Connect with us

Religi

Wakil Tuhan yang SetiaNats Alkitab 2 Tawarikh 19:4-11

Redaksi

Published

pada

IMG 20261004 WA0011

pdt Lucy Abe Gerret STh

Bapak, Ibu, dan Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus.
Seorang bijak pernah berkata: “Kesombongan terbesar manusia bukan saat ia merasa paling benar, melainkan saat hatinya terlalu keras dan egonya terlalu tinggi untuk menerima sebuah teguran.”

Saat keangkuhan menguasai hati, kita merasa tidak pernah bisa salah.
Mari kita belajar dari kisah Bobby Fischer, sang jenius catur terbesar dunia pada era 1970-an.

Sayangnya, seiring dengan kehebatannya, ego Fischer tumbuh jauh lebih besar daripada papan caturnya.

Ia menolak masukan pelatih, membenci sahabat yang menasihatinya, dan memutus hubungan dengan siapa saja yang berani mengkritik.

Terjebak dalam ilusi bahwa dirinya tidak mungkin salah, Fischer mulai mengambil keputusan-keputusan fatal.

Ia kehilangan gelar juara tanpa bertanding, melanggar hukum, menjadi buronan internasional, dan mengakhiri hidupnya dalam kesendirian serta kemiskinan di pengasingan.

Seorang jenius besar hancur bukan karena kekurangan bakat, melainkan karena kekerasan hatinya yang menolak untuk ditegur.

Saudara yang kekasih, ingatlah bahwa teguran tidak pernah menjatuhkan kita, tetapi keangkuhanlah yang melakukannya.

Hal yang kontras ini terlihat jelas dalam hidup Raja Yosafat. Ketika ia berkompromi dengan dosa dan bersekutu dengan Raja Ahab yang fasik, Allah mengutus Nabi Yehu untuk menegurnya dengan keras.

Sebagai raja yang berkuasa, ego Yosafat bisa saja membuat ia marah, membela diri, atau bahkan menghukum mati nabi itu.

Namun, alih-alih mengeraskan hati, Yosafat justru memilih meruntuhkan egonya dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Ia tidak sekadar menyesal di dalam istana, tetapi langsung bangkit membuktikan pertobatannya melalui tindakan reformasi yang total.

Perubahan itu dimulai ketika Yosafat keluar dari kenyamanan istananya di Yerusalem untuk berkeliling sendiri menemui rakyatnya, dari ujung selatan di Bersyeba hingga ke utara di pegunungan Efraim, demi membawa hati bangsa itu berbalik kepada TUHAN.

Kerinduan untuk hidup benar ini kemudian menggerakkannya untuk membenahi sistem hukum yang saat itu dipenuhi korupsi dan ketidakadilan.

Yosafat mengangkat hakim-hakim baru dan menanamkan kesadaran yang sangat kuat di hati mereka dengan berkata: “Ingat, kamu memutuskan hukum bukan untuk manusia, melainkan untuk TUHAN.”

Melalui perkataan ini, Yosafat sedang menegaskan bahwa jabatan dan otoritas yang mereka miliki bukanlah alat kekuasaan, melainkan sebuah mandat ilahi.

Mereka tidak sedang bekerja untuk menyenangkan manusia, mencari muka di hadapan raja, atau memperkaya diri sendiri.

Ia mengingatkan para hakim bahwa Tuhan sendiri ikut duduk dan mengawasi setiap ruang sidang, sehingga tidak boleh ada kecurangan, suap, atau pilih kasih.

Hukum harus ditegakkan dengan rasa takut akan Tuhan. Agar pembenahan ini berjalan dengan adil dan bersih, Yosafat menutup reformasinya dengan menata ulang kepemimpinan bangsa, memisahkan porsi pimpinan sipil dan agama sehingga setiap persoalan masyarakat dapat diselesaikan berdasarkan asas kebenaran Allah.

Saudara, kita hidup di zaman di mana semua orang ingin selalu dipuji, divalidasi, dan dianggap tanpa cela. Ironisnya, semakin tinggi posisi kita, semakin mapan ekonomi kita, atau semakin senior pelayanan kita, telinga kita cenderung menjadi semakin tipis.

Ketika ditegur—baik oleh pasangan, orang tua, rekan kerja, maupun lewat mimbar khotbah—reaksi spontan kita sering kali bukanlah introspeksi, melainkan marah, kecewa, dan tersinggung.

Kesombongan seketika membangun benteng pembelaan diri dengan sejuta alasan, bahkan memicu dendam.

Di dalam gereja sekalipun, tidak sedikit jemaat yang memilih pindah gereja atau mogok melayani hanya karena ego mereka terluka oleh sebuah teguran.

Kita dengan angkuh menggugat: “Siapa kamu berani menasihati saya?” Kita sering salah melihat teguran sebagai serangan pribadi atau penghakiman.

Namun, mari belajar dari Yosafat yang menerima teguran dengan kerendahan hati dan menjadikannya sebagai jalan kehidupan.

Tanpa teguran, kita seperti orang yang berjalan di tepi jurang dengan mata tertutup, tetapi dengan bodohnya menolak saat ada orang yang berteriak memperingatkan kita.

Hari ini, mari beri kesempatan bagi teguran untuk mereformasi hati, pikiran, dan tindakan kita secara nyata.

Jadikan teguran itu sebagai fondasi utama untuk berbenah dan memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.

Ingatlah prinsip ini: menolak teguran berarti menolak kesempatan untuk diubah menjadi lebih mulia
Tetapi juga saudara sekalian, apa yang Yosafat katakan mengingatkan kita pada pandangan John Calvin bahwa seorang pemimpin atau hakim adalah wakil Allah.

Saat mengadili, Tuhan hadir di ruang sidang itu, sehingga mereka tidak boleh main-main, menerima suap, atau pilih kasih.

Namun, prinsip ini tidak hanya berlaku bagi hakim. Apa pun profesi kita—baik guru, pedagang, maupun karyawan—pekerjaan kita adalah tugas sakral dari Tuhan.

Kita adalah wakil-wakil-Nya di dunia. Karena itu, jauhkanlah ketidakjujuran yang mendatangkan murka Allah, dan tampakkanlah hidup yang benar, penuh kasih, serta adil.

Memang, untuk menegakkan kebenaran sering kali menuntut harga yang sangat mahal. Namun percayalah orang yang tulus hati memperjuangkannya disertai oleh Tuhan senantiasa.

Dr. Ignaz Semmelweis di Wina, Austria, pada tahun 1840-an. Saat ribuan ibu melahirkan meninggal misterius akibat “demam melahirkan”, Dr. Ignaz menemukan fakta revolusioner: para dokter menularkan kuman karena memeriksa pasien langsung setelah membedah mayat, tanpa mencuci tangan.

Ketika ia mewajibkan sterilisasi tangan dengan klorin, dunia medis menolaknya. Para dokter senior merasa terhina karena tangan terhormat mereka dituduh sebagai pembawa maut.

Karena bersikeras mempertahankan kebenaran ini, Dr. Ignaz dikucilkan, difitnah, dipecat, hingga akhirnya kehilangan akal sehat dan meninggal tragis di rumah sakit jiwa.

Dunia mengira ia telah kalah.
Namun Saudara, manusia bisa membungkam sang pembawa kebenaran, tetapi mereka tidak akan pernah bisa melenyapkan kebenaran itu sendiri.

Beberapa dekade kemudian, sejarah berbalik dengan sangat manis. Sains membuktikan teorinya seratus persen benar. Kini, Dr. Ignaz Semmelweis dijuluki sebagai “Bapak Penyelamat Para Ibu”.

Namanya diabadikan pada universitas kedokteran, dan setiap kali kita mencuci tangan di rumah sakit hari ini, kita sedang menikmati buah kebenaran yang dulu ia perjuangkan dengan air mata.

Saudara, berdiri di pihak kebenaran mungkin membuat kita tidak populer. Saat kita memilih jujur, menolak suap, atau enggan berbuat curang, kita mungkin akan dijauhi dan dikucilkan.

Namun ingatlah, saat kita menderita demi kebenaran, Tuhan tidak pernah tinggal diam.

Manusia boleh menolak kita, tetapi Tuhan mengingat kesetiaan kita. Ia sendiri yang akan membela perkara kita dan membuktikan kebenaran kita – jika bukan hari ini di dunia, pasti kelak di kekekalan.

Maka, tetaplah setia, tetaplah tulus hati. Kebenaran dari Tuhan tidak akan pernah kalah, dan Ia pasti menyertai orang-orang yang tuslus ikhlas. Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */