Connect with us

Religi

Tundukan Ego : Aku Jadi Kita

Redaksi

Published

pada

58a3ec47 03ad 4521 89d8 e859970bc015 4

Nats Alkitab : Filipi 2:3

Oleh: Pdt Lucy Abe Gerret

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari sekalian.

Pada tanggal 10 Mei 1996, sebuah tragedi memilukan terjadi di Gunung Everest. Hari itu, dua pendaki legendaris, Rob Hall dan Scott Fischer, memimpin tim mereka masing-masing menuju puncak.

Awalnya mereka sepakat untuk bekerja sama memasang tali pengaman demi keselamatan bersama. Namun di atas gunung, ego dan persaingan terselubung mulai menguasai mereka. Demi ambisi pribadi dan gengsi untuk membuktikan siapa yang paling cepat sampai ke puncak, mereka mengabaikan koordinasi tim.

Mereka tetap memaksakan diri menanjak naik meskipun waktu aman sudah habis. Sore harinya, badai salju dahsyat menghantam. Jalur evakuasi kacau, oksigen habis, dan formasi tim hancur total karena berjalan sendiri-sendiri.

Malam itu, keegoisan menghancurkan seluruh kerja sama mereka. Tragisnya, ego itu pula yang membinasakan mereka; Rob Hall dan Scott Fischer tewas membeku di Everest. Sejarah mencatat, keegoisan tidak pernah membawa kita ke puncak; keegoisan justru merusak kebersamaan dan menghancurkan diri sendiri.

Dan inilah yang ditunjukan oleh Rasul Paulus kepada jemaat yang di  Filipi melalui Filipi:2:3. Rasul Paulus menyatakan hal ini karena ia melihat adanya benih ego dan perselisihan yang sedang mengancam jemaat di Filipi.

Untuk menjaga kesatuan agar tidak hancur oleh badai perpecahan, Paulus memberikan satu nasihat utama: “…sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Paulus tidak meminta orang percaya untuk merasa tidak berharga atau membenci diri sendiri. Melainkan ia bermaksud semua anak-anak Tuhan dapat menghilangkan keangkuhan, dan berhenti merasa diri paling benar, paling hebat, atau paling penting.

Paulus mau agar setiap orag percaya, mau memberi ruang bagi sesame, yakni dengan memperhatikan kebutuhan, perasaan, dan kepentingan orang lain, bukan hanya ambisi pribadi. Dan tentu saja, hal ini hanya bisa terwujud jika anak-anak Tuhan memiliki kerendahan hati.

Sehingga, firman ini mau menegaskan bahwa kunci sukses dari sebuah kebersamaan—baik di dalam pernikahan, keluarga, pelayanan gereja, maupun tempat kerja—adalah kerelaan untuk menundukkan ego.

Kebersamaan mustahil tercipta jika setiap orang selalu ingin menonjolkan diri, ingin dipuji, dan selalu merasa paling benar. Sukses bersama hanya bisa diraih saat kita mau mematikan kesombongan pribadi dan berjalan beriringan dengan rendah hati.

Saudara, Bayangkan sebatang lidi. Jika ia berdiri sendiri, seberapa kuat pun lidi itu, kita akan dengan sangat mudah mematahkannya hanya dengan dua jari. Lidi sebatang juga tidak akan pernah bisa digunakan untuk membersihkan halaman yang kotor.

Namun, ketika ratusan lidi yang berbeda ukuran dikumpulkan menjadi satu dan diikat dengan tali yang kuat—lidi-lidi itu tidak akan bisa dipatahkan, dan justru berubah menjadi alat yang sangat berguna.

Jika kita memilih berjalan sendiri dengan keegoisan, badai dunia ini akan dengan mudah mematahkan hidup dan keluarga kita. Namun, ketika kita mau diikat oleh tali kerendahan hati, kita menjadi satu kesatuan yang tidak tergoyahkan dan siap dipakai Tuhan untuk meraih kemenangan bersama. Bersatulah di dalam kerendahan hati. Amin. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */