Connect with us

Religi

Didekap Erat di Dada Sang Gembala

Redaksi

Published

pada

IMG 20261025 WA0011

Yehezkiel 34:1-16

oleh Pdt Lucy Abe Gerret STh

Bapak, Ibu, dan Saudara yang terkasih,
Pada Januari 2012, dunia dikejutkan oleh tragedi tenggelamnya kapal pesiar mewah Costa Concordia di perairan Italia.

Kapal raksasa yang membawa lebih dari 4.000 orang ini menabrak karang akibat kecerobohan sang kapten, Francesco Schettino.

Di tengah kegelapan malam, saat kapal mulai miring dan ribuan penumpang panik ketakutan, sebuah pengkhianatan moral terjadi.

Bukannya memimpin evakuasi, Kapten Schettino justru diam-diam menyelinap dan naik ke sekoci pertama untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia mengabaikan perintah otoritas maritim yang berteriak lewat radio agar ia kembali ke kapal. Akibat tindakan egois sang kapten yang menelantarkan tugasnya, 32 orang penumpang tewas mengenaskan karena terjebak di dalam kapal, dan ratusan lainnya mengalami trauma mendalam.

Saudara, Bagaimana bisa seorang yang diberi mandat untuk melindungi, justru menjadi yang pertama melarikan diri dan membiarkan tiga puluh dua nyawa melayang sia-sia.

Kisah Costa Concordia ini menjadi gambaran sebuah kisah memilukan yang melanda umat pilihan Allah.

Umat Israel saat itu bukanlah sebuah bangsa yang sedang nyaman di rumah mereka. Mereka adalah para pengungsi perang yang hancur, trauma, dan terasing di pembuangan Babel.

Yerusalem telah runtuh, Bait Suci telah rata dengan tanah, dan mereka hidup tanpa identitas.

Frasa “hari berkabut dan kegelapan” pada ayat 12 bukan sekadar bahasa puitis, melainkan deskripsi psikologis dari sebuah bangsa yang depresi, putus asa, dan merasa telah ditinggalkan oleh Tuhan.

Dan yang paling menyakitkan dari situasi ini adalah kenyataan bahwa mereka dalam keterpurukan masa pembuangan ini mereka pula dikhianati oleh para pemimpin mereka sendiri, yakni para Gembala yang egois, yang memiliki otoritas sipil dan rohani—tetapi menyalahgunakan kekuasaan tersebut demi pemuasan ego pribadi.

Mereka memeras rakyat, mengambil bulu dan lemak domba untuk kemewahan mereka, tetapi mengabaikan tugas utama mereka untuk memberi makan rohani dan perlindungan bagi umat (ay.2,3).

Bukan hanya egois, mereka juga bertindak dengan begitu kejam dengan mengabaikan mereka yang lemah.

Domba yang sakit tidak diobati, yang luka tidak dibalut, dan yang tersesat tidak dicari. Mereka memerintah dengan kekerasan dan kekejaman – menggunakan jabatan bukan untuk melayani yang lemah, melainkan untuk menginjak mereka.

Betapa hancurnya hati Allah melihat mereka yang telah diberikan kekuasaan tapi justru menggunakannya untuk menindas apa yang sangat berharga di mata Allah yaitu domba-domba milikNya sendiri.

Sehingga dengan tegas Allahpun mengeluarkan deklarasi perang dari surga: “Aku akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut domba-domba-Ku dari mereka.”.

Saudara, Ketika seorang pemimpin menggunakan kuasanya untuk merugikan umat-Nya, maka Allah sendiri yang akan turun tangan sebagai Hakim.

Allah akan menghukum gembala yang jahat, dengan menarik jabatan mereka dan semua reputasi, pengaruh, dan status sosial mereka dihancurkan sampai habis, tidak sampai disitu Ay.16 menegaskan bahwa Allah akan mendatangkan kebinasaan bagi para penguasa yang egois, mereka akan dimusnahkan.

KeadilanNya berlaku juga untuk para domba yang tertindas ketika Allah mengatakan bahwa Ia akan merebut kembali kawanan domba-Nya, dan akan memulihkan keadaan mereka.

Allah berkata: “Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku.” Ia akan mencari, mengumpulkan dan menyelamatkan mereka dari tempat-tempat di mana mereka terbuang.

Allah akan memberikan mereka kelegaan dan ketenangan dengan menuntun mereka ke padang rumput yang baik dan membiarkan mereka berbaring dalam keamanan.

Ia juga akan merawat mereka dengan kelembutan yaitu membalut yang patah kaki dan menguatkan yang sakit.

Janji ini bukan hanya sekedar janji saja tetapi Allah kemudian mewujudkan janji pemulihan ini ketika bangsa ini pulang dari Babel secara fisik.

Tetapipun sesungguhnya, jauh lebih dari itu – nubuatan ini pada akhirnya digenapi secara sempurna ratusan tahun kemudian ketika Yesus Kristus datang dan mendeklarasikan: “Akulah Gembala yang Baik.

Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Yesus adalah Sang Mesias, Gembala Sejati yang tidak akan pernah meninggalkan kita di tengah badai kehidupan.

Sehingga, lewat Firman ini kita diingatkan bahwa sebagai “Gembala” masa kini yaitu para pendeta, penatua, diaken, atapun aktivis gereja, bahkan sebagai orang tua di rumah, juga pemimpin di tempat kerja, atau siapa pun yang dipercayakan otoritas oleh Tuhan, ingatlah bahwa kekuasaan dan pengaruh yang kita miliki dirancang Tuhan untuk membalut yang luka, bukan menambah luka; untuk melayani yang lemah, bukan memeras mereka.

Domba yang kita pimpin adalah milik Allah, karenanya lakukanlah apa yang dipercayakan Allah kepada dengan setia dan benar, sebab sesungguhnya Allah akan menuntut pertanggungjawaban atas domba-domba itu dari tangan kita.

Kekuasaan dan pengaruh apapun tidak adak melepaskan kita dari hukuman yang akan Allah berikan bagi kita yang berlaku curang dan tidak benar.

Ingat, Hukuman paling mengerikan bukanlah serangan iblis, melainkan ketika Allah sendiri yang memposisikan diri-Nya sebagai musuh kita.

Ketika Allah menjadi lawan, tidak akan ada doa, pelayanan, atau persembahan yang dapat membentengi kita dari murka-Nya.
Maka, jadilah gembala yang benar, walaupun banyak tantanganNya.

Setialah pada kepercayaan yang Tuhan beri. Sebab tidak ada kesetiaan dalam pekerjaan dengan Tuhan yang sia-sia, Tuhan pasti memberikan upah terbaik bagi kita kelak.

Tetapi juga saudara, Firman ini pula sungguh sangat menghibur kita – para domba-domba Allah yang mungkin sementara dilanda dengan ketidakadilan, kita yang merasa tersesat, terluka akibat dikhianati, terabaikan oleh lingkungan sekitar, yang sementara kecewa dengan para pemimpin yang tidak adil.

Janji Tuhan bagi kita begitu nyata bahwa : ada Satu Gembala yang tidak pernah melarikan diri. Yesus Kristus tahu persis di mana kita bersembunyi, Ia tahu luka mana yang sedang berdarah, dan Tangan-Nya yang perkasa sedang terulur untuk memeluk dan membawa kita pulang ke tempat yang aman.

Saudara, ada sebuah cerita, yakni pada suatu malam terjadi badai salju yang mematikan yang melanda pegunungan di dataran tinggi Skotlandia,.

Di tengah malam yang membeku itu, seorang gembala menyadari ada satu anak domba yang hilang. Penduduk desa melarangnya pergi, “Jangan konyol, badai ini terlalu berbahaya.

Tinggalkan saja seekor domba itu!” Namun, bagi sang gembala, satu domba yang terhilang terlalu berharga untuk dibiarkan mati.

Ia melangkah keluar, menembus badai salju yang menusuk tulang, dan mendaki tebing curam dalam kegelapan. Setelah berjam-jam mencari, ia menemukan anak domba itu di dasar jurang—sekarat, menggigil hebat, dan kakinya patah terjepit batu.

Domba itu sudah terlalu lemah bahkan untuk mengembik.

Melihat kondisi itu, sang gembala tidak marah. Ia justru berlutut di atas es yang dingin, melepaskan jubah tebalnya sendiri untuk membungkus tubuh domba yang kotor itu, lalu mengangkatnya ke atas bahunya.

Sepanjang jalan pulang menembus badai, sang gembala mendekap domba itu erat-erat di dadanya, menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri agar jantung anak domba itu tetap berdetak.

Ia tidak menuntunnya berjalan, tetapi ia justru menggendongnya pulang.
Saudara, Ketika dunia ini—bahkan orang-orang terdekat kita—menolak untuk peduli dan membiarkan kita terbengkalai di tengah badai kehidupan, ada Satu Gembala yang rela menembus badai demi kita.

Saat kita merasa terlalu hancur untuk berjalan, Ia ada di sana untuk menggendong kita.

Percayalah,di dalam pelukan-Nya, tidak ada domba yang terlalu hancur untuk dibalut, dan tidak ada jiwa yang terlalu jauh untuk dibawa pulang.” Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */