Connect with us

Artikel

Bukan Nama, Tapi RasaNats Alkitab : Matius 5:13

Redaksi

Published

pada

ok 1

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian.

Di tengah badai salju pegunungan Himalaya yang lebat, Seorang hamba Tuhan asal India, Sadhu Sundar Singh dan rekannya menemukan seorang musafir yang terkapar hampir mati.

Melihat hal itu, sang rekan menolak membantu. Ia berkata, “Perjalanan kita sudah terlalu berat. Jika kita menolongnya, kita semua akan mati membeku!” Ia pun melangkah pergi sendirian.

Namun, Sundar Singh tidak tega. Di tengah badai yang mencengkeram, ia memilih memikul orang asing yang sekarat itu di punggungnya. Langkahnya terasa sangat berat, melelahkan, dan menyakitkan.

Namun mukjizat terjadi: rasa lelah yang luar biasa itu justru membuat tubuh Sundar Singh mengeluarkan panas tubuh dan keringat hangat.

Kehangatan itu mengalir, menghidupkan kembali musafir di punggungnya. Dan luar biasanya, panas yang sama pula yang menjaga Sundar Singh sendiri tetap hidup menembus kebekuan alam.

Di ujung jalan, Sundar Singh terkejut saat menemukan rekannya—yang tadi berjalan sendirian demi menyelamatkan diri sendiri—justru telah tewas mati membeku.

Kisah ini memberikan pesan yang sangat telak: manusia baru benar-benar hidup ketika ia mau peduli dan berfungsi memberikan rasa hangat serta kehidupan bagi sesamanya.

Sebaliknya, ketika kehidupan rohani kita menjadi dingin, egois, dan sama sekali tidak berfungsi memberikan rasa atau dampak yang baik, maka keberadaan kita tidak lagi berharga di hadapan Tuhan.

Hal ini disampaikan Yesus dalam firman Tuhan yakni Matius 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Saudara, pernakah kita melihat garam orang Palestina jaman dahulu? Garam di Palestina pada masa itu tidak murni seperti garam kemasan yang putih dan bersih di dapur kita sekarang.

Garam saat itu umumnya diambil dari daerah sekitar Laut Mati dan bercampur dengan mineral-mineral lain seperti gips, pasir, atau tanah.

Ketika garam ini terkena air, baik itu dipakai berulang-ulang atau disimpan di tempat yang lembab, zat natrium kloridanya akan larut dan menguap hilang.

Apa yang kemudian tersisa? Yang tersisa hanyalah bubuk mineral putih tanpa rasa. Bubuk itu sekilas tampak persis seperti garam, tetapi sama sekali sudah kehilangan daya asinnya.

Karena sudah tidak berfungsi dan tidak berguna lagi untuk masakan, orang-orang di zaman itu akan membuangnya begitu saja ke jalanan untuk mengeraskan tanah atau menimbun lubang jalan yang becek.

Akibatnya, ia berakhir sia-sia dan diinjak-injak kaki orang yang lewat. Yesus mengambil gambaran garam yang tidak berguna ini untuk menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak menginginkan kita menjadi Kristen yang tawar, kehilangan esensi rohani, lalu berakhir sia-sia dan diremehkan oleh dunia.

Sebaliknya, Yesus menuntut kita menjadi murid-murid yang berfungsi seutuhnya.

Seperti garam yang berfungsi mencegah pembusukan, Kehadiran kita di tengah keluarga, tempat kerja, dan masyarakat bukan sekadar untuk hadir, melainkan untuk menjadi penahan pembusukan moral.

Ketika orang-orang di sekitar kita mulai menganggap kecurangan sebagai hal yang lumrah, kita harus membawa integritas kejujuran.

Ketika lingkungan kita dipenuhi oleh gosip, kebencian, dan adu domba, kita hadir untuk menghentikan racun tersebut.

Kita dipanggil untuk hidup kudus dan berani menyatakan apa yang benar di hadapan Allah, sehingga pembusukan dosa di dunia ini dapat ditahan oleh kesaksian hidup kita.

Tetapi juga selain untuk mencegah pembusukan garam juga berfungsi untuk memberi rasa. Hidup kita harus membawa “rasa” yang baik—menyalurkan damai, sukacita, dan kebenaran Kristus.

Kehadiran seorang anak Tuhan sekalipun tidak menonjol, harus membuat sebuah lingkungan menjadi jauh lebih baik, lebih indah, dan lebih harmonis daripada sebelum kita ada di sana.

Saudara, seorang barista ahli mendemonstrasikan sebuah trik unik kepada para pelanggannya. Dia menyeduh secangkir kopi hitam yang sangat pekat dan pahit.

Sebelum menyajikannya, dia memasukkan sejumput kecil garam ke dalam kopi tersebut. Para pelanggan bingung dan mengira kopi itu akan menjadi asin dan tidak enak.

Namun saat dicicipi, mereka terkejut. Kopi itu tidak terasa asin sama sekali. Sebaliknya, rasa pahit yang tajam dan menusuk lidah mendadak hilang, memunculkan cita rasa kopi yang lebih lembut dan nikmat.

Garam itu bekerja “secara rahasia”. Dia tidak menonjolkan dirinya (karena kopi itu tidak menjadi asin), tetapi keberadaannya menghancurkan rasa pahit.
Menjadi garam di tengah dunia yang rusak dan membusuk memang tidak pernah mudah.

Ada beban yang berat, pengorbanan ego, kenyamanan, dan waktu yang harus kita bayar. Namun, percayalah Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjuang sendirian.

Maka tetaplah memberi rasa, tidak perlu menonjol, tidak perlu dilihat oleh dunia. Karena ketulusan yang tersembunyi di bumi, selalu menjadi hal yang paling indah di mata surga. Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */