Connect with us

Artikel

CHYNTIA, KETEGARAN DI BALIK KESUNYIAN

Redaksi

Published

pada

862802895 10241132568443806 1257083627581719752 n

(Atas panggilan empati dan mengikuti naluri jurnalis yang masih tersisa, untuk kedua kali saya terpanggil menuliskan sosok Chyntia Ingrid Kalangit, Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) nonaktif, )

Catatan reflektif dari ruang sidang

Ada pemandangan yang tidak selalu bisa diterjemahkan oleh kamera. Ada ketegaran yang tidak membutuhkan banyak kata. Dan ada keyakinan yang justru menemukan maknanya ketika hidup membawa seseorang ke ruang yang paling tidak pernah dibayangkannya.

Di ruang sidang itu, Chyntia sedang menjalani salah satu fase paling berat dalam perjalanan hidupnya.

Statusnya telah berubah. Ruang geraknya tidak lagi sama. Sorotan publik mengarah kepadanya dengan beragam penilaian. Namun, di tengah keadaan yang demikian, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: bagaimana seseorang berusaha tetap tegak ketika hidup tidak lagi memberinya panggung yang sama.

Chyntia bukan lagi berdiri di hadapan masyarakat dalam suasana seremoni, menyampaikan sambutan, atau menjalankan tugas-tugas pemerintahan seperti sebelumnya. Kali ini, ia hadir di ruang sidang, di hadapan proses hukum yang harus dijalaninya.

Di sana, jabatan tidak lagi menjadi jarak yang memisahkan dirinya dari manusia lain. Ia berhadapan dengan sesuatu yang pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan setiap manusia: ujian, ketidakpastian, dan keharusan untuk menghadapi keadaan sebagaimana adanya.

Tetapi, di tengah semua itu, ada iman yang ia suarakan.

Chyntia mengutip esensi Roma 8:28, ayat Alkitab yang mengingatkan orang percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.

Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam sebuah ayat berdiam di hati seseorang. Namun, ketika ayat itu disebut di tengah masa sulit, kita dapat memahami bahwa iman bukan selalu tentang meminta agar badai segera berlalu. Kadang, iman adalah cara seseorang menjaga dirinya agar tidak kehilangan harapan ketika badai belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Ketegaran tidak selalu berarti seseorang tidak terluka. Bisa jadi, ia sedang belajar berdiri bersama luka yang belum selesai.

Belakangan, ruang Chyntia untuk berbicara kepada media disebut semakin terbatas. Kita perlu memahami konteks dan ketentuan yang melatarbelakanginya. Namun, keadaan ini menghadirkan sebuah refleksi: ketika kata-kata tidak lagi leluasa disampaikan, bagaimana seseorang tetap menjaga agar sikap dan martabatnya tidak hilang di tengah riuh penilaian?

Kesunyian memang bisa memiliki banyak wajah. Ia dapat menjadi ruang untuk merenung, ruang untuk menata kembali kekuatan, atau ruang ketika seseorang harus menerima bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan pada saat yang ia kehendaki.

Dalam kesunyian itu pula, publik menafsirkan sosok yang mereka lihat. Ada yang menunggu penjelasan. Ada yang memilih bersikap kritis. Ada pula warga yang menyampaikan simpati dan doa.

Semua itu merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang memiliki hak untuk bertanya, menilai, dan mengikuti perkembangan sebuah perkara.

Tetapi, bukankah kedewasaan publik juga diuji dari kemampuannya membedakan antara menghormati proses hukum dan tetap memelihara kemanusiaan?

Seseorang yang sedang menghadapi perkara hukum tidak kehilangan haknya untuk diperlakukan secara manusiawi. Sebaliknya, empati kepada seseorang juga tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab melalui proses hukum.

Dua hal itu dapat berjalan beriringan.

Chyntia berhak menjalani proses hukum dengan segala hak yang melekat padanya. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana perkara yang menyangkut kepentingan publik diproses. Dan pengadilanlah yang harus menilai bukti serta menentukan perkara berdasarkan hukum.

Di luar semua itu, ada manusia yang sedang menjalani hari-harinya dalam keadaan yang berubah drastis.

Ada keluarga yang ikut merasakan dampaknya. Ada anak yang melihat ibunya menghadapi ujian. Ada masyarakat yang menyimpan ingatan masing-masing tentang sosok yang pernah hadir dalam kehidupan mereka.

Kita tidak perlu membesar-besarkan kesedihan untuk memahami beratnya sebuah keadaan. Kita juga tidak perlu tergesa-gesa memberikan penilaian untuk mengakui bahwa setiap manusia memiliki sisi kehidupan yang jauh lebih luas daripada status yang sedang disandangnya.

Mungkin inilah makna paling sederhana dari ketegaran: tetap berusaha menjaga diri ketika keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dan mungkin inilah makna paling manusiawi dari empati: memberi ruang bagi seseorang untuk menjalani prosesnya tanpa kehilangan martabatnya sebagai manusia.

Pada akhirnya, Roma 8:28 bukanlah jaminan bahwa perjalanan akan selalu mudah, atau bahwa setiap persoalan akan berakhir sesuai keinginan manusia. Bagi orang yang beriman, ayat itu adalah pengingat untuk tetap percaya ketika jawaban belum ditemukan dan jalan di depan masih belum sepenuhnya terlihat.

Kita tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hukum Chyntia. Kita tidak perlu mendahului waktu untuk menjawabnya.

Biarlah proses hukum berjalan. Biarlah bukti diuji dan kebenaran diperiksa melalui mekanisme yang semestinya.

Sementara itu, kita masih dapat belajar melihat manusia dengan mata yang lebih jernih.

Sebab, di balik jabatan yang pernah disandang, di balik status hukum yang kini melekat, dan di balik sorotan yang tidak selalu mudah ditanggung, tetap ada seorang perempuan yang sedang menjalani perjalanan hidupnya.

Dan di ruang yang mungkin terasa semakin sunyi itu, ketegaran tidak harus selalu terdengar sebagai pernyataan.

Kadang, ia cukup hadir dalam kesediaan untuk tetap melangkah, satu hari demi satu hari, sambil menjaga iman dan harapan agar tidak ikut padam.

Sebab, ketika suara menjadi terbatas, bukan berarti harapan harus ikut terdiam.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */