Religi
Lebih dari Sekadar Kata

Nats Alkitab : 1 Yohanes 3:18
Pdt Lucy Abe Gerret STh
Bapak, ibu, dan saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus.
Alkisah, ada seorang pria yang diberikan kesempatan oleh malaikat untuk mengintip situasi di surga. Pria ini membayangkan surga penuh dengan orang-orang yang bertubuh utuh, bercahaya, dan menari-nari bersukacita.
Namun, begitu pintu surga dibuka, dia terkejut luar biasa. Di dalam surga itu, tidak ada manusia yang utuh. Yang dia lihat hanyalah ribuan bibir yang melayang-layang dengan indah.
Bibir-bibir itu tampak tersenyum sangat manis, fasih menyanyikan pujian, dan sangat pandai merangkai kalimat-kalimat rohani yang luar biasa indah.
Dengan bingung, pria ini bertanya kepada malaikat, “Malaikat, mengapa surga ini isinya hanya potongan bibir saja? Di mana bagian tubuh mereka yang lain?”
Malaikat itu menarik napas dalam-dalam lalu menjawab dengan sedih, “Oh, ini adalah bibir dari orang-orang Kristen semasa mereka hidup di dunia. Ketika di bumi, mereka sangat jago berbicara tentang kasih.
Bibir mereka paling cepat mengucapkan janji manis, paling fasih berkhotbah, dan paling rajin mengetik kata-kata kepedulian di media sosial. Sayangnya, apa yang diucapkan oleh bibir itu tidak pernah sampai ke tangan mereka untuk memberi, dan tidak pernah menggerakkan kaki mereka untuk melangkah menolong sesama.
Karena seluruh hidup keagamaan mereka hanya habis di bibir tanpa pernah ada perbuatan nyata, maka ketika mereka meninggal, hanya bibir mereka saja yang sampai ke surga, sementara tubuhnya yang lain tertinggal di luar.”
Saudara, apakah kita termasuk dari orang Kristen NATO—No Action, Talk Only—banyak bicara tetapi nol tindakan? Orang Kristen yang rohani tapi hanya di bibir? pintar berteori tentang kasih, tetapi hidup kita mendadak lumpuh ketika dituntut sebuah tindakan nyata.
Sebagai orang percaya, Allah menghendaki iman kita tidak berhenti di bibir, melainkan harus turun ke tangan dan kaki dalam bentuk perbuatan. Inilah yang dijelaskan oleh Yohanes dalam bagian Firman yang kita baca. Kepada jemaat di Asia Kecil yang diserang ajaran sesat yaitu Gnostisisme, Yohanes terang-terangan menentang ajaran yang menganggap bahwa hal rohani itu hanya soal pikiran, pengetahuan, dan konsep saja, sementara tindakan fisik tidak penting. Yohanes menasehati jemaat yang pada waktu telah berubah menjadi sangat dingin; mereka jago berteori tentang Tuhan, tetapi menutup mata dan bersikap masa bodoh terhadap saudara-saudara seiman yang miskin dan kelaparan.
Dengan jelas, Yohanes mengatakan bahwa kasih Kristiani bukanlah kasih yang murahan, kasih yang hanya berhenti di bibir – di mulut saja. kasih kita tidak boleh sekadar lips service saja melainkan harus mewujud dalam tindakan riil: ketika melihat ada yang kekurangan, tangan kita bergerak memberi; ketika ada yang berduka, waktu kita luangkan untuk menghibur; dan ketika ada yang jatuh, kita hadir untuk menopang.
Kasih yang riil selalu memiliki wujud, memiliki dan dampak. kasih orang prcaya adalah kasih dalam “perbuatan” yang tentu saja didasarkan pada kebenaran Allah, bukan karena mencari pujian.
Saudara, tahukah kita bagaimana cara dunia bisa mengenal kasih Allah? Kitalah yang harus menyatakan kasih-Nya kepada dunia ini lewat kasih yang kita tunjukkan kepada orang lain.
Saat seseorang sedang mengalami kesusahan dan berdoa meminta tolong kepada Tuhan, sering kali Tuhan mau menyatakan pertolongan-Nya bukan dengan cara menurunkan malaikat dari langit, melainkan lewat kehadiran kita.
Tuhan rindu memakai hidup kita sebagai jawaban atas doa-doa orang lain yang sedang kesusahan. Karenanya, di tengah dunia yang sedang kelaparan akan kasih yang tulus ini, marilah menjadi tangan-tangan-Nya yang merangkul dan menolong mereka yang kesusahan.
Saudara, setelah Perang Dunia II ada sebuah kota kecil di Jerman. Gereja di kota itu hancur dibom, termasuk sebuah patung Yesus Kristus yang besar dari bahan marmer.
Setelah perang usai, para warga bergotong-royong membangun kembali gereja tersebut. Mereka berhasil mengumpulkan potongan-potongan patung Yesus yang hancur dan menyatukannya kembali.
Namun, ada satu masalah besar. Kedua tangan patung Yesus itu hancur total menjadi debu dan tidak bisa diselamatkan lagi. Seorang pemahat mengusulkan untuk membuat tangan baru, tetapi jemaat dan pendeta di sana menolaknya.
Mereka memutuskan untuk membiarkan patung Yesus itu berdiri tegak di depan altar tanpa kedua tangan.
Sebagai gantinya, di bawah kaki patung Yesus yang tanpa tangan itu, mereka memasang sebuah prasasti kayu bertuliskan kalimat yang sangat menyentuh hati:
“Aku tidak memiliki tangan lain di dunia ini, selain tanganmu.”
Saudara, Tuhan Yesus tidak lagi berjalan secara fisik di bumi ini untuk menyuapi orang lapar, memeluk orang yang berduka, atau membalut luka orang yang sakit.
Dia memilih untuk memakai tangan Anda dan tangan saya. Maka marilah, gunakan tidak hanya bibir yang hanya pandai berucap, tetapi juga tangan dan kaki kita untuk menjadi perpanjangan tangan Yesus yang nyata bagi dunia saat ini.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.













