Connect with us

Artikel

Kunci Pas Kecil Di Tangan Montir Yang Handal

Redaksi

Published

pada

ok 1

Nats Alkitab : Matius 17:20

Oleh: Pdt Lucy Abe Gerret STh

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Satu kali ada seorang anak laki-laki pergi menemani ayahnya memperbaiki motor mereka disebuah bengkel. Di sudut bengkel itu, anak ini melihat sebuah dongkrak hidrolik raksasa yang sangat besar, kokoh, dan dicat dengan warna merah yang gagah.

Si anak berkata dengan kagum, “Wah.. dongkrak itu besar dan hebat sekali! Pasti dengan alat sebesar itu, sebuah motor pasti bisa langsung terangkat dengan mudah!”.

Mendengar antusias anak ini, seorang montir yang sementara bekerja tersenyum. Ia mendekat kearah dongkrak itu, dan menekan tuas dongkrak raksasa tersebut, namun tidak terjadi apa-apa.

Ia memperlihatkan kepada anak tadi bahwa dongkrak raksasa itu macet total, sudah rusak, dan sama sekali tidak berfungsi. Tidak selesai disitu, dengan sebuah lirikan ia meminta anak tadi untuk tetap memperhatikannya.

Montir ini kemudian mengambil sebuah kunci pas kecil yang sudah agak tua dari kantong celananya. Alat itu sangat kecil dan tampak sepele jika dibandingkan dengan dongkrak raksasa tadi.

Namun, begitu montir memasang kunci pas kecil itu ke baut motor dan memutarnya dengan tepat, baut yang tadinya macet keras langsung terlepas, dan motor mereka pun bisa diperbaiki.

Melihat anak yang kebingungan ini, ia mendekat dan berkata kepada anak tersebut “jangan terkecoh dengan apa yang kelihatan besar dan gagah di luar.

Dongkrak besar tadi tampak hebat, tapi ternyata rusak dan tidak berfungsi sama sekali. Tetapi kunci pas kecil ini, meskipun ukurannya kecil, ia asli, siap pakai, dan berfungsi dengan baik di tangan montir yang tepat.

Sesuatu yang kecil namun berfungsi dengan baik, jauh lebih berguna daripada yang terlihat besar dan mewah tapi sebenarnya tidak berfungsi.”

Saudara, Sering kali kita berpikir bahwa, untuk melihat kuasa Tuhan bekerja, kita harus menjadi “raksasa iman” yang tidak pernah takut atau ragu seperti dongkrak besar tadi.

Namun, dalam Matius 17:20, Yesus membongkar cara berpikir kita melalui gambaran sebutir biji sesawi.

Ia mengatakan hal ini kepada murid-muridNya setelah mereka gagal mengusir setan karena mengalami oligopistia atau “kurang percaya”.

Arti kurang percaya di sini bukan berarti ukuran iman mereka tinggal sedikit, melainkan iman mereka kosong dan mati.

Mereka gagal karena mereka mulai sombong dan mengandalkan pengalaman pelayanan mereka sendiri, bukan lagi bersandar kepada Tuhan.

Iman mereka kelihatan besar di luar, tetapi mati di dalam. Karenanya Yesus berkata kepada mereka, “…Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.”

Yesus memilih biji sesawi yang sangat kecil,karena ada esensi kehidupan di dalamnya. Biji sesawi adalah benda hidup, sekecil apa pun bentuknya. Jika ditanam, ia akan pecah, bertumbuh, dan menjadi pohon yang besar.

Iman yang seperti inilah yang Yesus inginkan dari kita. Iman yang hidup, murni, dan melekat kepada Allah.

Yesus berkata bahwa dengan iman yang hidup sekalipun kecil seperti ini, bahkan kita bisa memindahkan gunung.

Dalam budaya Yahudi saat itu, “memindahkan gunung” adalah gaya bahasa (hiperbola) untuk menggambarkan jalan keluar dari masalah atau beban penderitaan yang luar biasa berat, yang secara logika manusia mustahil diselesaikan.

Yesus tidak sedang menyuruh kita membuat mukjizat untuk menggeser gunung fisik. Ia berkata demikian, untuk menunjukkan sebuah kontras yang luar biasa: Bukan ukuran iman kita yang memindahkan gunung itu, melainkan kuasa Allah yang Mahabesar.

Ketika iman kita yang seukuran biji sesawi itu melekat pada Allah yang Mahakuasa, maka seluruh ukuran dan kekuatan gunung masalah itu menjadi tidak berarti apa-apa di hadapan kemahakuasaan-Nya.

Saudara, Iman yang terlihat hebat diluar tapi tidak berfungsi adalah iman yang hanya menjadi “pajangan” saja.

Sekalipun kita rajin ke gereja, hafal ayat Alkitab, tampak hebat di mata orang lain, tetapi jika di dalam hati, kita tidak benar-benar bersandar pada Tuhan, tetapi justru sibuk mengandalkan kekuatan, kepintaran, kekayaan, atau koneksi kita sendiri.

Percayalah, ketika badai datang, iman pajangan itu tidak bisa menolong kita.
Hari ini, mungkin ada di antara kita yang sedang berdiri di depan “gunung” persoalan yang sangat berat.

Melalui Firman ini, Yesus mau bahwa Ia tidak meminta kita menjadi manusia super yang tidak bisa menangis.

Yang dimintaNya hanyalah iman kita yang tak perlu tampak hebat diluar saja namun kosong didalam, yang kecil saja tapi itu berfungsi dengan baik untuk, hidup bersandar total padaNya.

Tuhan mencari hati yang hancur, yang datang ke altar-Nya dan berkata jujur: “Tuhan, aku ini lemah. Masalah di depanku sangat besar. Aku tidak punya apa-apa untuk diandalkan, tetapi hari ini aku menyerahkan hatiku yang kecil dan rapuh ini ke dalam tangan-Mu.”

Saudara, berhentilah mengandalkan kekuatan diri sendiri, tetapi marilah kita belajar menyerahkan iman kita kepadaNya.

Karena di tangan Allah, iman yang sekecil biji sesawi pun dipastikan menjadi saluran bagi kuasa Allah yang tidak terbatas untuk memulihkan hidup kita.

Pastikan imanmu hidup, sekalipun hanya seperti biji sesawi besarnya.
Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */