Connect with us

Bitung

Olly Hadir di HUT Ke 103 Imanuel, Bawa Kepedukian Untuk Pemulihan Pastori

Dari Kebakaran 31 Desember 2025, Pastori 1 dan Kantor Jemaat Kembali Berdiri dalam Waktu Kurang dari Tiga Bulan

Redaksi

Published

pada

IMG 20260907 WA0001

Ada alasan lebih untuk bersyukur bagi Jemaat GMIM Imanuel Aertembaga, Wilayah Bitung 2.

Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun ke-103 jemaat, Minggu, 6 September 2026, sebuah perjalanan yang sebelumnya diwarnai musibah justru berujung pada kesaksian tentang pertolongan Tuhan.

HUT ke-103 Jemaat Imanuel Aertembaga dirangkaikan dengan Pentahbisan dan Peresmian Pastori 1 serta Kantor Jemaat, sekaligus Peneguhan dan Penerimaan Pendeta.

Ibadah dipimpin Pdt. Dr. A.O. Supit, STM, yang bertindak sebagai khadim.

Momentum tersebut dihadiri Ketua II MPH PGI Prof. Dr. (H.C.) Olly Dondokambey, SE, Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka, S.Sos., mantan Wali Kota Bitung Penatua Ir. Maurits Mantiri, MM., serta sejumlah tokoh dan undangan lainnya.

Bagi jemaat, peresmian Pastori 1 dan Kantor Jemaat bukan sekadar seremoni.
Bangunan tersebut merupakan bagian dari sebuah perjalanan yang dimulai dari musibah kebakaran pada 31 Desember 2025.

Kebakaran ketika itu menghanguskan pastori dan berdampak pada sarana pelayanan serta pendidikan yang berada di kawasan tersebut.

Namun, apa yang tampak sebagai sebuah kehilangan kemudian perlahan berubah menjadi kesaksian.

“Pastori ini adalah suatu keajaiban.”
Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana jemaat melihat proses pembangunan kembali sarana pelayanan mereka.
Dari Kebakaran, Muncul Kepedulian
Setelah peristiwa kebakaran, perhatian datang dari berbagai pihak.

Salah satu yang kemudian tergerak adalah Olly Dondokambey bersama keluarga.
Sebagai Ketua II MPH PGI, kepedulian Olly diwujudkan melalui dukungan untuk merenovasi dan membangun kembali Pastori 1 dan Kantor Jemaat.

Nilainya tidak kecil.

Lebih dari Rp800 juta dialokasikan untuk membantu proses pembangunan tersebut. Yang menarik, proses itu tidak berhenti pada sebuah komitmen bantuan.

Mantan Wali Kota Bitung Maurits Mantiri menjadi salah satu mata rantai penting dalam perjalanan tersebut.

Maurits merupakan orang pertama yang diminta Olly untuk mengecek langsung kondisi pastori pasca kebakaran.

Dari sanalah kemudian komunikasi berlanjut hingga mempertemukan Ketua BPMJ Jemaat Imanuel, Pdt. Nico Rarumangkay, M.Th., dengan Olly Dondokambey.
Proses pembangunan akhirnya dimulai pada 18 Mei 2026.

Hanya dalam waktu sekitar dua bulan lebih, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan pada akhir Juli 2026.

Hari ini, Pastori 1 dan Kantor Jemaat itu bukan lagi sekadar rencana pembangunan. Bangunannya berdiri. Pelayanan kembali mendapatkan ruang.
Dan pada momentum HUT ke-103, keduanya ditahbiskan dan diresmikan.

Pastori 1 ditahbiskan oleh Pdt. Dr. A.O. Supit, STM, sedangkan peresmiannya dilakukan oleh Ketua II MPH PGI Olly Dondokambey, SE.

Kesaksian Olly: Jangan Tinggalkan Tanggung Jawab Pelayanan

Dalam sambutannya, Olly kembali membagikan pengalaman hidup yang menjadi salah satu dasar komitmennya terhadap pelayanan gereja.

Ia menceritakan pengalaman ketika pernah gagal dalam pencalonan sebagai Anggota DPR RI.
Saat itu, menurut kesaksiannya, ia terlalu fokus pada pencalonan dan meninggalkan tanggung jawab pelayanan sebagai Ketua Pembangunan di GPIB Jakarta.

Kegagalan tersebut kemudian menjadi bahan refleksi.
Ketika kembali melanjutkan tanggung jawab pelayanan gereja, ia merasakan bahwa Tuhan memberikan jalan keberhasilan dalam kehidupannya.

Dari pengalaman itulah lahir pesan yang terus ia sampaikan: Jangan pernah meninggalkan tanggung jawab pelayanan gereja.
Kesaksian tersebut membuat bantuan untuk Jemaat Imanuel memiliki dimensi yang lebih dalam.

Bukan semata tentang membangun sebuah bangunan.
Ada pengalaman iman yang kemudian diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Nazar yang Terus Dijaga

Kepedulian Olly terhadap rumah-rumah ibadah memang bukan cerita yang baru dimulai di Aertembaga.

Ada sebuah pengalaman pada tahun 1999 yang menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut.

Ketika itu Olly dipercaya menjadi Ketua Pembangunan sebuah gereja di kawasan Pondok Gede. Dalam prosesnya, dana pembangunan habis sebelum pekerjaan selesai.

Pada waktu yang hampir bersamaan, ia mengikuti Pemilu untuk pertama kalinya dan mengalami kegagalan.
Pengalaman tersebut menjadi refleksi pribadi.

Ia menyadari ada tanggung jawab pelayanan yang belum dituntaskan.

