Manado
TAK SEKADAR JALAN PAGI
Membaca kota dari dekat bersama Andre Angouw

Catatan : Reymoond ‘Kex’ Mudami
Pukul 06.30 pagi, Bahu Mall belum sepenuhnya riuh ketika Andre Angouw sudah bersiap berjalan.
Bukan dengan setelan resmi seorang kepala daerah. Bukan pula dengan rombongan panjang yang biasanya mengiringi agenda seorang pejabat.
Kaus merah, celana pendek, topi, sepatu untuk berjalan, sebuah handuk kecil di tangan, dan telepon genggam yang selalu siap dioperasikan.
Tepat waktu.
Kami mulai melangkah dari kawasan Bahu Mall, menyusuri pedestrian yang belakangan ditata lebih apik. Sempadan jalan yang sebelumnya sekadar menjadi ruang sisa kini berubah menjadi bagian dari wajah kota. Bangku-bangku yang ditata cantik, pepohonan berbunga, lampu penerang, hingga jalur bagi penyandang disabilitas menjadi satu kesatuan.
Manado sedang mencoba mempercantik dirinya.
Tetapi baru sekitar lima meter berjalan, perhatian Andre justru tertahan pada sesuatu yang jauh dari estetika.
Beberapa kaleng bekas minuman berserakan di salah satu spot tempat warga biasa duduk.
Ia berhenti.
Sampah itu kemungkinan ditinggalkan pengunjung pada malam atau dini hari. Andre memungutnya, membawanya, lalu memasukkannya ke tempat sampah yang tidak jauh dari situ.
Tak lama kemudian ia meminta petugas penyapu jalan untuk segera membersihkan titik tersebut.
Percakapan kecil itu menyentuh persoalan yang lebih besar: membangun kota tidak cukup hanya dengan membangun fisiknya. Budaya bersih warganya juga harus terus dirawat.
Beberapa meter kemudian, langkah kembali terhenti.
Seekor kucing tergeletak di pinggir jalan.
Semula kami terus berjalan. Namun Andre tiba-tiba menoleh.
“Tadi itu bangkai, kan?”
Saya mengiyakan.
Ia memanggil petugas kebersihan yang sebelumnya kami temui dan meminta agar bangkai tersebut segera diamankan.
Pagi itu, telepon genggam Andre seakan menjadi semacam buku catatan berjalan.
Titik sampah direkam.
Pipa air yang merembes direkam.
Kemudian informasi diteruskan kepada camat yang terkait. Bahkan beberapa kali telepon dilakukan untuk memastikan persoalan kebocoran air segera ditangani.

Jalan pagi perlahan berubah menjadi inspeksi lapangan—tanpa meja rapat, tanpa map, tanpa suasana kantor.
Sesekali Andre menjelaskan detail pembangunan yang kami lewati.
Pohon-pohon, misalnya, tidak ditanam sembarangan Jenis yang sama ditempatkan dalam satu spot agar membentuk keserasian visual. Media tanam sebelumnya dimasukan semacam gorong menjaga agar sistem perakaran masuk ke dalam dan tidak cepat merambat ke samping.
Pepohonan dan bunga, menurutnya, bukan sekadar penghias. Keduanya menjadi bagian dari konsep penataan kawasan.
Kami kemudian melewati kawasan Taman Berkat. Andre masuk dan mengecek toilet.
Hal-hal kecil seperti ini rupanya masuk dalam radar perhatiannya.
Dari sana langkah diteruskan menuju kawasan mangrove yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu ruang aktivitas nelayan tradisional.
Air laut terlihat cukup jernih.
Saya spontan mengatakan, “Relatif bersih di sini.”
Jawabannya datang cepat.
“Ya, karena dibersihkan.”
Pendek. Tanpa retorika.
Sekitar sepuluh menit menikmati suasana, kami berbalik arah. Di depan terdapat pembatas besi yang harus dilewati.
Andre menaikinya dengan enteng.
Hup!
Lewat.
Saya sempat tertegun dalam hati.
Lincah juga ini wali kota.
Perjalanan berlanjut menuju pedestrian di depan kawasan Mantos.
Sejak awal, warga yang berjalan pagi, bersepeda, maupun jogging sesekali mengenali sosok yang berjalan dengan topi itu. Beberapa menyapa. Sebagian lain baru sadar setelah memperhatikan lebih dekat.
Seorang pemuda bahkan mengangkat telepon genggam ke arah kami.
Saya menangkap maksudnya.
“Pak, mau foto.”
Andre berhenti. Pemuda itu mendapatkan momen yang diinginkannya.
Sederhana.
Tidak ada protokol.
Tidak ada pengawalan.
Tidak ada panggung.
Hanya seorang wali kota yang sedang berjalan dan warga yang kebetulan berpapasan dengannya.
Sampai di ruas jembatan Sario, perubahan kawasan kembali terlihat.
Tempat yang sebelumnya terasa kurang terawat kini tampil berbeda. Hamparan pasir putih, taman bunga, dan tepian yang ditata membuat ruang itu terasa lebih hidup.
Andre meminta momen itu diabadikan dengan latar bunga yang sedang mekar.
Camat Jermia Sampul Paat kemudian bergabung. Beberapa catatan lapangan kembali disampaikan, termasuk soal kebersihan dan percepatan penanganan titik-titik yang dianggap perlu diperbaiki.
Kami meneruskan langkah menuju kawasan Megamas.
Beberapa pohon yang sedang berbunga lebat menjadi perhatian Andre.
Namun mata seorang kepala daerah rupanya tidak hanya tertarik pada bunga.
Di salah satu bagian kawasan, ia menunjuk bangkai kapal yang masih teronggok. Pemiliknya, menurut informasi yang disampaikan, sudah diingatkan untuk segera menangani.
Sepanjang perjalanan, pola yang sama berulang.
Berjalan.
Melihat.
Berhenti.
Merekam.
Menghubungi.
Memastikan.
Kemudian berjalan lagi.
Tanpa sadar, saya mulai menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar agenda olahraga pagi.
Ini adalah cara lain membaca kota.
Menjelang memasuki kawasan Kalimas menuju Pasar Bersehati, saya baru tersadar: kami berjalan tanpa protokoler, tanpa petugas keamanan yang mengawal dari depan atau belakang.
Untuk beberapa momen dokumentasi, hanya seorang teman media yang sengaja saya ajak ikut menjadi penguat catatan visual.
Saya sempat menyinggung soal itu kepada Andre.
Jawabannya enteng.
“Itu pertanda Manado aman.”
Kalimat sederhana, tetapi menyimpan keyakinan yang cukup dalam tentang kota yang dipimpinnya.
Menurut Andre, jalan pagi seperti ini memang rutin dilakukan. Sesekali bersama tim, tetapi tidak jarang pula seorang diri.
Tujuannya bukan hanya berolahraga.
Kota memang lebih mudah dibaca ketika seseorang turun langsung ke jalan.
Memasuki kawasan Pasar Bersehati, perangkat kelurahan, kecamatan, dan Perumda Pasar kemudian bergabung.
Perhatian kembali diarahkan pada kebersihan kawasan.
Kami duduk sejenak di pelataran pasar, menghadap kolam pelabuhan. Dari tempat itu terbentang aktivitas bongkar muat, jembatan, hingga perairan Teluk Manado.
Pasar Bersehati pascarenovasi memang memperlihatkan wajah berbeda.
Fungsi pasar dimaksimalkan, tetapi ruangnya sekaligus dibuat lebih nyaman untuk dinikmati.
Di tempat itu, sambil menikmati sejumlah penganan dan minuman, Andre kembali memberi motivasi kepada jajaran yang hadir. Tanggung jawab perangkat diingatkan.
Pergerakan komoditas pun ikut menjadi perhatian, termasuk harga rica yang menjadi salah satu kebutuhan penting masyarakat.
Setelah beristirahat sejenak, kami masuk ke dalam pasar.
Pedagang dan pengunjung ditemui.
Percakapan mengalir.
Aspirasi muncul dari hal-hal yang sangat konkret: kondisi jalan dalam pasar, kebersihan, hingga ketersediaan komoditas.
Andre mendengar.
Bahkan urusan sirkulasi asap dari aktivitas dapur ikut diperhatikan. Ia memastikan asap tidak tertahan di ruang dalam, tetapi dapat disalurkan keluar dengan baik.
Dari pasar, perjalanan sebenarnya hendak diteruskan menuju shelter rehabilitasi ODGJ.
Namun langkah masih berlanjut.
Semangat Andre rupanya belum habis.
Kami sampai ke ruas Jembatan Singkil. Lagi-lagi beberapa titik menjadi perhatian. Lagi-lagi telepon dan pesan disampaikan kepada camat agar persoalan yang ditemukan segera ditangani.
Hari sudah mendekati tengah hari.
Jarum jam hampir menunjuk angka 12 ketika kami meninggalkan jembatan.
Lebih dari 9.000 langkah telah ditempuh.
Saya kemudian berpikir, mungkin begitulah sebuah kota sesungguhnya dibaca.
Bukan hanya melalui laporan yang masuk ke meja wali kota.
Bukan hanya melalui angka-angka dalam dokumen.
Tetapi juga melalui kaleng minuman yang tercecer di pedestrian, pipa yang bocor, bangkai kucing di pinggir jalan, toilet yang perlu diperiksa, bunga yang sedang mekar, pedagang yang menyampaikan keluhan, sampai warga yang tiba-tiba ingin berfoto di tengah perjalanan.
Jalan pagi itu ternyata tidak sekadar jalan pagi.
Ia menjadi semacam ruang kerja yang bergerak.
Di sana, seorang wali kota melihat Manado bukan sebagai peta yang penuh garis dan program, melainkan sebagai kota yang setiap hari menghadirkan persoalan-persoalan kecil yang, jika dibiarkan, perlahan akan menjadi persoalan besar.
Dan mungkin di situlah makna sederhana dari sebuah kepemimpinan:
turun, melihat, mendengar, lalu bekerja.
Bukan semua persoalan harus menunggu rapat.
Sebagian cukup ditemukan ketika kita mau berjalan.
















