Religi
Sekalipun Badai Menerpa, Aku Tetap Percaya

Nats Alkitab : 2 Timotius 1:3-18
Oleh : Pdt Lucy Abe Gerret STh
Bapak Ibu, saudara- saudari yang dikasihi Tuhan,
Sebuah kisah pilu dari wilayah konflik menceritakan tentang sekelompok pemberontak bersenjata yang mengepung sebuah kapel dan menyandera seorang pendeta beserta belasan anak muda. Sang komandan memberikan ultimatum kejam: sang pendeta harus menyuruh anak-anak muda itu menyangkal Yesus agar selamat.
Jika mereka menolak, sang pendetalah yang harus menembak mati mereka satu per satu. Namun jika ia menolak perintah itu, ia sendiri yang akan disiksa sampai mati. Dikuasai ketakutan, sang pendeta memungut senapan dan memohon kepada anak-anak rohaninya untuk menyangkal iman mereka demi keselamatan bersama.
Namun, dengan air mata menetes dan iman yang teguh, para pemuda itu menolak. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah menyangkal Yesus yang telah menebus mereka, dan menyatakan bahwa mereka lebih siap mati di tangan pendeta mereka sendiri daripada hidup sebagai pengkhianat.
Akhirnya, di bawah cengkeraman ketakutan absolut akan maut, sang pendeta memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Ia menarik pelatuk berkali-kali dan menembak mati seluruh anak rohaninya.
Saudara, kisah tragis ini membuktikan satu realitas pahit: Ketika ancaman dan penderitaan datang, siapapun dia apakah dia pelayan Tuhan atau bukan, orang yang telah dikuasai oleh roh ketakutan akan dengan mudah berbalik meninggalkan temannya atau siapapun yang dekat dengannya, bahkan ia tidak ragu mengorbankan mereka demi keselamatan pribadinya.
Ditinggalkan oleh orang-orang terdekat saat kita berada di titik terendah hidup adalah pengalaman yang sangat menghancurkan hati. Dan jelas dikatakan oleh Paulus bahwa iapun sementara merasakan kepedihan itu secara nyata ketika melihat satu per satu rekannya melarikan diri demi keselamatan pribadi.
2 Timotius 1:15: “Semua orang di daerah Asia Kecil telah meninggalkan aku, di antaranya Figelus dan Hermogenes.” Saat ia mendekam di penjara Roma sambil menanti hukuman mati, rekan-rekan terdekatnya memilih bermain aman dan melarikan diri. Namun, di tengah kesunyian penjara Roma, Paulus memilih untuk tidak menjadi pahit hati. Ia masih melihat kesegaran ketika Onesiforus dan keluarganya tetap ada didekatnya. Tetapi juga, ia bersyukur saat ia melayangkan pandangan batinnya kepada satu sosok yang sangat ia kasihi, sosok yang berjuang mengabarkan Injil sekalipun harus dipenuhi dengan air mata.
Walaupun sementara di dera, Paulus mengatakan bahwa ia sangat bersyukur atas iman Timotius yang tulus ikhlas, sebuah iman yang sebelumnya telah hidup dan dibuktikan di dalam hidup neneknya, Lois, dan ibunya, Eunike.
Memang Paulus mengetahui bahwa Timotius terguncang melihat mentornya dipenjara, dan ada ketakutan yang mulai merayap di hati pemuda itu. Timotius secara psikologis adalah seorang muda yang cenderung pemalu dan sensitif. Tekanan di sekitarnya membuat bara imannya mulai meredup. Sehingga Paulus meminta dirinya untuk meniup kembali bara api yang hampir padam agar menyala besar.
Janganlah memandang pada lemahnya diri kita atau besarnya bahaya didepan, tetapi Paulus mengarahkan Timotius untuk memandang pada kebesaran Kristus yang akan menganugerahkan keberanian untuk menghadapi penderitaan demi Injil. Timotius harus berani dan setia, jangan goyah memegang ajaran yang sehat dan memelihara harta yang indah yang telah dipercayakan Tuhan oleh Roh Kudus.
Karenanya saudara lewat apa yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius kita diajak berjuang memilki iman yang tulus dan ikhlas seperti yang disampaikan oleh Paulus ini, maksudnya ialah kita tidak memiliki iman yang munafik yang hanya bekerja pada satu situasi dan kondisi kondisi tertentu saja.
iman yang tidak mengajar kita untuk menjadi pengkhianat. Iman yang tetap berani dan tidak goyah sekalipun ancamannya bahaya dan penderitaan. Iman yang tetap membuat kita tetap setia memegang harta yang dipercayakan Tuhan dalam hidup kita yaitu kebenaran Injil yang harus terus kita wartakan baik atau tidak baik waktunya.
Iman yang tidak akan terguncang dengan ketakutan. Iman yang terus menuntun kita untuk percaya sekalipun kita menderita dan tidak berdaya, bahwa kita punya Allah di dalam Yesus lewat kuasa Roh Kudus yang kuasaNya jauh terlebih besar dari berbagai macam, masalah, ancaman, dan persoalan-persoalan hidup. Iman yang berani berkata, saya tetap percaya pada rencanaNya ditolong ataupun tidak ditolong.
Saudara, masihkah kita mengingat tentang kisah tiga orang pemuda, Mereka berdiri di hadapan tanur api yang menyala-nyala, tujuh kali lebih panas dari biasanya.
Raja Nebukadnezar yang murka memberi mereka pilihan yang sama: “Sembahlah patung ini dan kalian selamat, atau menolak dan malam ini juga kalian dilemparkan ke dalam api!” Namun, respons tiga orang muda ini mencengangkan sejarah. Dengan penuh ketenangan, mereka berkata:
“Jika Allah kami sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu… tetapi jika tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”(Daniel 3:17-18).
Mereka sedang berkata: “Kami tahu Allah kami berkuasa menolong kami. Tetapi, sekalipun Tuhan memilih untuk tidak menolong kami malam ini, sekalipun Dia membiarkan tubuh kami hangus menjadi abu di perapian ini, kami tetap percaya kepada-Nya! Kesetiaan kami tidak ditentukan oleh apakah Tuhan menyelamatkan kami atau tidak.”Inilah iman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.
Merekan menunjukan kepada kita bahwa puncak tertinggi dari sebuah iman yang sejati adalah tetap beriman – ditolong ataupun tidak.
Saudara, saat ini ketika hidup kita terasa menakutkan, ketika mempertahankan kejujuran membuat kita terancam rugi, atau ketika mengikut Yesus menuntut harga yang mahal, Tuhan memutuskan untuk membuat rencana kita gagal, sakit yang tidak kunjung sembuh, suami-isteri ataupun anak yang tidak juga berubah, pekerjaan yang belum berhasil, di manakah posisi kita?
Jadilah setia saudara, tetap pegang teguh imanmu, tetap percaya pada hatiNya dan jangan lepaskan harta rohani yang Tuhan percayakan yaitu kebenaranNya dalan hidup kita. Percayalah, di ujung kesetiaanmu ada mahkota kehidupan yang indah yang telah Tuhan siapkan bagi kita di kekekalan. Tuhan Yesus memberkati. AMIN












