Ekonomi
CIMB Niaga dan Langkah Panjang Memberdayakan UMKM Indonesia Timur, Lombok Jadi Prioritas


Oleh: M. Yaziin Solichin
Pertumbuhan UMKM di Indonesia tidak hanya lahir dari pusat-pusat ekonomi besar. Di berbagai daerah, termasuk kawasan Indonesia Timur, usaha kecil tumbuh dari kreativitas masyarakat, potensi alam, budaya lokal, serta keberanian untuk memulai dari keterbatasan.
Namun, perjalanan UMKM untuk berkembang tidak selalu mudah. Persoalan modal, kemampuan mengelola usaha, akses pasar, hingga keterbatasan terhadap layanan perbankan masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak pelaku usaha.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu perhatian PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) melalui Program Community Link #JadiBerkelanjutan.
Memasuki musim keempat, program tersebut kembali memperluas jangkauan pemberdayaan UMKM di kawasan Indonesia Timur. Kali ini, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.
Pemilihan Lombok bukan sekadar persoalan geografis. Pulau ini memiliki kekayaan sumber daya alam, budaya, pariwisata, serta potensi ekonomi masyarakat yang dinilai dapat dikembangkan lebih jauh melalui UMKM berbasis ekonomi berkelanjutan.
Bagi pelaku usaha lokal, kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, pendampingan, dan akses pembiayaan tentu menjadi modal penting untuk membawa usaha mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Dari Manado hingga Lombok
Program Community Link #JadiBerkelanjutan bukan program yang baru dimulai. Sejak 2022, CIMB Niaga bersama mitra pelaksana Berdaya Bareng telah menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan di sejumlah wilayah Indonesia Timur.
Wilayah Mamminasata—Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar—menjadi salah satu lokasi awal. Program kemudian menjangkau Toraja, Manado, Samarinda, Balikpapan, hingga Kupang.
Selama perjalanan tersebut, sebanyak 979 UMKM telah mendapatkan pelatihan, sementara sekitar 150 pelaku usaha memperoleh akses modal.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Modal memang penting, tetapi kemampuan mengelola bisnis dan memahami pasar menjadi faktor yang tidak kalah menentukan.
Karena itu, pelatihan dan pendampingan ditempatkan sebagai bagian penting dalam program tersebut.
Memasuki Musim ke-4 yang dimulai pada 2025, ekspansi kembali dilakukan ke Banjarmasin, Pontianak, Kendari, dan Lombok.
Sebanyak 284 pelaku UMKM mengikuti rangkaian pelatihan. Setelah melalui proses seleksi, 57 pelaku usaha dinyatakan lolos untuk mendapatkan pembiayaan tanpa bunga atau dukungan nonfinansial lanjutan.
Dari jumlah tersebut, terdapat 12 wirausaha asal Pulau Lombok yang menjadi penerima manfaat. Mereka merupakan pelaku usaha yang sebelumnya menghadapi keterbatasan dalam memperoleh akses perbankan.
Bukan Sekadar Modal
Di sinilah konsep pemberdayaan menjadi penting.
Bagi pelaku UMKM, mendapatkan modal hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Tanpa kemampuan mengelola keuangan, mengembangkan produk, membaca pasar, dan membangun jaringan, tambahan modal belum tentu otomatis membuat usaha berkembang.
CIMB Niaga mencoba menjawab persoalan tersebut dengan memberikan kombinasi antara pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pilar Pemberdayaan Ekonomi dalam strategi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.
“Kami membekali UMKM dengan pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan agar mereka dapat meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas pasar. Kami berharap mereka tidak hanya berkembang secara bisnis, tetapi juga mampu berkontribusi bagi komunitas,” ujar Fransiska.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah program yang ingin dibangun: bukan sekadar membantu UMKM bertahan, tetapi mendorong mereka menjadi lebih mandiri dan mampu menciptakan dampak ekonomi di lingkungan sekitarnya.
Lombok sebagai Ruang Pertumbuhan
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui Graduation Program Community Link #JadiBerkelanjutan Musim ke-4 di Mataram, NTB, Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian pelatihan dan pendampingan bagi para peserta. Pada momentum yang sama, dukungan akses permodalan diberikan kepada peserta yang dinyatakan lolos seleksi.
Selain prosesi kelulusan, kegiatan juga diisi dengan talkshow dan pameran produk UMKM.
Pameran menjadi bagian menarik karena memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya secara langsung. Di ruang seperti inilah jaringan bisnis dapat terbentuk, pengalaman dapat dibagikan, dan peluang pasar baru bisa terbuka.
Bagi UMKM, bertemu dengan konsumen dan pelaku usaha lain bukan hanya soal menjual produk. Ada kesempatan untuk belajar, mendapatkan masukan, membangun relasi, sekaligus melihat bagaimana sebuah produk dapat dikembangkan agar lebih kompetitif.
Ketika UMKM Tumbuh, Ekonomi Ikut Bergerak
UMKM memiliki posisi penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Di balik sebuah usaha kecil terdapat keluarga yang menggantungkan penghasilan, pekerja yang memperoleh upah, serta produk lokal yang terus dipertahankan.
Karena itu, ketika UMKM tumbuh, dampaknya tidak berhenti pada pemilik usaha.
Ada roda ekonomi masyarakat yang ikut bergerak.
Inilah yang membuat pemberdayaan UMKM menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. Program Community Link #JadiBerkelanjutan juga diarahkan sebagai kontribusi CIMB Niaga terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Lombok, dengan potensi lokal yang dimilikinya, menjadi salah satu ruang untuk mewujudkan semangat tersebut.
Harapannya, para pelaku usaha tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas bisnis, tetapi juga semakin inovatif dan adaptif menghadapi perubahan zaman.
“Harapan ke depan, kami bisa bersinergi untuk terus diperkuat agar UMKM Indonesia semakin inovatif dan adaptif,” pungkas Fransiska.
Pada akhirnya, pemberdayaan UMKM bukan hanya tentang angka penerima pelatihan atau jumlah bantuan yang disalurkan.
Lebih jauh, ini adalah tentang membuka kesempatan.
Kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk belajar, berkembang, memperluas pasar, memperoleh akses pembiayaan, dan berdiri lebih mandiri.
Dan dari Lombok, langkah itu kembali dimulai.
















