Connect with us

Religi

“Tulus Batinnya, Rendah Hatinya”

Redaksi

Published

pada

ok 1

Nas Alkitab: Keluaran 18:13-27

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Pada tanggal 17 Maret 1989 di kota Pavia, Italia, sebuah tragedi mengejutkan dunia arsitektur. Sebuah menara kuno megah setinggi 72 meter bernama Menara Sipil Pavia (Civic Tower of Pavia) tiba-tiba ambruk dan hancur total menjadi puing-puing dalam hitungan detik.

Yang membuat semua orang terkejut adalah: hari itu tidak ada gempa bumi, tidak ada badai, tidak ada angin kencang, dan tidak ada serangan apa pun. Menara itu sudah berdiri kokoh selama 800 tahun melewati berbagai generasi, tampak abadi dan tidak mungkin hancur.

Namun, ketika para ahli teknik sipil menyelidiki puing-puingnya, mereka menemukan fakta yang mengerikan. Selama berabad-abad, bagian dalam dinding menara itu ternyata perlahan-lahan mengalami kelelahan struktur, pengeroposan diam-diam, dan keretakan internal. Menara itu hancur bukan karena dihantam musuh dari luar, melainkan karena ia tidak kuat lagi menahan beban beratnya sendiri.

Saudara, gambaran Menara Pavia ini persis seperti situasi kehidupan Musa yang sedang kita baca. Dari luar, Musa tampak seperti menara yang megah dan tidak terkalahkan. Tetapi di balik jubah kepemimpinannya yang agung, di dalam tubuh dan jiwanya Musa hanyalah manusia biasa.

Sindrom “melakukan semuanya sendiri” (one-man show) yakni dari pagi sampai malam duduk menghakimi perkara seluruh bangsa Israel, perlahan akan membuat ia ambruk juga. Musa sedang berjalan menuju ambang burnout, kelelahan mental, dan kehancuran fisik karena memikul seluruh beban satu bangsa di atas pundaknya sendiri. Musa Kelelahan dan rakyat yang berdiri mengantre akan terlantar.

Kepemimpinan yang berpusat pada satu orang tanpa kaderisasi bukan hanya melelahkan sang pemimpin, tetapi juga menyiksa orang-orang yang dipimpin. Beruntung waktu itu Yitro, ayah mertuanya memperhatikan “keretakan di dalam dinding menara” kehidupan Musa ini.

Melihat pemandangan yang melelahkan itu, Yitro maju ke depan, dan menegur Musa, untuk segera menghentikan proses yang menguras energi ini. Dengan kasih seorang bapa yang tidak mendiamkan anaknya berjalan menuju jurang kehancuran, Yitro datang membawa kritik namun juga solusi konkret. “Tetapi untuk perkara-perkara sehari-hari, carilah orang-orang lain. Angkatlah mereka menjadi pemimpin atas seribu orang, seratus orang, lima puluh orang, dan sepuluh orang.” Maksud Yitro sangat jelas: ciptakan struktur dan bagilah beban pelayanan. Pelayanan pekerjaan Tuhan terlalu besar untuk dimonopoli oleh satu orang saja. Ketika beban itu dibagi, hasilnya luar biasa: beban Musa menjadi ringan, perkara rakyat diselesaikan dengan cepat, dan seluruh bangsa bisa pulang dengan damai sejahtera.

Kritikan Yitro yang murni lahir dari ketulusan hati ini, mengajarkan kita bahwa setiap kritikan tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan. Sebaliknya, harus lahir dari cinta yang sejati untuk berani menegur demi keselamatan bukan untuk menjatuhkan.

Saudara, untuk pelayanan ini – dengan bijaksana Yitro mengarahkan Musa untuk tidak memilih sembarang orang. Yitro tidak berkata, “Musa, pilih saja orang-orang yang paling populer, yang paling kaya, atau yang paling pandai bersilat lidah.” Tidak! Yitro mengarahkan Musa untuk memilih mereka yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan benci suap. Ternyata kepemimpinan sejati bukanlah tentang pangkat, melainkan tentang karakter.

Kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa banyak orang yang melayani kita, melainkan seberapa besar kapasitas kita untuk memelihara integritas rohani di hadapan Allah. Ketika struktur batin kita kokoh karena takut akan Allah dan membenci ketamakan, maka pelayanan, pekerjaan, atau keluarga yang kita pimpin tidak akan pernah ambruk, seberat apa pun badai dan beban yang harus kita hadapi.

Namun saudara, ada juga hal yang menarik dari pembacaan ini, yakni semua arahan Yitro sang mertua dari Midian, yang secara latar belakang rohani dinilai sebagai “orang luar” atau bangsa asing bagi Israel, didengarkan dan dilakukan semuanya oleh sang nabi besar.

Musa sang pemimpin tertinggi Israel, pembuat mukjizat yang tongkatnya bisa membelah Laut Teberau, dan pribadi yang berbicara berhadapan muka dengan Allah menunjukan kepada kita bahwa pemimpin yang benar harus memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan.

Seorang pemimpin yang sejati tidak bisa dan tidak boleh melakukan semuanya sendirian. Ada keindahan yang sangat manis ketika seorang pemimpin memiliki telinga yang mau mendengar, hati yang terbuka untuk menerima masukan, serta kerelaan untuk merangkul orang lain. Kepemimpinan bukan seberapa tinggi pangkat kita di mata manusia, melainkan tentang seberapa tulus kita membuka hati untuk mendengar hikmat-Nya melalui sesama.

Hari ini, firman Tuhan memberi mandat yang jelas bagi kita semua yang dipercayakan sebagai pemimpin—baik kita memimpin di gereja, di tempat kerja, di dalam usaha, atau sebagai orang tua yang memimpin anak-anak di dalam rumah tangga, ataupun dalam memimpin diri sendiri.

Jadilah pribadi yang cakap dalam tugasmu, hiduplah dalam rasa takut akan Allah, peliharalah integritas batin agar selalu dapat dipercaya, dan jagalah hatimu tetap bersih dengan membenci ketamakan. Namun, milikilah pula kerendahan hati seperti Musa.

Saudara, ingatlah iblis bisa meniru banyak hal untuk menggoda manusia, termasuk memberikan kekayaan atau kemegahan harta duniawi. Namun, satu-satunya sifat yang tidak bisa ia tiru dan tidak ia miliki adalah kerendahan hati – maka milikilah itu. Sebab, tidak ada yang bisa membuat seseorang berada begitu jauh di luar jangkauan iblis selain kerendahan hati. Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */