Religi
Sinyal Telinga Domba

Nats Aklitab : Yohanes 10:27
Pdt Lucy Abe Gerret STh
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan, Pada Februari 2024, Philipp Maier dan Marcel Schoene, dua turis asal Jerman, mengendarai mobil 4-wheel drive melintasi area pedalaman Australia yang sangat sepi.
Di tengah jalan, aplikasi peta di ponsel mengarahkan mereka untuk masuk ke rute tanah sebuah taman nasional. Meskipun rambu di pinggir jalan sudah memperingatkan bahwa jalur itu berlumpur dan berbahaya, kedua turis ini mengabaikannya. Mereka melihat cuaca cukup cerah, jalan di depan mata tampak aman, dan mereka merasa mobil mereka sangat kuat. Mereka menutup mata dari navigasi dan nekat melaju terus.
Namun, hanya dalam beberapa kilometer, mobil mereka langsung ambles ke dalam lumpur hidup yang sangat dalam. Akibat keputusan itu, mereka terjebak di tengah hutan belantara tanpa jaringan sinyal selama satu minggu penuh.
Setelah kehabisan bahan makanan, mereka terpaksa berjalan kaki sejauh 60 kilometer menembus hujan lebat dan ancaman hewan liar sebelum akhirnya ditemukan oleh tim penyelamat. Mereka selamat, namun harus membayar mahal akibat mengabaikan kompas petunjuk jalan demi menuruti penglihatan mereka sendiri.
Saudaraku, sama seperti kedua turis tadi, kadang kita juga sering mengabaikan kompas “rohani” kita. Tuhan sudah memberikan “kompas” kehidupan yang sempurna melalui firman dan suara-Nya. Tetapi kadang kita lebih memilih memercayai apa yang kelihatan baik, apa yang menguntungkan, apa yang menyenangkan dan aman menurut penglihatan mata kita. Meskipun kita sudah diperingatkan bahwa jalan tersebut berbahaya, kita nekat dan akhirnya berujung penyesalan.
Saudara-saudara, Yohanes 10:27, Yesus memberikan analogi yang sangat kontras dari cara hidup kita yang sering mengandalkan mata jasmani: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
Pada zaman Alkitab, domba adalah hewan yang terkenal memiliki penglihatan yang sangat buruk. Mereka tidak bisa melihat jarak jauh dengan jelas. Mereka mudah tertipu oleh fatamorgana, mudah terperosok ke dalam jurang, dan tidak bisa mendeteksi serigala dari kejauhan jika hanya mengandalkan mata.
Oleh karena itu, bagi seekor domba, organ tubuh yang menjadi alat navigasi utama untuk bertahan hidup bukanlah mata mereka, melainkan telinga mereka. Ketika malam tiba dan beberapa kawanan domba dicampur di dalam satu kandang besar yang bising, mereka tidak akan bisa mengenali jalan keluar hanya dengan melihat. Namun begitu fajar menyingsing, sang gembala akan berdiri di pintu kandang dan mulai memanggil. Domba-domba itu memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa untuk mengenali frekuensi, nada, dan warna suara gembala mereka sendiri. Mereka menutup telinga dari suara orang asing. Bagi seekor domba, mendengarkan dan menaati suara sang gembala adalah masalah hidup dan mati.
Saudaraku, bukankah kita adalah domba-domba yang harus pula mengikuti suara Gembala? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak “suara” yang mengaburkan telinga rohani kita.
Suara-suara yang berkata, “ini enak, ini menyenangkan, ini nikmat, ini membawa kepuasan dan lain sebagainya.” Namun, Firman Tuhan mengingatkan mari mempertajam telinga rohani kita untuk menyaring kebisingan dunia dan memilih untuk tunduk menaati suara-Nya.
Saudaraku, Pernahkah kita melihat seorang konduktor orchestra tampil? di hadapannya ada puluhan alat musik yang dimainkan bersamaan—biola, terompet, drum, dan simbal—yang suaranya sangat ramai dan bergemuruh. Namun, seorang pemusik yang terlatih dalam orkestra tersebut tidak pernah salah memainkan nadanya.
Mengapa? Karena di tengah gemuruh suara musik yang begitu riuh, mata dan fokus mereka hanya tertuju pada gerakan stik kecil di tangan sang konduktor. Mereka sengaja mengabaikan kebisingan instrumen di sebelah mereka demi bisa menyelaraskan diri dengan sang pemimpin. Saat ini, adakah hidupmu terlalu bising dengan semua suara-suara dunia yang tampak baik namun menjerumuskan? Abaikan suara-suara itu dan mari melatih diri kita untuk fokus kepada Sang Konduktor hidup kita.
Kita adalah dombaNya maka arahkanlah telinga rohani kita, mendengarkan suara-Nya, dan melangkah dengan kepastian karena kita tahu, Gembala kita tidak pernah salah menuntun kita menuju tujuan dengan selamat. Amin.













