Religi
Pdt. Barnabas Sumampouw: Indonesia Membutuhkan Pesan Profetik Yehezkiel 34 di Tengah Persoalan Bangsa

MANADO,mediakontras.com — Di tengah dinamika politik, persoalan penegakan hukum, tantangan ekonomi, serta berbagai isu yang menguji kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara, Indonesia membutuhkan pembaruan yang tidak hanya menyentuh sistem pemerintahan, tetapi juga hati nurani, karakter, dan tanggung jawab moral manusia.
Pandangan tersebut disampaikan Pdt. Barnabas Sumampouw, S.Th., CHt., CCHP, CI, Pendeta/Pelayan Pastoral RSU GMIM Pancaran Kasih Manado, sekaligus Ketua DPD Indonesian Hypnosis Centre (IHC) Sulawesi Utara dan Ketua DPD Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI) Kota Manado.
Dengan pengalaman pelayanan pastoral di lingkungan rumah sakit serta kompetensi profesional dalam bidang hipnosis dan hipnoterapi, Barnabas menyoroti persoalan kebangsaan melalui pendekatan yang mempertemukan refleksi teologis dengan pemahaman tentang kesadaran, pola pikir, emosi, dan perubahan perilaku manusia.
Menurutnya, berbagai persoalan kebangsaan, termasuk isu dugaan penyadapan yang belakangan menjadi perbincangan publik, perlu disikapi dengan tenang, kritis, dan berdasarkan fakta.
“Jangan sampai kegaduhan membuat kita kehilangan kemampuan membedakan fakta, dugaan, dan opini. Setiap persoalan hukum harus diperiksa secara objektif, transparan, dan menghormati asas praduga tak bersalah,” ujarnya.
Barnabas mengibaratkan persoalan bangsa seperti gunung es. Apa yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan seluruh persoalan yang memerlukan perhatian.
“Peristiwa yang muncul ke permukaan dapat menjadi alasan untuk memeriksa kemungkinan adanya persoalan yang lebih mendasar, seperti lemahnya pengawasan, benturan kepentingan, atau persoalan integritas. Namun, kemungkinan itu harus dibuktikan, bukan langsung dianggap sebagai fakta,” jelasnya.
Di tengah situasi tersebut, Barnabas menilai Indonesia sangat membutuhkan pesan profetik firman Tuhan melalui Nabi Yehezkiel pasal 34.
Menariknya, Yehezkiel 34:1–16 merupakan bacaan MTPJ GMIM (Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat) untuk Minggu, 8 November 2026, dengan tema “Aku Akan Menggembalakan Mereka Sebagaimana Seharusnya.”
“Firman Tuhan yang sedang diberitakan dalam persekutuan jemaat-jemaat GMIM ini menghadirkan pesan yang sangat relevan bagi kehidupan berbangsa. Bukan karena Yehezkiel sedang berbicara tentang Indonesia modern, melainkan karena prinsip moral dan teologisnya mengingatkan kita tentang hakikat kepemimpinan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks sejarahnya, Yehezkiel menyampaikan teguran Allah terhadap para gembala Israel, yakni para pemimpin yang gagal menjalankan tanggung jawab terhadap umat.
Para gembala digambarkan lebih memperhatikan kepentingan sendiri, sementara yang lemah tidak dikuatkan, yang sakit tidak dirawat, yang terluka tidak dibalut, dan yang hilang tidak dicari.
“Kekuasaan seharusnya menjadi sarana memelihara kehidupan, bukan sekadar mempertahankan kepentingan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan, tetapi harus memiliki hati yang peduli terhadap manusia yang dipimpinnya,” ungkap Barnabas.
Ia juga menyoroti kelanjutan pasal tersebut, khususnya Yehezkiel 34:17–22, yang menggambarkan ketidakadilan di antara domba-domba itu sendiri.
Ada domba yang menikmati rumput terbaik, tetapi menginjak sisanya. Ada yang meminum air jernih, tetapi mengeruhkan air bagi domba lain. Bahkan ada yang mendesak dan menanduk domba yang lemah.
“Metafora ini mengajak kita bercermin. Dalam kehidupan bersama, jangan sampai ada yang menikmati kesempatan terbaik tetapi merusak kesempatan sesamanya. Jangan sampai yang kuat justru menekan yang lemah, atau yang memiliki pengaruh menggunakannya untuk kepentingan sendiri,” ujarnya.
Menurut Barnabas, pesan tersebut tidak hanya relevan bagi pemegang kekuasaan negara, tetapi juga pemimpin agama, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan seluruh warga bangsa.
“Jangan sampai kita mengecam air yang keruh, sementara kita sendiri ikut mengaduk lumpurnya melalui kebohongan, fitnah, kebencian, dan ketidakadilan.”
Dari perspektif kompetensinya dalam bidang hipnosis dan hipnoterapi, Barnabas turut menekankan pentingnya pembaruan kesadaran dan perilaku manusia.
“Mengetahui sesuatu itu benar belum tentu membuat seseorang melakukannya. Perubahan perilaku memerlukan kesadaran, refleksi diri, pembentukan kebiasaan, dan tanggung jawab atas tindakan. Karena itu, pembaruan dari dalam diri manusia perlu berjalan bersama pembenahan sistem, pengawasan, dan penegakan hukum,” jelasnya.
Namun, menurutnya, pesan Yehezkiel tidak berhenti pada kritik terhadap kegagalan kepemimpinan.
Dalam Yehezkiel 34:11–16, Allah menyatakan bahwa Ia sendiri akan mencari yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang terluka, menguatkan yang sakit, dan menggembalakan umat-Nya.
“Di sinilah letak pengharapan. Ketika manusia gagal menjalankan tanggung jawabnya, Allah memperlihatkan hakikat penggembalaan yang sesungguhnya. Dalam iman Kristen, janji penggembalaan Allah ini menemukan maknanya yang mendalam dalam diri Yesus Kristus, yang menyatakan diri sebagai Gembala yang Baik dalam Yohanes 10:11,” katanya.
Barnabas kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan perjalanan iman umat Kristen yang tidak lama lagi akan memasuki Minggu-Minggu Adven, menjelang perayaan Natal.
“Sebentar lagi kita memasuki masa Adven, masa penantian dan pengharapan akan kedatangan Kristus. Kemudian kita akan merayakan Natal, kelahiran Yesus Kristus. Betapa indahnya ketika di tengah berbagai kegelisahan bangsa, kita diingatkan bahwa Allah bukanlah Gembala yang membiarkan umat-Nya terluka dan tersesat. Dalam Yesus Kristus, kita mengenal kasih Allah yang datang mendekat, mencari, menyelamatkan, dan memelihara kehidupan.”
Menurutnya, Adven dan Natal tidak boleh berhenti pada perayaan seremonial, kemeriahan, atau ungkapan damai yang hanya terdengar dalam nyanyian.
“Damai sejahtera Natal harus menyentuh kenyataan hidup manusia. Damai itu harus terasa dalam keluarga, dalam hubungan antarsesama, dalam pelayanan gereja, dalam keadilan hukum, dalam penggunaan kekuasaan, dan dalam kehidupan masyarakat yang paling lemah sekalipun.”
Ia menegaskan bahwa pengharapan kepada Allah sebagai Gembala harus mendorong orang percaya untuk menghadirkan kasih, kejujuran, keadilan, dan kepedulian melalui tindakan nyata.
“Jangan sampai kita merayakan kelahiran Sang Gembala yang Baik, tetapi masih membiarkan sesama terluka, tersingkir, dan kehilangan pengharapan. Jangan sampai kita menyanyikan damai Natal, tetapi kehidupan bersama masih kita keruhkan dengan kebencian dan ketidakadilan.”
Mengakhiri refleksinya, Barnabas mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya umat Kristen yang segera memasuki masa Adven dan Natal, menjadikan pesan Yehezkiel sebagai panggilan pembaruan bersama.
“Marilah kita memulai pembaruan dari dalam diri masing-masing: pikiran, hati nurani, karakter, dan perilaku. Para pemimpin hendaknya menggunakan kekuasaan untuk melindungi, penegak hukum menjaga keadilan, pemimpin agama menghadirkan keteladanan, dan masyarakat membangun kehidupan dengan kejujuran serta kepedulian.”
“Jangan biarkan gembala menikmati hasil kawanan, domba yang kuat menginjak rumput yang tersisa, sementara yang lemah harus meminum air yang telah dikeruhkan.”
“Menjelang Adven dan Natal ini, marilah kita bersama-sama membuka hati bagi pembaruan Allah. Jangan hanya mempersiapkan perayaan, tetapi persiapkan juga kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai sejahtera. Mari mencari mereka yang tersisih, menolong yang terluka, melindungi yang lemah, memperjuangkan kebenaran, dan membangun kehidupan yang adil serta bermartabat.”
“Kiranya penggembalaan Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, Sang Gembala yang Baik, sungguh menghadirkan damai sejahtera bagi Indonesia. Bukan damai yang hanya diucapkan, melainkan damai yang dialami secara nyata oleh seluruh rakyat, dari pusat kekuasaan hingga pelosok negeri, dari mereka yang kuat hingga mereka yang paling lemah.”
“Tuhan, gembalakanlah Indonesia. Sebab Engkau tidak pernah gagal menjadi Gembala.” (*)











