Manado
Pilu, Ketua PWI Manado Dapat Kabar Ibunya Tidur di Pinggir Lapangan Sepakbola
Jaringan Padam dan Kepanikan Melanda, Cinta Keluarga Menjadi Satu-satunya Penuntun

Maumere,mediakontras.com – Langit Nusa Tenggara Timur masih tampak kelam ketika bumi tiba-tiba bergetar hebat.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di perairan selatan NTT itu datang tanpa ampun, mengguncang fondasi bumi, merobohkan tembok dan mengubah senyap menjadi jeritan histeris.
Di tengah hiruk-pikuk kepanikan yang melanda, di Desa Tendatoto, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, tersimpan sebuah kisah heroik yang mengharu biru.
Seorang ibu bernama Monika Mi, yang selama ini terbaring lemah akibat serangan stroke, nyaris menjadi korban keganasan alam.
Namun, takdir berkata lain. Di saat tanah bergoyang dan atap rumah mulai berderak, cinta keluarga berbicara lebih keras dari gemuruh gempa.
Dengan tubuh yang hampir tak mampu digerakkan, Monika Mi hanya bisa pasrah pada guncangan bumi yang begitu kencang.
Namun, kepanikan para anggota keluarga berubah menjadi tekad bulat: Ibu harus selamat.
Dalam hitungan detik, anak-anak dan suaminya Agustinus Kota menggotong tubuh ibu yang rentan itu, menerobos jalan yang bergetar dan penuh puing, menuju lapangan terbuka yang lebih aman.
“Saat gempa terjadi, saya di Manado langsung gelisah. Semua nomor keluarga tidak bisa dihubungi, jaringan internet di lokasi gempa benar-benar lumpuh total,” ujar Hut Kamrin, Ketua Pokja PWI Manado putra Sulut Monika Mi kepada mediakontras.com, Sabtu (15/8/2026).
Ia menuturkan betapa mencekamnya waktu yang berjalan ketika sambungan telepon hanya mendatangkan nada sibuk.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah kabar sukacita akhirnya terdengar dari Tendatoto.
“Puji Tuhan, ibunda tercinta, Monika Mi, selamat! Keluarga berhasil menyelamatkannya dari dalam rumah yang nyaris runtuh. Dan saat ini masih tidur malam di pinggir lapangan karena masih ada gempa susulan,” kata Hut Kamrin dengan suara bergetar.
Meski nyawa berhasil diselamatkan, perjuangan belum berakhir.
Hingga berita ini diturunkan, ibu Monika Mi masih harus terbaring di luar rumah, di bawah tenda darurat atau langit terbuka.
Gempa susulan yang masih sering terjadi membuat keluarga tak berani kembali ke dalam bangunan. Mereka memilih bertahan di pengungsian darurat, menjaga ibu mereka yang masih lemas.
Dari kejauhan, suara lirih Monika Mi yang dititipkan melalui keluarga hanya satu: doa.
“Dari Tendatoto, Monika Mi memohon doa agar kondisi saat ini bisa kembali pulih,” pungkas istri tercinta dari Agustinus Kota itu. Di balik gempa yang mengguncang tanah, harapan tetap bersemayam di hati keluarga yang enggan menyerah pada keadaan.(*)
















