Connect with us

Religi

BUKAN RACUN TAPI MADU

Redaksi

Published

pada

32cf6dc2 f2b9 4be8 add5 a5a78a90b2fa

Nats Alkitab : Amsal 16:24

Pdt Lucy Abe Gerret

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan,

Pada tahun 1938, seorang pria muda asal Inggris bernama Nicholas Winton membatalkan liburan musim dinginnya demi pergi ke Praha. Di sana, ia melihat ribuan anak-anak pengungsi yang terancam oleh kekejaman perang.

Tersentuh oleh belas kasihan, ia bekerja keras secara rahasia untuk menyelamatkan 669 anak-anak tersebut, mencarikan mereka orang tua asuh di Inggris, dan mengirim mereka lewat kereta api sebelum perang pecah.

Setelah perang usai, Nicholas tidak pernah menceritakan aksi heroik ini kepada siapa pun, bahkan kepada istrinya sendiri. Kisah ini tersimpan rapat di loteng rumahnya selama 50 tahun. Hingga pada tahun 1988, sebuah acara televisi BBC bernama That’s Life mengundangnya sebagai tamu.

Di tengah acara, pembawa acara mulai menceritakan kisah penyelamatan anak-anak Praha tersebut dan membuka buku catatan Nicholas yang ditemukan istrinya. Pembawa acara itu kemudian berkata, “Apakah ada di antara penonton malam ini yang berutang nyawa kepada Nicholas Winton? Jika ada, silakan berdiri.”

Seketika itu juga, puluhan orang dewasa yang duduk di sekeliling Nicholas berdiri. Mereka adalah anak-anak yang ia selamatkan 50 tahun lalu. Nicholas Winton terkejut, air matanya berlinang. Namun, momen paling indah adalah ketika orang-orang yang berdiri itu mulai membungkuk, memeluknya, dan membisikkan kata-kata, “Terima kasih… Terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk hidup.”

Kata-kata terima kasih dan apresiasi yang tulus malam itu, yang didengar langsung oleh Nicholas di masa tuanya, meruntuhkan seluruh dinding emosinya. Kata-kata itu memberikan kebahagiaan luar biasa yang menghapus semua keletihan masa lalunya.

Saudara, ternyata kata-kata yang tepat di momen yang pas adalah kekuatan dan kebahagian bagi jiwa seseorang. Jangan anggap remeh soal kata-kata. Karenanya kata-kata anak-anak Tuhan hendaknya membangun, menyembuhkan, memberi semangat, dan membawa kebahagiaan, seperti yang Salomo sampaikan melalui Amsal 16:24 ini.

Raja Salomo menulis: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi jiwa dan obat bagi tulang-tulang.”

Mengapa Salomo secara spesifik mengambil contoh madu untuk menggambarkan perkataan? Pada zaman kuno, madu bukan sekadar pemanis makanan karena gula tebu belum ditemukan. Madu adalah komoditas mewah yang memiliki dua fungsi utama.

Pertama, sebagai sumber energi instan yang menyegarkan tubuh yang lelah, dan kedua – sebagai obat atau antiseptik alami untuk menyembuhkan luka dan peradangan. Dengan menyamakan perkataan dengan madu, Salomo ingin menegaskan bahwa ucapan kita seharusnya tidak hanya enak didengar, tetapi juga memiliki kuasa medis rohani yang mampu memulihkan kekuatan orang yang hancur hati.

Sehingga, sebagai orang percaya kita dituntun untuk dapat memilih kata- kata yang menyenangkan yakni kata-kata yang ramah, penuh rahmat, dan lahir dari hati yang murni. Kita dinasehati untuk sengaja memilih kata yang membangun, bukan yang menjatuhkan.

Seringkali kita berkata, “Saya kan orangnya ceplas-ceplos, yang penting jujur!” Namun Alkitab mengingatkan, kejujuran tanpa kasih adalah kekejaman. Selain itu, kata-kata kita juga harus menjadi obat bagi tulang. Dalam antropologi Ibrani, “tulang” melambangkan fondasi fisik dan kekuatan hidup seseorang.

Ketika seseorang dikritik habis-habisan, dihina, atau ditolak, maka tulang-tulangnya menjadi lemah—artinya mereka kehilangan gairah hidup. Kerenanya kita harus menjadikan lidah kita sebagai “apotek rohani”. Saat melihat sesama yang jatuh, berikan perkataan yang menyembuhkan luka mereka, bukan yang menaburkan garam di atas luka tersebut.

Saudara, hari ini kita hidup di dunia di mana media sosial merajalela. Setiap orang diberikan panggung gratis dan kebebasan mutlak untuk mengatakan apa saja di dunia maya. Di era digital ini, mulut kita telah diwakili oleh jari-jari kita.

Melalui keyboard smartphone, manusia bisa dengan sangat mudah mengetik komentar jahat, menyebarkan gosip, melakukan perundungan (cyberbullying), dan menghakimi sesama di kolom komentar tanpa memikirkan dampaknya. Ingatlah, meskipun mulut kita diam, ketikan jari-jari kita di media sosial memiliki dampak yang sama mematikannya dengan ucapan langsung. Karena itu, jagalah kata-katamu.

Sebelum Anda menekan tombol ‘send’ atau ‘post’, pastikan apakah kata-kata yang Anda ketik itu membangun, menyembuhkan, memberi semangat, dan membawa kebahagiaan.

Ada ungkapan manis yang mengatakan bahwa : Orang mungkin akan lupa baju apa yang kita pakai hari ini. Mereka akan lupa sepatu merek apa yang kita gunakan, atau kendaraan apa yang kita kendarai. Tetapi, kata-kata yang keluar dari mulut akan diingat oleh orang lain seumur hidup mereka.

Oleh karena itu, pastikan setiap kata-katamu membawa berkat. Jadikan kata-katamu bagaikan tetesan madu yang manis, yang menghidupkan jiwa dan memulihkan sesama kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */