Religi
Seberkas Cahaya di Ujung Malam

Nats Alkitab : Matius 5:16
Pdt Lucy Abe Gerret
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Pada tanggal 1 November 1512, pintu gerbang Kapel Sistina di Vatikan dibuka untuk pertama kalinya bagi publik.
Catatan sejarah menuliskan bahwa hari itu seluruh kota Roma seperti menahan napas.
Orang-orang dari berbagai kalangan—mulai dari pejabat tinggi, para seniman, hingga masyarakat biasa—berbondong-bondong masuk memenuhi ruangan kapel. Tak lama kemudian, keheningan itu pecah oleh bisik-bisik kekaguman yang memenuhi seluruh ruangan kapel.
Menariknya, perhatikan apa yang menjadi topik pembicaraan orang-orang saat itu. Mereka tidak membicarakan jenis cat apa yang digunakan, seberapa mahal biaya pembuatannya, atau bagaimana teknik plesternya.
Kalimat yang keluar dari mulut para pengunjung di tengah kekaguman mereka adalah: “Siapakah pribadi jenius yang sanggup mengukir keindahan luar biasa ini? Siapa arsitek di balik lukisan semegah ini?”
Dan seketika itu juga, nama sang maestro menggema di setiap sudut kapel: Michelangelo.
Melalui keindahan karya yang terpajang nyata, mata dunia langsung dituntun untuk mengenal, memuji, dan mengagumi sang pelukisnya.
Saudara, Hal ini berlaku pula dalam hidup kita. Kita adalah kanvas hidup milik Allah. Melalui “keindahan” perbuatan-perbuatan baik kita, mata dunia dituntun untuk memandang dan memuliakan Sang Pelukis Agung kita, yaitu Bapa di surga.
Inilah yang disampaikan Dalam Matius 5:16. Tuhan Yesus menyatakan bahwa iman kita harus bekerja di tengah dunia melalui perintah untuk “bercahaya di depan orang”.
Iman Kristen tidak dirancang untuk diisolasi dalam ruang ibadah yang nyaman, melainkan sebuah keharusan identitas yang wajib dibawa keluar, ke tempat di mana kegelapan dunia itu nyata.
Umat Tuhan harus bercahaya, yang diwujudkan dalam “perbuatan yang baik” (Yun : Kalos). Perbuatan baik yang bukan sekadar benar secara aturan, tetapi juga indah, memikat, dan mendatangkan kedamaian bagi orang lain.
Perbuatan baik kita tidak boleh dilakukan dengan wajah ketus, terpaksa, atau pamer, karena kualitas keindahan (Kalos) itulah yang membedakan kita.
Dengan keindahan ini, semua yang menikmatinya pada akhirnya akan memuliakan Bapa di Sorga. Ketika dunia mencicipi kebaikan hidup kita yang indah, perbuatan itu pada akhirnya menjadi jembatan yang bersih, yang langsung mengalirkan seluruh rasa syukur dan pujian orang lain lurus kepada Allah yang adalah pemilik dan sumber kehidupan kita.
Sehingga lewat firman ini, kita dihentar untuk memancarkan sinar – bercahayalah, dimanapun kita pergi dan berada. Wujudkan keindahan iman kita dengan setiap perbuatan baik kita kepada sesama.
Ingat, cahayamu sangat dibutuhkan ditengah kegelapan dunia saat ini. Sekalipun hanya seberkas saja, sudah cukup menjadi penunjuk jalan bagi sesama yang tersesat di dalam kegelapan.
Saudara, pada Perang Dunia Kedua, saat pertempuran berdarah berlangsung di Tebing Maeda, Okinawa. Seorang pemuda bernama Desmond Doss memilih tidak memegang senjata, melainkan menjadi seorang petugas medis.
Di tengah lingkungan perang yang kejam dan penuh kebencian, ia hadir menjadi yang berbeda. Ketika pasukannya dipaksa mundur karena dihujani tembakan artileri, puluhan prajurit yang terluka parah tertinggal di atas tebing yang dikuasai musuh.
Di tengah malam yang pekat, dicekam ketakutan, dan ditinggalkan sendirian, Desmond Doss tidak ikut lari. Satu demi satu, ia merangkak di tanah, menyeret tubuh prajurit yang terluka ke tepi tebing, lalu menurunkannya dengan tali ke bawah.
Setiap kali tubuhnya kelelahan dan tangannya mulai berdarah, ia selalu berdoa dengan lirih, ‘Tuhan, tolong bantu aku menyelamatkan satu orang lagi.
Berikan aku kekuatan untuk membawa seberkas harapan bagi satu orang lagi.’ Malam itu, ia berhasil menyelamatkan 75 nyawa sendirian.
Para prajurit yang selamat dimalam itu bersaksi, bahwa di tempat di mana maut mengintai, tindakan Desmond Doss adalah seberkas cahaya yang membuktikan bahwa kasih Allah tidak pernah meninggalkan mereka.
Melalui perbuatannya yang indah, nama Tuhan dipermuliakan di tempat yang paling mustahil.
Saudaraku, bersinarlah. Sekalipun dunia di sekitarmu terasa berat, dan sekalipun cahaya yang bisa kita berikan saat ini hanyalah seberkas senyuman tulus, sepotong kata maaf, kejujuran yang dipertahankan, atau telinga yang mau mendengar keluhan sesama.
Sekalipun sulit, tetaplah bercahaya. Sebab seberkas cahaya kecil yang kita nyalakan dengan tulus, sudah lebih dari cukup untuk menuntun sesama keluar dari kegelapan dan memuliakan Bapa di surga.
Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin.(*)













