Religi
BEYOND THE COVER : Ketika Tuhan Memilih Hatimu

Nats Alkitab : 1 Samuel 16:1-13
Oleh Pdt Lucy Abe Gerret STh
Bapak-ibu, saudara yang dikasihi Tuhan,
Ben Stuart, seorang hamba Tuhan dan penulis buku relasi Kristen terkenal di dunia.
Di masa mudanya, Ben sangat mencintai seorang wanita. Baginya, wanita itu adalah segalanya dan masa depannya.
Namun seiring waktu, Tuhan menyingkapkan kebenaran pahit: wanita itu ternyata tidak setia, berkarakter buruk, dan sangat toxic.
Hubungan mereka hancur lebur. Ben mengalami patah hati yang luar biasa dan duka yang teramat panjang.
Ia tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkannya melewati rasa sakit akibat pengkhianatan itu.
Namun, setelah hatinya dipulihkan, Tuhan justru mempertemukannya dengan Donna—seorang wanita luar biasa yang tidak hanya cantik, tetapi memiliki hati yang mencintai Tuhan dan mendukung penuh panggilan hidupnya.
Bersama Donna, Ben kini membangun keluarga yang memulihkan jutaan anak muda di dunia.
Di akhir masa pemulihannya, Ben Stuart menuliskan sebuah kalimat yang sangat indah: “Tuhan mematahkan hatiku yang dulu, justru untuk menyelamatkan seluruh sisa hidupku.”
Saudara, tahukah kita ketika Tuhan memisahkan kita dari seseorang yang kita cintai, itu bukan karena Tuhan jahat tetapi karena Tuhan melihat apa yang tidak bisa kita lihat.
Tuhan sedang memproteksi kita dari kehancuran masa depan, dan Dia sedang bersiap mengirimkan seseorang yang jauh lebih baik.
Dan inilah pula yang mau Tuhan sampaikan kepada Nabi Samuel yang sementara berdukacita hebat ketika Tuhan menolak Saul sebagai raja.
Siang malam nabi Samuel mendoakan agar Saul bertobat dan berbalik kejalan Tuhan, namun sayangnya Doanya tidak dijawab.
Samuel merasa masa depan Israel suram karena pemimpin yang ia urapi ternyata gagal dan berhati jahat.
Samuel menangisi Saul yang telah berbalik memunggungi Tuhan. Tetapi Tuhan datang kepadaNya memintanya bangkit dan Jangan terjebak di masa lalu.
Saul mungkin gagal, tetapi rencana Tuhan tidak pernah gagal. Olehnya Tuhan memerintahkan Samuel untuk melangkah ke Betlehem membawa tabung tanduk berisi minyak pengurapan untuk mengurapi seorang yang telah dipilih Tuhan menjadi masa depan bagi Israel.
Ia pergi untuk menjumpai Isai dan anak-anaknya. Ketika mereka dikumpulkan untuk upacara pengorbanan, sebuah drama manusiawi yang sangat menarik terjadi. anak sulung yang bernama Eliab masuk terlebih dahulu.
Begitu melihat Eliab, Samuel langsung terkesima. Eliab berparasan tampan, bertubuh tegap, berwibawa, dan gagah. Sehingga Samuel menyangka inilah orangnya.
Tetapi Tuhan langsung menginterupsi dan mengoreksi cara pandang nabi-Nya dengan kalimat teologis yang sangat menusuk di ayat 7:“Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Semua anak-anak Isai yang ada ditempat itu tidak dipilih Tuhan. Tetapi Tuhan justru memilih seorang anak yang bahkan tidak diperhitungkan kehadirannya waktu itu.
Anak yang menghabiskan hari-harinya bersama domba-dombanya, anak yang masih sangat muda, tidak gagah, juga terabaikan.
Daud orangnya, hati Tuhan tertambat kepada pemuda ini. Samuel melihat apa yang ada didepan mata, tetapi Tuhan melihat apa yang ada didalam hati Daud.
Saudara-saudara, kita harus mengakui bahwa dunia saat ini, sangat gila dengan “kemasan luar”—wajah yang menawan, pakaian bermerek, pencapaian yang megah, jabatan yang tinggi dan status sosial lainnya.
Tanpa itu semua, kita harus siap-siap diabaikan. Namun sebagai anak-anak Tuhan, jangan tenggelam dengan apa yang yang menjadi fenomena dunia ini, sebab Tuhan tidak memperhitungkan itu semua. Ia melihat hati, Tuhan melihat hati yang seperti Daud.
Hati yang murni, yang bisa lulus dari ujian rasa sakit serta bersih dari kepahitan, dendam, dan iri hati.
Hal ini terbukti dari dia yang diabaikan oleh ayahnya dan diremehkan oleh kakak-kakaknya, tetapi Daud tidak menyimpan dendam.
Bahkan ketika kelak dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, Daud tetap menolak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Hati Daud sungguh murni dan bebas dari bentuk-bentuk akar-akar kepahitan. Tetapipun kemurnian hati Daud juga dinyatakan dari bagaimana ia begitu mencintai Tuhan.
Dan ini nyata saat ia berhadapan dengan raksasa Goliat. Ketika seluruh tentara Israel—termasuk kakaknya yang gagah, Eliab—gemetar ketakutan, Daud dengan berani maju karena ia tidak tahan melihat Nama Tuhannya dihina.
Daud mengasihi Allah melebihi keselamatannya sendiri. Itulah mengapa ia disebut sebagai a man after God’s own heart.
Seseorang yang berkenan dengan hati Tuhan. Tentu ini bukan berarti Tuhan mencari orang yang sempurna, sebab Daudpun akhirnya jatuh juga, namun karena ketulusannya mencintai Tuhan ia segera bertobat dan diubahkan.
