di-smash, namun kepala dan hati kita harus tetap dingin. Tunjukkan bahwa kita adalah pelatih yang besar karena bisa menguasai diri (Gugi Gustaman)’,” kenangnya.
Namun, Richard juga mengakui bahwa dalam konteks pertandingan, kadangkala seorang pelatih tidak bisa mengontrol diri dan emosi saat keadaan kritis terjadi. Meski demikian, ia menekankan prinsip “Salah ya Salah, Benar ya Benar.”
“Oleh sebab akibat yang terjadi, Salah ya Salah, Benar ya Benar. Namun sebelum itu, bisakah kita lakukan mediasi untuk mempertanyakan sebab akibat kejadian ini bisa terjadi? Kalau itupun sesuai regulasi PBVSI menyatakan hal ini salah, torang bacarita dari hati ke hati, antara pengurus, pelaku dan korban, biar ada kata maaf dan tidak akan mengulang kembali,” jelasnya.
Richard menutup komentarnya dengan pesan damai. “Turnamen akan selesai, piala akan berdebu, tapi persaudaraan akan tetap abadi karena kesalahan kemarin adalah pelajaran, maaf hari ini dan kemudian hari adalah sumber kekuatan.”
Disisi lain Pelatih Kepala Bright Jos Elektrik Sulut yang juga menjabat sebagai Sekum PBVSI Sulut, Joko Susanto, ikut pula memberikan pandangannya.
“Semangat itu penting tapi jangan over, karena lawan terberat kita bukan orang lain tapi diri kita sendiri, dan belajar menghargai orang yang menjalankan tugas dan tanggung jawab,” ujarnya.
Terpisah pihak panitia penyelenggara ikut pula menyatakan kekecewaannya terhadap ulah pelatih SMANTU tersebut.
Mereka menilai aksi pelatih AL alias Andika telah mempermalukan siswa.
“Jelas-jelas mempermalukan siswa dengan aksi diluar kewajaran,” ujar salah satu panitia kepada mediakontras.com.
Karena itu, ia berharap agar Ketua PBVSI Manado Kombes Pol. Irham Halid, S.I.K. yang juga menjabat sebagai Kapolres Manado dapat mengambil tindakan tegas terkait insiden ini.(*)
