Dari pengalaman itu lahir sebuah kaul atau nazar untuk terus membantu pembangunan rumah-rumah ibadah ketika Tuhan memberikan kemampuan dan kesempatan.

Nazar tersebut kemudian berjalan mengikuti perjalanan hidupnya. Puluhan tahun kemudian, di Aertembaga, komitmen itu kembali menemukan bentuknya.

Ketika sebuah pastori terbakar, ada kebutuhan nyata di depan mata.
Dan Olly memilih mengambil bagian.

Bukan Hanya Rp800 Juta

Dalam momentum HUT ke-103 tersebut, Jemaat Imanuel memberikan penghargaan kepada Olly Dondokambey atas dedikasi dan kontribusinya dalam pembangunan Pastori 1 dan Kantor Jemaat.

Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi jemaat terhadap dukungan yang diberikan tanpa pamrih.
Namun Olly tidak berhenti di angka Rp800 juta.
Dalam kesempatan tersebut, ia kembali memberikan bantuan Rp25 juta untuk Jemaat Imanuel.

Bantuan juga datang dari Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka, S.Sos., sebesar Rp25 juta, yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelayanan, termasuk Pelsus, panitia khadim dan kelompok pendeta sesuai peruntukannya.
Dua bentuk bantuan tersebut melengkapi suasana syukur dalam perayaan HUT ke-103.

Maurits: Dari Mengecek Puing hingga Melihat Pastori Berdiri

Bagi Maurits Mantiri, perjalanan Pastori Imanuel juga menyimpan cerita tersendiri. Ia bukan sekadar hadir dalam peresmian.
Ia merupakan salah satu orang yang sejak awal diminta Olly untuk melihat langsung kondisi pastori setelah kebakaran.

Dari sana, ia kemudian ikut mempertemukan pihak gereja dengan Olly. Komunikasi berjalan. Rencana pembangunan disusun.

Pembangunan dimulai 18 Mei.
Dan akhir Juli, pekerjaan dinyatakan selesai.
Hari ini, Maurits berdiri bersama jemaat menyaksikan bangunan yang sebelumnya hanya menyisakan persoalan pascakebakaran, kini telah menjadi bagian baru dari perjalanan pelayanan Jemaat Imanuel.

103 Tahun, Enam Keluarga dan Sebuah Warisan

HUT ke-103 juga menjadi momentum untuk mengingat orang-orang yang telah memberikan fondasi bagi perjalanan Jemaat Imanuel.

Enam keluarga mendapat penghargaan karena telah menghibahkan lahan untuk pembangunan sekolah dan lokasi ibadah. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah jemaat tidak pernah dibangun oleh satu atau dua orang.

Ada generasi yang memberikan lahan.
Ada warga jemaat yang memberi tenaga.
Ada mereka yang memberi perhatian dan dukungan.
Dan ada orang-orang yang hadir ketika musibah datang.
Semuanya menjadi bagian dari satu cerita besar bernama Jemaat Imanuel Aertembaga.

“Tuhan Dahsyat”

Ketua Wilayah Bitung 2 sekaligus Ketua BPMJ Jemaat Imanuel Aertembaga, Pdt. Nico Rarumangkay, M.Th., mengungkapkan rasa syukurnya.

Menurutnya, pergumulan yang dialami jemaat tidaklah mudah. Namun, jemaat belajar bahwa ketika manusia bersandar dan berharap kepada Tuhan, jalan perlahan-lahan dibukakan.

“Hanya bersandar dan berharap pada Tuhan saja semua diubah-Nya perlahan-lahan. Tuhan dahsyat,” ungkapnya.

Ia mengingatkan agar dalam segala sesuatu Tuhan tetap menjadi yang utama.

“Dalam segala sesuatu utamakan Tuhan. Kehebatan manusia terbatas dan bisa berubah dalam sekejap. Konsistensi bersama Tuhan,” katanya.

Pesan itu seakan menjadi kesimpulan dari perjalanan Pastori Imanuel.
Karena yang dirayakan hari ini bukan hanya bangunan baru.
Tetapi sebuah kesaksian iman.

Dari Abu Kebakaran Menjadi Rumah Pelayanan

Pada 31 Desember 2025, kebakaran meninggalkan luka bagi Jemaat Imanuel Aertembaga. Kurang dari setahun kemudian, pada 6 September 2026, jemaat berdiri dalam suasana syukur.

Pastori 1 dan Kantor Jemaat ditahbiskan dan diresmikan.
Sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa kehilangan tidak selalu menjadi akhir.

Kadang, dari puing-puing justru tumbuh sesuatu yang baru. Dan, dalam kisah Imanuel Aertembaga, ada banyak tangan yang ikut bekerja.

Ada enam keluarga yang telah mewariskan lahan. Ada jemaat yang tidak menyerah.
Ada Maurits Mantiri yang menjadi penghubung dalam proses awal.

Ada keluarga Olly Dondokambey yang membuka tangan membantu pembangunan. Ada dukungan pemerintah kota.

Dan di atas semuanya, ada keyakinan jemaat bahwa Tuhanlah yang membuka jalan.

Karena itu, ketika hari ini Pastori 1 dan Kantor Jemaat berdiri kembali, kalimat yang paling tepat mungkin memang sederhana:
Ini bukan sekadar bangunan yang selesai.

Ini adalah sebuah keajaiban.
Dan bagi Olly Dondokambey, Aertembaga kembali menjadi satu bab dalam perjalanan panjang sebuah nazar: jangan meninggalkan pelayanan, dan ketika diberi kemampuan, jangan ragu mengambil bagian dalam membangun rumah Tuhan.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */