Connect with us

Artikel

Hadir-Mu Cukup Bagiku

Redaksi

Published

pada

ok

Nats Alkitab : Ibrani 13:5

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan, dalam tradisi kuno Suku Indian Cherokee, setiap anak laki-laki yang beranjak remaja wajib mengikuti sebuah ritual pendewasaan yang sangat berat.

Pada malam hari, matanya akan ditutup rapat dengan kain, lalu sang ayah akan membawanya jauh ke dalam hutan belantara sepanjang malam. Bayangkan ketakutan anak itu. Di tengah kegelapan total, tanpa bisa melihat apa-apa, ia terus dikepung oleh ketakutan dan rasa sepi yang mencekam.

Ia merasa benar-benar tidak berdaya di dalam pekatnya malam. Namun, begitu fajar pagi menyingsing, ketika ia diperbolehkan membuka penutup matanya. Saat itulah matanya akan terbelalak melihat sesosok pria berdiri kokoh hanya beberapa langkah di sampingnya sambil memegang busur dan panah yang siap sedia.

Pria itu adalah ayahnya sendiri. Ternyata, sang ayah tidak pernah pergi. Sepanjang malam, dalam kegelapan dan keheningan, sang ayah berdiri setia menjaga dan melindunginya dari bahaya apa pun.

Saudara, ada berapa banyak dari kita yang seringkali merasa seperti anak remaja Cherokee ini. Ditengah kegelapan penderitaan, masalah ekonomi, dan ketakutan akan masa depan, ditengah kecemasan kita berkata: “Tuhan, di manakah Engkau? Mengapa Engkau meninggalkan aku sendirian di tengah kegelapan ini?.” 

Namun melalui surat Ibrani 13:5, kita disapa dengan penuh kasih oleh realitas penyertaan-Nya selalu nyata dalam kehidupan kita. Penulis surat Ibrani menyatakan dengan jelas bahwa, di tengah kegelapan penderitaan dan kesukaran hidup orang-orang percaya pada waktu itu, ada sebuah janji yang manis bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.

Memang pada waktu iman menuntut harga yang sangat mahal: mereka harus mengalami penganiayaan, dikucilkan, bahkan harta benda mereka dijarah dan dirampas (Ibrani 10:34). Mereka berada dalam situasi penderitaan ekonomi yang sangat berat.

Dalam kegelapan hidup yang serba kekurangan inilah, kecemasan mulai mencekam hidup mereka, dan mereka mulai kehilangan rasa cukup. Melihat kondisi jemaat yang goyah, penulis Ibrani memberikan perintah yang tegas di awal ayat 5: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Mengapa larangan ini diberikan justru saat mereka miskin dan menderita? Karena situasi ini sangatlah rentan.

Ditengah kesulitan hidup seperti ini banyak orang rela melakukan apa saja untuk terbebas dari masalah yang ada, termasuk meninggalkan Tuhan karena ingin menikmati kehidupan yang serba ada. Namun kita diingatkan untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada.

Belajarlah menjadi puas untuk semua yang ada padamu. Menaruh rasa aman pada materi duniawi adalah kesalahan fatal. Umat Tuhan harus belajar bersyukur dengan apa yang ada, karena hidup mereka ada di bawah kedaulatan Allah yang Maha Kuasa.

Dasar mutlaknya ada pada kalimat selanjutnya: “Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’ Kutipan ini diambil dari janji Allah di Perjanjian Lama.

Namun, dalam teks asli bahasa Yunani, penulis Ibrani menyusun kalimat ini dengan penyangkalan ganda yang sangat berlapis-lapis (Double Negative). Jika diterjemahkan secara harfiah, Tuhan sedang berkata dengan sangat kuat: “Aku tidak akan pernah, sama sekali tidak akan pernah melepaskanmu, dan Aku tidak akan pernah, bagaimanapun jalannya, meninggalkanmu.” Lihatlah betapa kuatnya jaminan penyertaan ini.

Saudara, penderitaan memang nyata, tetapi batasan kegelapan kita dikunci oleh janji penyertaan-Nya yang mutlak. Kenyamanan duniawi bisa dirampas, tetapi kehadiran Tuhan tidak akan pernah bisa dijarah oleh siapa pun.

Saat ini ketika tekanan ekonomi menghimpit, ketika tubuh fisik mulai sakit, atau ketika masa depan terlihat begitu berkabut, dan ketika kita merasa bahwa Tuhan telah melupakan kita di dalam kegelapan.

Ingatlah bahwa keadaan boleh berubah, air mata boleh jatuh, tetapi janji Allah di dalam Ibrani 13:5 tidak akan pernah bergeser satu milimeter pun. Kita tidak sendirian, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Saudara, Pada tahun 1945, di penghujung Perang Dunia II, kota Köln di Jerman hancur lebat akibat pengeboman. Di tengah reruntuhan itu, sekelompok orang yang takut ditangkap terpaksa bersembunyi di dalam sebuah ruang bawah tanah yang sempit, kotor, dan gelap gulita selama berbulan-bulan demi menghindari kejaran musuh.

Mereka hidup dalam ketakutan ekstrem dan kegelapan total tanpa sinar matahari sedikit pun. Ketika perang berakhir dan pasukan pembebas memeriksa ruangan bawah tanah yang pengap tersebut, mereka menemukan bahwa orang-orang di dalamnya telah tiada.

Namun, di salah satu sudut dinding batu yang gelap, perhatian seorang tentara tertuju pada sebuah tulisan.yang adalah pesan yang dipahat secara kasar menggunakan paku atau batu tajam. Di tengah pekatnya kegelapan, orang tersebut menuliskan kalimat iman yang sangat menggetarkan jiwa: “Aku percaya pada matahari, sekalipun ia tidak sedang bersinar. Aku percaya pada kasih, sekalipun aku tidak sedang merasakannya. Aku percaya pada Tuhan, sekalipun Dia sedang diam.”

Saudara, Orang yang menulis kalimat ini tidak bisa melihat matahari, tidak bisa merasakan kenyamanan, dan situasinya dipenuhi kegelapan maut. Tetapi, ia tahu persis, bahwa meskipun matahari tertutup oleh beton ruang bawah tanah, matahari itu tidak pernah lenyap.

Dan meskipun Tuhan terasa diam di dalam penderitaannya, Tuhan tidak pernah sedetik pun meninggalkan dirinya sendirian. Bagaimana dengan kita saat ini? Marilah berkata diruang paling gelap hidup kita : “Tuhan aku tahu Engkau ada.. kehadiranMu cukup bagiku..” Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */