Artikel
Mengapresiasi Langkah Milli Haerani Melawan Cyberbullying

Tidak semua karya ilmiah berhenti sebagai dokumen akademik. Ada yang menyimpan pesan lebih jauh, menyentuh persoalan kehidupan, dan mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak berjarak dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat.

Skripsi Milli Mahalya Haerani, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik De La Salle Manado, membawa pesan semacam itu.
Melalui penelitian berjudul Efektivitas Edukasi Teman Sebaya (Peer Support) terhadap Peningkatan Pengetahuan tentang Cyberbullying pada Remaja di SMP Negeri 2 Bitung, Milli memilih berbicara tentang persoalan yang semakin relevan dalam kehidupan generasi muda: perundungan di ruang digital.
Pilihan tema ini patut diapresiasi.
Di tengah kehidupan yang semakin terhubung dengan internet dan media sosial, remaja tidak hanya berhadapan dengan peluang untuk belajar, berkomunikasi, dan mengembangkan diri. Mereka juga menghadapi risiko penghinaan, pelecehan, penyebaran informasi yang merugikan, serta berbagai bentuk perundungan melalui perangkat digital.
Persoalannya, ruang digital kerap dipahami sebatas tempat berinteraksi dan mencari hiburan. Kesadaran mengenai batas-batas perilaku, tanggung jawab, dan dampak psikologis dari tindakan di dunia maya belum tentu tumbuh secepat perkembangan teknologinya.
Di sinilah penelitian Milli menemukan relevansinya.
Ketika Pengetahuan Menjadi Langkah Awal
Penelitian tersebut melibatkan 60 siswa SMP Negeri 2 Bitung. Berdasarkan hasil yang dilaporkan, sebelum intervensi edukasi diberikan, 43 siswa atau 71,7 persen berada dalam kategori pengetahuan kurang mengenai cyberbullying. Sementara itu, 17 siswa atau 28,3 persen berada dalam kategori cukup.
Setelah edukasi dilaksanakan, hasilnya menunjukkan perubahan. Sebanyak 52 siswa atau 86,7 persen masuk dalam kategori pengetahuan baik, sedangkan delapan siswa atau 13,3 persen berada dalam kategori cukup.
Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon juga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pengukuran sebelum dan sesudah intervensi.
Angka-angka tersebut memberikan gambaran tentang pentingnya edukasi yang terarah. Pengetahuan bukanlah satu-satunya jawaban untuk menyelesaikan persoalan perundungan digital, tetapi pengetahuan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran dan mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab.
Seseorang perlu memahami terlebih dahulu apa yang termasuk perundungan, bagaimana dampaknya terhadap korban, dan mengapa tindakan yang dianggap sekadar candaan dapat meninggalkan luka bagi orang lain.
Kita juga perlu mengingat bahwa peningkatan pengetahuan tidak otomatis berarti kejadian cyberbullying telah menurun. Perubahan perilaku membutuhkan proses, keteladanan, pendampingan, dan lingkungan yang mendukung. Karena itu, hasil penelitian ini patut diapresiasi sekaligus menjadi pijakan bagi upaya lanjutan.
Teman Sebaya dan Kekuatan Pengaruh Sosial
Hal menarik lainnya adalah pilihan pendekatan edukasi teman sebaya atau peer support.
Masa remaja merupakan periode ketika hubungan pertemanan memiliki pengaruh penting dalam kehidupan sehari-hari. Teman bukan hanya rekan bermain atau belajar, melainkan juga bagian dari lingkungan tempat seseorang membangun kepercayaan diri, mengenali identitas, dan memahami norma sosial.
Karena itu, pendekatan edukasi yang melibatkan teman sebaya memiliki potensi untuk dikembangkan. Remaja dapat saling mengingatkan, membangun budaya komunikasi yang sehat, dan belajar untuk tidak menjadikan penghinaan sebagai hiburan atau bahan tertawaan bersama.
Namun, dukungan teman sebaya tentu bukan pengganti tanggung jawab orang dewasa. Guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan pengelola sekolah tetap mempunyai peran penting dalam memberikan perlindungan, pendampingan, serta penanganan yang tepat ketika perundungan terjadi.
Di sinilah kita memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Edukasi perlu berjalan bersama literasi digital, komunikasi keluarga, kebijakan sekolah, dan mekanisme pelaporan yang membuat siswa merasa aman ketika meminta pertolongan.
Jangan Biarkan Skripsi Berhenti di Rak Perpustakaan
Saya memandang penelitian Milli sebagai sebuah pengingat bahwa karya akademik memiliki peluang untuk memberikan manfaat yang melampaui ruang perkuliahan.
Skripsi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persyaratan untuk meraih gelar. Ketika sebuah penelitian mengangkat persoalan nyata, hasilnya patut dibaca, didiskusikan, dan dipertimbangkan sebagai bahan untuk memperbaiki praktik di tengah masyarakat.
Sekolah, misalnya, dapat menjadikan temuan penelitian ini sebagai bahan diskusi untuk memperkuat edukasi mengenai perundungan digital. Guru bimbingan konseling dapat mengembangkan kegiatan yang membantu siswa mengenali perilaku berisiko dan memahami cara mencari bantuan.
Orang tua pun perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Pengawasan penggunaan media sosial memang penting, tetapi mendengarkan pengalaman anak, menghargai perasaannya, dan menciptakan ruang aman untuk bercerita tidak kalah penting.
Sementara itu, tenaga kesehatan dapat berkontribusi melalui edukasi promotif dan preventif yang membantu remaja memahami hubungan antara pengalaman perundungan, kesejahteraan psikologis, dan kebutuhan mendapatkan pertolongan.
Tentu saja, penerapan program semacam itu harus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan dievaluasi secara berkala. Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui apakah peningkatan pengetahuan dapat bertahan dan berkontribusi terhadap perubahan sikap maupun perilaku.
Dengan cara itu, hasil penelitian tidak hanya menjadi catatan tentang apa yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi awal bagi sesuatu yang dapat dikembangkan.
Apresiasi yang Melampaui Sebuah Gelar
Kepada Milli Mahalya Haerani, saya menyampaikan apresiasi atas pilihan tema dan upaya akademik yang telah dilakukan.
Mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja merupakan langkah yang berarti. Penelitian ini memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mengambil bagian dalam percakapan yang lebih luas mengenai pendidikan, kesehatan, dan perlindungan generasi muda.
Namun, apresiasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada keberhasilan menyelesaikan skripsi. Nilai sebuah karya akan semakin terasa ketika hasilnya dapat dipahami, dibicarakan, dan dimanfaatkan untuk mendorong perbaikan.
Tentu, perjalanan ilmu pengetahuan tidak selesai pada satu penelitian. Masih ada pertanyaan yang perlu dijawab, keterbatasan yang perlu diperhatikan, dan langkah-langkah yang perlu dikembangkan. Justru dari kesadaran itulah penelitian dapat menjadi bagian dari proses belajar yang berkelanjutan.
Bagi kampus, penelitian seperti ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya mendorong mahasiswa agar peka terhadap persoalan di sekelilingnya. Pendidikan tinggi bukan hanya tempat membangun kemampuan akademik, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan tanggung jawab sosial.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari gelar yang diperoleh atau dokumen yang diselesaikan. Ada ukuran lain yang tak kalah penting: sejauh mana pengetahuan yang dimiliki mampu membantu manusia memahami persoalan dan menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Penelitian Milli mungkin berangkat dari sebuah skripsi. Namun, pesan yang dibawanya jauh lebih luas: bahwa kepedulian dapat tumbuh melalui ilmu, dan ilmu akan menemukan maknanya ketika bersedia menjawab kebutuhan manusia.
Dari skripsi menjadi kepedulian. Dari pengetahuan menjadi kesadaran. Dan dari kesadaran, kita berharap tumbuh keberanian bersama untuk membangun ruang digital yang lebih aman bagi generasi muda.(*)












