Sangihe
Sagu Gula Merah dan Onde-Onde, Manisnya Tradisi di Balik Sarapan Tahuna Beach & Resort

TAHUNA, mediakontras.com — Pagi di Tahuna Beach & Resort tidak hanya menawarkan panorama laut yang membentang luas. Dari area restoran, aroma makanan perlahan mengundang para tamu untuk memulai hari.
Di antara deretan menu sarapan yang tersaji, ada dua penganan tradisional yang justru mencuri perhatian. Sagu Gula Merah dan Onde-Onde. Sederhana, akrab, dan lekat dengan cita rasa lokal.
Bagi sebagian tamu, keduanya bukan sekadar makanan ringan. Ada rasa kampung halaman, ada identitas Sangihe, dan ada cerita tentang tradisi yang tetap bertahan di tengah suasana resort modern.
Ketika Tradisi Menjadi Menu Istimewa
Tahuna Beach & Resort yang berada di kawasan pesisir Tahuna menjadikan sajian tradisional sebagai bagian dari pengalaman para tamunya.
Setiap pagi, counter jajanan tradisional menjadi salah satu sudut yang menarik perhatian. Di sanalah Sagu Gula Merah dan Onde-Onde hadir, berdampingan dengan beragam menu sarapan lainnya.
Marghita Bakari, koki yang bertugas di counter tersebut, mengatakan keberadaan jajanan tradisional memang sengaja dipertahankan.
“Setiap harinya, hotel menyediakan jajanan tradisional, khususnya Sagu Gula Merah. Ini adalah salah satu jajanan khas Tahuna yang wajib kami hadirkan,” ujar Marghita.
Bagi pihak hotel, menghadirkan makanan lokal bukan sekadar memenuhi selera tamu. Ada pesan yang ingin disampaikan: bahwa Sangihe memiliki kekayaan kuliner yang layak dikenal, dinikmati, dan diwariskan.
“Kami ingin para pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan pantai yang indah, tetapi juga merasakan cita rasa autentik dari bumi Nusa Utara ini. Sagu Gula Merah dan Onde-Onde sudah menjadi menu andalan kami,” katanya.
Sepotong Sagu, Sebuah Cerita
Menariknya, makanan tradisional tersebut justru menjadi bagian yang paling ditunggu oleh sejumlah tamu.
Tati Tuturoong, mantan pemain voli Sulawesi Utara, misalnya. Setiap kali menikmati sarapan, ia mengaku selalu menyisakan ruang untuk Sagu Gula Merah.
“Setiap sarapan, Sagu Gula Merah selalu menjadi menu penutup bagi saya. Itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkap Tati.
Pengakuan sederhana itu menggambarkan bagaimana makanan tradisional mampu menciptakan ikatan emosional.

Di tengah banyaknya pilihan makanan modern, justru panganan yang dibuat dengan racikan sederhana mampu meninggalkan kesan mendalam.
Rasa manis gula merah, tekstur khas sagu, serta sentuhan tradisional membuat Sagu Gula Merah memiliki karakter tersendiri. Sementara Onde-Onde membawa sensasi jajanan yang sudah akrab bagi lidah masyarakat Nusantara.
Bukan Sekadar Sarapan
Bagi wisatawan yang datang ke Sangihe, pengalaman perjalanan tentu tidak hanya tentang destinasi yang dikunjungi.
Ada pula pengalaman tentang apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan—yang tidak kalah penting—apa yang dicicipi.
Di sinilah kuliner tradisional mengambil perannya.
Tahuna Beach & Resort seolah ingin menunjukkan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus berjalan berlawanan. Keduanya dapat duduk berdampingan di satu meja sarapan.
Panorama laut menjadi suguhan utama. Namun, Sagu Gula Merah dan Onde-Onde menjadi rasa yang melengkapi cerita.
Tati pun mengakui, selain makanan khas, panorama menjadi alasan lain mengapa resort ini layak menjadi pilihan wisatawan.
“Keindahan alam di sini sangat luar biasa. Tahuna Beach & Resort memang sangat pantas bagi para pengunjung yang datang ke Kepulauan Sangihe. View-nya bagus, dan makanannya khas,” ujarnya.
Menjaga Rasa, Merawat Identitas
Di tengah perkembangan industri pariwisata, kuliner lokal memiliki peran penting dalam memperkuat identitas sebuah daerah.
Wisatawan mungkin datang karena tertarik pada laut, pegunungan, budaya atau keramahan masyarakat Sangihe. Namun, pengalaman kuliner dapat menjadi bagian yang membuat perjalanan itu sulit dilupakan.
Sagu Gula Merah dan Onde-Onde di Tahuna Beach & Resort menjadi contoh kecil bagaimana makanan tradisional dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Tidak perlu mewah untuk menjadi istimewa.
Kadang, sesuatu yang sederhana justru memiliki cerita paling panjang.
Di meja sarapan, ketika mata menikmati birunya laut Tahuna dan tangan mengambil sepotong Sagu Gula Merah, ada sebuah pesan yang terasa sederhana namun kuat: Sangihe bukan hanya indah untuk dipandang, tetapi juga memiliki rasa yang patut dikenang.