Sehingga saudara, melalui Firman ini mari belajar – ketika dunia ini mengajar kita untuk berlomba-lomba mecari nama, ketenaran, dan pengakuan, sebagai anak-anak Tuhan kita justru terpanggil untuk mengejar perkenananNya.
Tidak perlu melakukan hal besar yang mempesonakan manusia, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan, karena yang Tuhan lihat adalah hati yang tulus yang mau berupaya untukNya.
Saudara, Alkisah ada seorang Raja sombong yang membangun sebuah gereja yang sangat megah.
Karena ingin mendapatkan seluruh pujian sendirian, Raja itu membuat aturan ketat: tidak boleh ada satu orang pun di kerajaan itu yang menyumbang atau membantu pembangunan gereja tersebut.
Namun, setelah gereja itu selesai dengan nama sang Raja terukir besar di depannya, Tuhan memberikan mimpi yang sama tiga kali kepada Raja itu: ia melihat Tuhan justru mengukir nama gereja megah itu dengan nama seorang janda tua yang miskin.
Karena gelisah, keesokan harinya raja segera memanggil janda tua itu ke istana.
Maka dengan gemetar, janda itu menjelaskan apa yang telah ia lakukan untuk pembangunan gereja itu. Ia mengakui bahwa ia hanyalah seorang janda miskin yang tidak punya apa-apa.
Tetapi Ia sangat mengasihi Tuhan dan ingin sekali ikut terlibat dalam mendirikan rumah-Nya, tetapi ia tidak punya uang dan takut akan hukum Raja.
Maka apa yang ia lakukan : setiap hari ia pergi ke ladang mencari rumput segar, yang kemudian di sorenya ia letakkan rumput itu di pinggir jalan agar bisa dimakan oleh kuda-kuda penarik batu yang akan membawa bahan material untuk membangun gereja itu.
Ia melakukannya dengan tulus hanya demi membantu agar rumah Tuhan bisa berdiri. Mendengar hal itu, sang Raja menangis.
Ia sadar bahwa di hadapan Tuhan, kemegahan hartanya sama sekali tidak ada artinya dibanding ketulusan hati janda tua ini.
Saudara, Tuhan Yesus tidak mencari kemasan luar yang megah. Ia melihat hatimu yang tulus mengasihiNya. AMIN
,tetapi Daud tidak menyimpan dendam. Bahkan ketika kelak dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, Daud tetap menolak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Hati Daud sungguh murni dan bebas dari bentuk-bentuk akar-akar kepahitan. Tetapipun kemurnian hati Daud juga dinyatakan dari bagaimana ia begitu mencintai Tuhan.
Dan ini nyata saat ia berhadapan dengan raksasa Goliat. Ketika seluruh tentara Israel—termasuk kakaknya yang gagah, Eliab—gemetar ketakutan, Daud dengan berani maju karena ia tidak tahan melihat Nama Tuhannya dihina.
Daud mengasihi Allah melebihi keselamatannya sendiri. Itulah mengapa ia disebut sebagai a man after God’s own heart.
Seseorang yang berkenan dengan hati Tuhan. Tentu ini bukan berarti Tuhan mencari orang yang sempurna, sebab Daudpun akhirnya jatuh juga, namun karena ketulusannya mencintai Tuhan ia segera bertobat dan diubahkan.
Sehingga saudara, melalui Firman ini mari belajar – ketika dunia ini mengajar kita untuk berlomba-lomba mecari nama, ketenaran, dan pengakuan, sebagai anak-anak Tuhan kita justru terpanggil untuk mengejar perkenananNya.
Tidak perlu melakukan hal besar yang mempesonakan manusia, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan, karena yang Tuhan lihat adalah hati yang tulus yang mau berupaya untukNya.
Saudara, Alkisah ada seorang Raja sombong yang membangun sebuah gereja yang sangat megah. Karena ingin mendapatkan seluruh pujian sendirian, Raja itu membuat aturan ketat: tidak boleh ada satu orang pun di kerajaan itu yang menyumbang atau membantu pembangunan gereja tersebut.
Namun, setelah gereja itu selesai dengan nama sang Raja terukir besar di depannya, Tuhan memberikan mimpi yang sama tiga kali kepada Raja itu: ia melihat Tuhan justru mengukir nama gereja megah itu dengan nama seorang janda tua yang miskin.
Karena gelisah, keesokan harinya raja segera memanggil janda tua itu ke istana. Maka dengan gemetar, janda itu menjelaskan apa yang telah ia lakukan untuk pembangunan gereja itu.
Ia mengakui bahwa ia hanyalah seorang janda miskin yang tidak punya apa-apa. Tetapi Ia sangat mengasihi Tuhan dan ingin sekali ikut terlibat dalam mendirikan rumah-Nya, tetapi ia tidak punya uang dan takut akan hukum Raja.
Maka apa yang ia lakukan : setiap hari ia pergi ke ladang mencari rumput segar, yang kemudian di sorenya ia letakkan rumput itu di pinggir jalan agar bisa dimakan oleh kuda-kuda penarik batu yang akan membawa bahan material untuk membangun gereja itu.
Ia melakukannya dengan tulus hanya demi membantu agar rumah Tuhan bisa berdiri. Mendengar hal itu, sang Raja menangis.
Ia sadar bahwa di hadapan Tuhan, kemegahan hartanya sama sekali tidak ada artinya dibanding ketulusan hati janda tua ini.
Saudara, Tuhan Yesus tidak mencari kemasan luar yang megah. Ia melihat hatimu yang tulus mengasihiNya. AMIN











