Connect with us

Religi

SIMFONI MANUSIA BARU

Redaksi

Published

pada

ok 2

Nats Alkitab : Efesus 4:17-32

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan, bayangkan Anda berkunjung ke sebuah restoran bintang lima. Pelayan menyajikan makanan yang sangat mewah, mahal, dan ditata dengan estetika tinggi.

Namun, saat Anda melihat lebih dekat, makanan mewah tersebut disajikan di atas piring yang penuh noda hitam, minyak pekat, dan bau busuk sisa makanan kemarin. Apakah Anda sudi mencicipinya? Tentu tidak.

Kemewahan makanan itu seketika menjadi menjijikkan karena wadahnya yang kotor. Demikianlah gambaran kehidupan rohani yang timpang. Hidup orang Kristen bagaikan makanan lezat yang tersaji diatas piring bersih, tidak boleh hanya kelihatan bagus di luar, tetapi di dalamnya membusuk. Tuhan menuntut kebersihan di kedua sisi: yaitu hati dan pikiran yang harus bersih, dan perbuatan nyata sehari-hari harus terasa manis dan berdampak baik saat “dicicipi” oleh orang lain.

Rasul Paulus menyampaikan pesan ini dengan sangat kuat dalam Efesus 4:17-32. Ia menggunakan metafora menanggalkan dan mengenakan pakaian. Bagi orang Yahudi dan dunia kuno, pakaian bukanlah sekadar penutup tubuh.

Pakaian adalah identitas, status, dan representasi visual dari jati diri seseorang. Cara seseorang berpakaian menunjukkan siapa dia dan bagaimana kondisi moralnya. Identitas orang percaya dijelaskan dari “pakaian” yang ia gunakan.

Jika ia adalah pengikut Kristus maka ia wajib mengenakan Kristus dalam hidupnya.  Paulus menggunakan struktur pakaian abad pertama yang terdiri dari dua lapis, pakaian bagian dalam (tunik) dan pakaian luar (jubah) untuk menuntut perubahan hidup yang seimbang. Hati dan perbuatan tidak boleh bertolak belakang.

Paulus menjelaskan bahwa setiap orang yang telah “belajar mengenal” Kristus dalam Bahasa Yunani Manthano yang artinya telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus wajib membuang pakaian lama.

Pakaian lama yang terdiri dari; pakaian bagian dalam – berupa pengertian yang tidak mengenal Allah, pikiran yang sia-sia, gelap dan jauh dari Allah, kekerasan hati, perasaan yang tumpul (ay.17,18) yang dinyatakan pada jubah luarnya yaitu perbuatan yang mengejar hawa nafsu dan keserakahan (ay. 19) yang diwarnai dengan Dusta, marah, Mencuri, Perkataan Kotor Kepahitan, Kegeraman, Pertikaian, Fitnah, dan Segala Kejahatan. Paulus memperingatkan bahwa pakaian lama ini jika tidak ditanggalkan hanya akan menghancurkan hidup kita (ay. 22).

Tetapi Paulus berkata, hendaklah semua pakaian itu diganti dengan pakaian manusia baru diciptakan menurut gambar Allah yang terdiri dari : pakaian bagian dalam yakni kebenaran dan kekudusan yang sejati (ay. 24), Hati dan pikiran yang dibaharui secara terus-menerus ; yang jubah luarnya yaitu sikap yang Ramah, penuh Kasih Mesra, dan Saling Mengampuni.

Seluruh pakaian kehidupan orang percaya harus diganti total! Tidak ada yang namanya tambal sulam moral. Kita tidak boleh memakai sebagian pakaian baru di atas pakaian lama.

Jika kita hanya mengganti “tunik” batin menjadi baru (merasa rohani di dalam) tetapi jubah luar kita masih berbau busuk lewat dusta dan fitnah, atau sebaliknya hanya memakai jubah luar yang tampak saleh namun batin kita penuh kepahitan, tindakan setengah-setengah ini hanya akan mendukakan Roh Kudus Allah (ay. 30).

Pembaruan hati dan pikiran di dalam harus berbanding lurus dengan indahnya perbuatan lahiriah kita di luar. Ketika “piring” batin kita bersih dan “makanan” perbuatan kita lezat, saat itulah hidup kita memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama anggota tubuh Kristus.

Maka lewat firman ini mari kita belajar, Jangan pernah mengaku percaya kepada Yesus jika sikap hidupmu tidak menceritakannya! Hari-hari ini, ada banyak orang yang sangat paham teologi, pintar berkhotbah, dan hebat dalam menghafal ayat Firman Tuhan.

Namun tragisnya, hidup mereka justru “tidak enak dicicipi” oleh orang lain. Mereka menjadi pribadi yang keras hati, enggan mengampuni sesama, dan melontarkan kata-kata yang tajam serta menyakitkan.

Saudara, mengenal Yesus berarti kita harus mengubah hidup kita secara total dan membuat keberadaan kita terasa indah dan manis dalam kebersamaan. Ingatlah kisah pertobatan Zakeus, sang kepala pemungut cukai.

Sebelum mengenal Yesus, jubah kehidupannya ditenun dari ketamakan, pemerasan, dan keegoisan yang dibenci semua orang. Namun, setelah Yesus masuk ke rumahnya dan ia mengalami perjumpaan pribadi yang sejati, Zakeus mengalami perubahan hidup yang radikal.

Hatinya dipulihkan, dan sikapnya berubah total! Ia langsung berdiri dan berkata akan memberikan setengah hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat jika pernah memeras orang. Hidup Zakeus yang tadinya pahit bagi sesama, seketika berubah menjadi manis, berdampak, dan membawa sukacita bagi komunitasnya.

Bagaimana dengan kita? Jika kita berkata telah mengenal Yesus, buanglah manusia lama kita sekarang juga. Hiduplah sebagai manusia baru yang utuh dari dalam hingga luar.

Sebab, Kekristenan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak Firman Tuhan yang mampu Anda perdebatkan, melainkan juga dari seberapa banyak karakter Kristus yang terwujud dalam keramahan dan pengampunan yang Anda tunjukkan.

Tuhan Yesus memberkati kita. Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */