Connect with us

Artikel

Pelangi Sehabis Hujan di 3T Kabupaten Sangihe: Kerja Nyata PLN Suluttenggo

Redaksi

Published

pada

16cb313b 40d4 419c aeb4 f8dcd48df0a0

Oleh: Muhamad Yaziin Solichin

Seperti pelangi sehabis hujan, harapan yang didambakan warga di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) kini menjadi kenyataan. Program Presiden Prabowo untuk menerangi daerah 3T perlahan tapi pasti telah terwujud. Pembangunan pembangkit dengan energi terbarukan semakin masif dilakukan oleh PLN Suluttenggo—bukti nyata komitmen menerangi wilayah kerja PLN Suluttenggo. Pembangkit terbarukan telah dibangun di antaranya di Kabupaten Sangihe: PLTS program listrik desa terbangun di tiga lokasi, yakni PLTS Lipang 93 kWp, PLTS Laotongan 180 kWp yang melayani sekitar 100 KK, serta PLTS Pahepa 270 kWp yang melayani sekitar 400 KK.

PLN membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari transisi energi di wilayah 3T. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, PLTS Lipang berkapasitas 93 kWp dan PLTS Laotongan 180 kWp resmi beroperasi dan Sementara PLTS Pahepa berkapasitas 270 kWp berada di wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Sitaro dan melayani Desa Pahepa serta Desa Tapile. Ketiganya merupakan bagian dari gelombang pembangunan 47 PLTS di 11 provinsi dengan total kapasitas 27,8 MW yang menyasar 5.383 rumah tangga di wilayah 3T.

Pelaksana utama adalah PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (UID Suluttenggo), bersama Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tahuna. Dukungan penuh datang dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kementerian ESDM, serta pemerintah pusat. Peresmian PLTS Lipang dihadiri langsung Bupati Sangihe Michael Thungari dan disaksikan Presiden Prabowo secara daring. Warga setempat—terutama komunitas nelayan—menjadi penerima manfaat sekaligus mitra dalam menjaga infrastruktur yang telah dibangun.

Lokasi utama berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang berbatasan langsung dengan Filipina. PLTS Lipang terletak di Kampung Lipang, Kecamatan Kendahe; PLTS Laotongan di Desa Laotongan, Kecamatan Tabukan Selatan; dan PLTS Pahepa di Desa Pahepa serta Tapile, Kecamatan Siau Timur Selatan (Kabupaten Sitaro). Wilayah ini tergolong 3T karena posisinya di perbatasan, akses laut yang menantang, dan keterbatasan infrastruktur jaringan listrik konvensional.

Pembangunan PLTS Laotongan diresmikan pada September 2024. PLTS Lipang mulai beroperasi sejak November 2024 dan diresmikan Presiden pada 26 Juni 2025. Adapun PLTS Pahepa di-energize pada 27 Maret 2025. Hingga 2026, PLN terus memperluas layanan listrik 24 jam ke pulau-pulau lain seperti Beeng Laut dan Bebalang, dengan target menuntaskan desa-desa 3T yang tersisa pada 2027.

Langkah ini merupakan wujud keadilan energi dan pemerataan pembangunan. Sebelum listrik hadir, warga hidup dalam keterbatasan: anak-anak belajar di bawah cahaya lilin, nelayan tidak bisa menyimpan hasil tangkapan, dan layanan kesehatan terganggu. Kehadiran PLTS tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperkuat layanan dasar di wilayah perbatasan. Selain itu, pembangunan PLTS mendukung komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 melalui pemanfaatan energi baru terbarukan.

PLN membangun PLTS beserta jaringan distribusi dan tiang listrik hingga ke rumah warga. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, diterapkan teknologi penyimpanan energi seperti baterai (BESS) pada sejumlah sistem, sehingga listrik tetap menyala meski matahari terbenam. Di tingkat komunitas, PLN juga menghadirkan inovasi Supersun—kombinasi panel surya dan baterai—untuk fasilitas pendidikan seperti SMP Satap Beeng Laut, memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung hingga malam. Sinergi dengan pemerintah daerah memastikan infrastruktur dijaga bersama, sementara sosialisasi kepada warga menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap aset pembangkit.

Pelangi sehabis hujan di Kabupaten Sangihe bukan sekadar metafora. Di ujung utara Sulawesi, di pulau-pulau yang jauh dari hiruk pikuk pembangunan, cahaya telah menyala—bukan dari genset berbahan bakar fosil, melainkan dari sinar matahari yang diubah menjadi energi bersih. Kerja nyata PLN Suluttenggo bersama pemerintah dan masyarakat telah membuktikan bahwa daerah 3T bukan lagi wilayah yang terpinggirkan dalam peta energi nasional. Listrik telah hadir, harapan telah tumbuh, dan masa depan yang lebih terang kini dapat diraih oleh anak-anak Sangihe dari ujung negeri.

Tegaskan Komitmen, Wujudkan Keadilan Energi hingga Pulau Terluar

PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (PLN Suluttenggo) menegaskan komitmennya untuk menghadirkan akses listrik yang merata bagi seluruh masyarakat, termasuk warga yang berada di pulau-pulau terluar Sulawesi.

Komitmen ini nampak ketika General Manager PLN Suluttenggo, Wahyu Catur Prasetyo, menyampaikan bahwa akses listrik tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menjadi faktor penting dalam membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan kesejahteraan, dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Kami percaya, tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang kehilangan kesempatan meraih masa depan hanya karena keterbatasan akses listrik. Dari pulau-pulau terluar Sulawesi, PLN Suluttenggo hadir bukan hanya untuk menyalakan lampu, tetapi juga menyalakan harapan, menggerakkan kehidupan, dan mewujudkan keadilan energi bagi seluruh negeri,” ujar Wahyu Catur Prasetyo.

Menurutnya, pemerataan akses listrik merupakan bagian penting dari upaya mendorong pembangunan yang inklusif. Kehadiran listrik di wilayah terpencil diharapkan dapat mendukung aktivitas masyarakat, meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, serta membuka peluang ekonomi baru.

Tantangan geografis di wilayah kepulauan dan daerah terpencil menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya memperluas layanan kelistrikan. Karena itu, komitmen menghadirkan listrik hingga wilayah terluar menjadi bagian dari upaya PLN untuk memastikan manfaat energi dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas.

PLN Suluttenggo terus menempatkan pemerataan akses listrik sebagai bagian dari peran perusahaan dalam mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas antardaerah sekaligus memberikan kesempatan yang lebih setara bagi masyarakat untuk berkembang.

Melalui komitmen tersebut, PLN Suluttenggo menegaskan bahwa listrik bukan sekadar infrastruktur, melainkan fondasi penting bagi kemajuan masyarakat. Dengan akses energi yang semakin merata, diharapkan tidak ada lagi keterbatasan listrik yang menghalangi anak-anak bangsa untuk belajar, berkarya, dan mewujudkan cita-cita mereka.

  • Penulis adalah wartawan mediakontras.com dari Sulawesi Utara

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */