Religi
Saat Malam Berganti Fajar

Nats Alkitab : Yeremia 29:11
oleh: Pdt Lucy Abe Gerret STH
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.
Suatu kali ada seorang pendeta yang terkenal sangat tenang didatangi keponakannya yang berlari ke ruang kerjanya sambil membawa sisa tulang ikan dan berteriak, “Dasar kucing nakal! Kurang ajar!”
Melihat keponakannya emosi, sang Pendeta tersenyum bijak dan menasihati dengan suara lembut, “Heh, tidak boleh marah begitu. Cuma ikan saja kok repot. Ingat firman Tuhan, kita harus belajar sabar. Ikhlaskan saja…”
Keponakannya menatap sang pendeta lalu berkata, “Tapi Om… ikan yang dimakan kucing itu… itu ikan hias Arwana super red di akuarium ruang tamu Om…” Seketika wajah Pendeta langsung berubah pucat, matanya melotot, lalu dia berteriak, “APA?! MANA KUCINGNYA?!”
Saudara, Sabar itu bagaikan mendayung perahu melawan arus; seperti menahan bersin saat bersembunyi dalam permainan petak umpet, butuh usaha luar biasa agar tidak pecah. apalagi kita ada di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat dan instan, kesabaran kita terasa seperti setipis tissue.
Namun walaupun sabar adalah salah satu kebajikan yang paling sulit dihidupi oleh manusia, sebagai orang percaya kita harus memiliki nilai kesabaran dalam hidup.
Seperti yang disampaikan oleh Yeremia 29:11. Firman ini disampaikan melalui surat Nabi Yeremia kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam situasi pembuangan di Babel. Mereka kehilangan tanah air, kehilangan Bait Allah, hidup tertekan, dan merasa frustrasi.
Di tengah keputusasaan itu, muncul nabi-nabi palsu yang menawarkan jalan pintas instan: “Tenang, dua tahun lagi kita pasti pulang!” Namun, Allah mengoreksi harapan palsu itu dan menegaskan bahwa mereka harus tinggal di sana selama 70 tahun, dan tentu saja angka 70 tahun ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa.
Pembuangan bagi mereka adalah “sekolah kesabaran”. Namun, sekalipun segala sesuatunya berjalan tidak seperti yang mereka harapkan, yakni mereka harus menjalani sebuah penantian panjang dan melewati proses yang melelahkan, mereka harus percaya bahwa pada akhirnya perjalanan ini akan mengalir menuju satu muara yang indah.
Allah sedang menegaskan bahwa pikiran-Nya melampaui batas waktu manusia. Manusia melihat kehancuran hari ini, tetapi Allah melihat ujung cerita yang sudah Dia desain sejak awal. “an expected end” yaitu sebuah akhir yang dinantikan dan diharapkan, akan diberikan Allah kepada mereka. Sehingga, firman ini memberikan kita sebuah pengharapan ditengah situasi sesulit apapun, tahan dan sabarlah didalam Tuhan, karena kesabaran adalah tindakan iman yang aktif, dimana kita tahu persis bahwa Allah sedang memegang ujung talinya.
Seperti seorang penulis novel yang hebat, Allah tidak pernah membiarkan karakter utama-Nya hancur di tengah cerita. Dia mengizinkan konflik, Dia mengizinkan air mata di Bab 3 atau Bab 4, tetapi Dia sudah menuliskan Bab Akhir yang penuh dengan kemenangan.
Saudara-saudara, mungkin saat ini sebagian dari kita merasa sedang berada di “Babel” kita masing-masing. Mungkin itu berupa masalah ekonomi yang tidak kunjung selesai, pemulihan kesehatan yang lambat, atau pergumulan keluarga yang tampaknya mustahil berubah dalam waktu dekat. Nasihat dunia mengatakan: “Cari jalan pintas, mengamuklah, atau menyerahlah.”
Tetapi Firman Tuhan hari ini berkata: “Sabarlah, dan hiduplah dengan setia di tempat kamu ditempatkan sekarang.” Jangan biarkan situasi saat ini membuat kita meragukan kebaikan Allah. Iman yang sejati tidak menuntut Allah mengubah malam menjadi siang dalam sekejap mata, melainkan memberikan kita kekuatan untuk berjalan menembus kegelapan, karena kita tahu fajar pasti menyingsing. Ingatlah, rancangan-Nya tidak pernah gagal, dan di ujung penantian kita, ada an expected end—sebuah akhir indah yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Amin.













