Artikel
Jangan Gagal Fokus

Nats Alkitab : Matius 14:30
Pdt Lucy Abe Gerret STh
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pada tahun 1952, seorang perenang jarak jauh bernama Florence Chadwick mencoba berenang melintasi Selat Catalina sepanjang puluhan kilometer. Ia sudah bertahan selama 15 jam menembus air laut yang dingin.
Namun tiba-tiba, sebuah kabut tebal turun dan menutup seluruh pandangannya. Karena tidak bisa melihat apa pun di depannya, Florence kehilangan arah, diserang rasa takut, dan akhirnya menyerah.
Ia meminta tim penyelamat untuk mengangkatnya ke atas perahu. Namun, begitu ia naik ke perahu dan kabut sedikit terbuka, Florence menangis penuh penyesalan. Ternyata, garis pantai tujuan yang ia tuju hanya berjarak kurang dari 1 kilometer lagi.
Jaraknya sudah sangat dekat, tetapi ia gagal. Saat diwawancarai, Florence berkata: “Bukan karena air yang dingin yang membuat saya gagal, melainkan karena kabut itu membuat saya kehilangan fokus pada garis pantai. Jika saja saya tetap bisa memfokuskan pandangan saya pada tujuan, saya pasti berhasil.
Saudara, sering kali dalam kehidupan rohani, kita bertindak persis seperti itu. Kita sedang berjalan bersama Tuhan, tetapi ketika badai kehidupan datang, kita membiarkan “kabut” persoalan mengalihkan fokus pandangan kita.
Kita justru menggunakan seluruh perhatian kita untuk memandangi besarnya tantangan. Lihatlah bagaimana ini terjadi pada Petrus dalam Matius 14:30. Sebelumnya, selama mata Petrus memandang lurus kepada Yesus yang ada di depannya, ia bisa melakukan perkara yang luar biasa dan mustahil bagi logika, yaitu berjalan di atas permukaan air.
Namun, ayat 30 mencatat: “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia…” Begitu fokus pandangan Petrus bergeser dari Yesus ke arah tiupan angin yang kencang dan besarnya gelombang di sekelilingnya, rasa takut langsung menguasai hatinya, seketika ia tenggelam. Padahal danau Galilea adalah rumah bagi Petrus.
Ia adalah seorang nelayan professional. Dikatakan para pakar studi Alkitab, jika ada satu tempat di bumi di mana Petrus merasa paling ahli dan percaya diri, tempat itu adalah di atas air. Namun keahlian berenang Petrus mendadak lumpuh dan tidak berfungsi.
Di bawah bayang-bayang ketakutan yang meguasainya seluruh logika manusiawi Petrus macet. Ia tidak lagi berpikir bahwa ia bisa berenang, ia tidak lagi melihat perahu di dekatnya; ia hanya melihat masalahnya jauh lebih besar daripada kemampuan yang ia miliki. Petrus gagal fokus, ia membiarkan situasi di sekitarnya mendikte hatinya.
Petrus tenggelam bukan karena kuasanya berjalan di atas air tiba-tiba lenyap, melainkan karena ia mengalihkan fokusnya dari Sang Sumber Kuasa kepada badai. Tetapi di titik terendahnya, ketika air danau mulai menelan tubuhnya, Petrus mengambil sebuah tindakan iman yang sangat sederhana.
Ia tidak mencoba berenang dengan kekuatannya sendiri sebagai mantan nelayan, melainkan ia berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan memegang dia. Tuhan tidak pernah membiarkan orang yang berseru kepada-Nya binasa di dalam badai.
Saudara hari ini, mungkin banyak di antara kita yang sedang berada di tengah “kabut” dan “badai” kehidupan yang sangat pekat yang membuat kita merasa hampir tenggelam. Tetapi ingatlah, fokus pada masalah hanya akan melumpuhkan kemampuan kita, menghancurkan logika kita, dan bahkan perlahan-lahan merampas kepercayaan kita kepada Tuhan.
Fokus pada masalah tidak pernah menyelesaikan apa pun; ia hanya akan membuat kita gagal, menyerah kalah, dan akhirnya tenggelam dalam keputusasaan. Karenanya, berhentilah memandang badai, alihkan mata kita, dan mulailah belajar untuk fokus pada Allah, pastilah kita akan selamat.
Saudara tahukah kita kelanjutan kisah Florence Chadwick tadi, dua bulan setelah kegagalannya yang pertama, Florence kembali mencoba untuk kedua kalinya. Tantangannya tidak menjadi lebih mudah.
Air lautnya tetap sedingin dulu, badannya tetap selelah dulu, dan ketika ia mulai mendekati garis pantai, kabut tebal yang sama kembali turun menutup seluruh pandangannya. Tetapi kali ini hasilnya sangat berbeda! Florence terus berenang menembus kabut, dan akhirnya ia berhasil mencapai garis pantai dengan selamat, bahkan mencetak rekor dunia baru.
Ketika para wartawan bertanya apa rahasianya sehingga kali ini ia berhasil menembus kabut yang sama, Florence memberikan jawaban meyakinkan: “Kali ini, ketika kabut tebal itu turun dan menutup mata saya, saya tidak lagi berfokus pada kabutnya. Di dalam pikiran saya, saya terus membayangkan dan memfokuskan hati saya bahwa garis pantai tujuan itu nyata dan ada di depan sana.”
Saudara jangan gagal fokus, Yesus tahu badai di depanmu saat ini sangat menakutkan. Ia tahu gemuruh masalah ekonomimu begitu bising, pergumulan keluargamu begitu menguras air mata, dan ombak sakit penyakitmu terasa begitu tinggi menghantam. Namun, justru karena Ia tahu betapa menakutkannya badai itu, hari ini Ia mengulurkan tangan-Nya dan berbisik lembut: “Anak-Ku, jangan alihkan pandanganmu, Fokus saja pada-Ku, sebab Aku jauh lebih besar dari badai apa pun yang sedang mengancam hidupmu.”
Tuhan Yesus memberkati kita.Amin













