Religi
“Rahasia Daud Menundukkan Pagi”

Nats Alkitab: Mazmur 5:4
Pdt Lucy Abe Gerret STh
“TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar suaraku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.”
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan, Bayangkan seorang pria yang baru saja bangun pagi setelah semalaman mabuk berat.
Kepalanya terasa mau pecah karena efek pengar (hangover), mulutnya kering, dan matanya merah.
Hal pertama yang dia cari secara naluriah bukanlah kopi hangat atau sarapan, melainkan seember air es dan obat sakit kepala. Dia buru-buru menenggelamkan wajahnya ke air dingin dan meminumnya dengan rakus demi meredakan rasa pusing akibat ulahnya sendiri semalam.
Melihat itu, istrinya hanya menyindir, “Tahu bakal tersiksa setengah mati mencari air es dan obat di pagi hari, kenapa semalam kamu sibuk merusak dirimu sendiri?”
Saudaraku, Mendengar cerita ini, kita mungkin tersenyum dan berpikir, “Untung saya bukan pemabuk itu yang pagi-pagi harus menderita mencari air es untuk menyembuhkan sakit kepala.”
Namun kalau kita mau jujur, sering kali pola hidup rohani kita tidak jauh berbeda. Kita mungkin tidak mabuk minuman keras, tetapi kita sering kali “mabuk” oleh kesibukan dan kekhawatiran duniawi kita.
Akibatnya, begitu mata kita terbuka di pagi hari, kita langsung sibuk mencari mencari ponsel kita, mencari tahu pesan Whatsapp, mencari tahu berita terbaru ataupun buru-buru beranjak untuk bersiap dengan pekerjaan dan semua kesibukan duniawi kita.
Saudara-saudara, Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Raja Daud dalam Mazmur 5:4. Sebagai seorang raja yang memimpin sebuah bangsa besar, Daud pasti memiliki daftar masalah dan kesibukan yang luar biasa padat setiap harinya.
Dia punya ancaman musuh, masalah politik, hingga urusan kerajaan yang bisa membuatnya harus sibuk setiap pagi.
Namun, Daud berkata : “TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar suaraku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.”
Kata “mengatur persembahan” dalam bahasa aslinya menggambarkan seorang imam yang menyusun kayu bakar dan korban di atas mezbah dengan sangat rapi, tertib, dan penuh persiapan.
Artinya, Daud secara sengaja dan penuh kesadaran mengkhususkan waktu paginya untuk Tuhan.
Sebelum dia mendengarkan laporan para jenderal yang menegangkan, dia mau Tuhan mendengarkan suaranya terlebih dahulu.
Daud tidak mencari “air es” duniawi yang hanya meredakan gejala pusing sementara, melainkan mencari “Air Kehidupan” yang sejati dari hadirat Tuhan.
Saudara pernahkah kita menyadari bahwa, kehidupan kita sering kali terasa kacau dan stres bukan karena masalah kita terlalu besar, tetapi karena kita salah mengatur prioritas di pagi hari.
Waktu dengan Tuhan disaat pagi, adalah waktu terbaik yang akan menentukan langkah kita dihari yang akan terjalani.
Coba perhatikan, sebuah pensil yang terus-menerus dipakai untuk menulis lama-kelamaan ujungnya akan menjadi tumpul.
Jika pensil itu dipaksakan untuk terus menulis dalam kondisi tumpul, tulisan yang dihasilkan akan rusak, kabur, dan kertasnya bahkan bisa robek karena ditekan terlalu keras.
Satu-satunya cara agar pensil itu bisa menulis dengan indah kembali adalah dengan dimasukkan ke dalam serutan.
Di dalam serutan itu, pensil harus diam, diletakkan di tempat yang tepat, dan rela dikikis sedikit demi sedikit agar ujungnya menjadi tajam kembali.
Waktu pagi kita bersama Tuhan adalah waktu di mana kita masuk ke “serutan” rohani-Nya. Tuhan mau mengikis ketumpulan pikiran kita akibat polusi dunia, lalu menajamkan kembali iman serta fokus kita.
Saudara, pilihan ada di tangan kita setiap pagi: apakah kita mau memulai hari dengan kesibukan atau memulai hari dengan ketenangan seperti Daud yang mencari Tuhan? Mulai besok pagi, mari kita ambil waktu bersama dengan Tuhan.
Letakkan ponsel kita, duduk diam di kaki Tuhan, naikkan doa kita, dan izinkan kuasa-Nya menajamkan kita untuk menjalani hari dengan kemenangan. Amin













