Connect with us

Religi

Jalan Turun Menuju Puncak

Redaksi

Published

pada

58a3ec47 03ad 4521 89d8 e859970bc015 2

Nats Alkitab : Filipi 2:1-11

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Pernahkah Anda mendengar tentang kisah tragis kepunahan Western Black Rhinoceros atau Badak Hitam Barat? Satwa luar biasa ini dahulu hidup bebas di wilayah sabana Kamerun, Afrika. Berbeda dengan jenis badak lainnya, hewan ini memiliki ukuran kaki bagian bawah yang jauh lebih panjang dan jangkung daripada jenis badak lainnya, ini membuat mereka dapat melangkah dengan gagah di tengah luasnya sabana.

Sayangnya, satwa jangkung yang gagah ini terakhir kali terlihat di alam liar pada tahun 2006, hingga akhirnya lembaga konservasi internasional (IUCN) resmi menyatakannya punah sepenuhnya pada tahun 2011. Mirisnya para peneliti menemukan fakta bahwa kepunahan badak ini selain akibat pemburu liar, juga disebabkan oleh perilakunya sendiri. Western Black Rhinoceros adalah makhluk yang memiliki keangkuhan ego teritorial yang luar biasa tinggi. Ketika wilayah mereka menyusut, alih-alih bersatu membentuk kelompok untuk saling melindungi dari ancaman luar, badak-badak ini justru saling menyerang dengan brutal demi mempertahankan ego teritorial masing-masing. Mereka menolak menurunkan gengsi dan ego untuk berbagi tempat. Akibatnya, mereka mati satu demi satu karena mereka gagal bersatu dan justru saling menghancurkan.

Saudara, tidak ada hal baik yang dihasilkan dari keegoisan dan keangkuhan. Keegoisan dan sikap yang terobsesi mencari puji-pujian akan selalu berakhir dengan perpecahan dan kehancuran bersama. Dan inilah yang mau dinyatakan oleh Rasul Paulus yang ada dalam penjara, kepada jemaat yang dikasihinya yaitu jemaat Filipi, yang pada saat itu dilanda ancaman keretakan internal akibat keegoisan dan perselisihan antar jemaat. Tetapi pesan ini juga ditujukan bagi kita semua umat Tuhan di manapun berada. Paulus menyatakan dengan jelas bahwa egoisme tidak akan pernah membangun tubuh Kristus; tetapi hanya akan mencerai-beraikannya. Semua umat Tuhan hendaknya bersatu, dimana bersatu yang dimaksud ialah bersatu yang bukan hanya sekadar berkumpul bersama secara fisik. Duduk di bangku gereja yang sama setiap hari Minggu belum tentu membuat kita bersatu. Tetapi Bersatu yang dimaksud ialah “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Bersatu yang sejati adalah kesatuan sehati sepikir yakni memiliki dasar kebenaran firman yang sama. Serta satu jiwa dan satu tujuan yakni bergerak bersama untuk memuliakan Tuhan, bukan memuliakan diri sendiri atau kelompok. Dan untuk mencapai hal ini, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan, selain satu sama lain harus memiliki kerendahan hati: yaitu dengan membuang keangkuhan tetapi menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri. Ini bukan berarti kita merasa inferior atau minder, melainkan bersedia melihat serta menghargai orang lain di atas ego kita. Serta ditambahkan oleh Paulus kita harus memiliki kepedulian: yaitu dengan tulus memperhatikan kepentingan orang lain dan bukan hanya kepentingan diri sendiri. Mampu melihat kesusahan orang lain seperti kesusahan diri sendiri tetapi juga bersedia menolong dan membantu untuk kepentingan mereka. Kedua hal ini harus dilakukan atas dasar keteladanan dari Yesus Kristus sendiri. Yaitu Dia yang berada di tempat tertinggi namun memilih untuk mengosongkan diri-Nya (Kenosis), menanggalkan hak-hak kemuliaan-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia yang terbatas bahkan rela menanggung ketaatan mutlak sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib—sebuah hukuman mati yang paling hina pada zaman Romawi. Yesus sengaja merendahkan diri-Nya sedalam-dalamnya demi menyelamatkan kita. Sehingga bagi kita, jika Yesus yang adalah Allah mau merendahkan diri, siapakah kita yang tetap memilih untuk hidup dalam keangkuhan? Maka sebagai umat Tuhan, hendaknya kita membuang keegoisan dan sikap hanya mengejar puji-pujian sia-sia. Melainkan hiduplah rendah hati satu sama lain. Mengapa? Karena barangsiapa yang meninggikan diri, direndahkan; tetapi orang yang rela merendahkan diri, dialah yang akan ditinggikan oleh Allah pada waktu-Nya.

Saudara, pernahkan kita memperhatikan cara kerja sebuah anak panah. Sebuah anak panah tidak akan pernah bisa melesat tinggi ke angkasa, meluncur cepat ke depan, atau mengenai sasaran yang jauh, jika ia hanya dibiarkan diam di tempat ataupun didorong maju secara paksa. Agar anak panah itu memiliki kekuatan untuk melesat naik dan terbang tinggi, ia harus diletakkan pada tali busur, lalu ditarik dengan kuat mundur ke belakang ataupun ke bawah. Semakin jauh tali busur itu ditarik mundur ke bawah menahan tekanan, semakin tinggi dan jauh anak panah itu akan melesat naik ketika dilepaskan. Demikian juga dengan kehidupan kita, jikalau kita mau naik ke atas, jalan satu-satunya hanyalah menurun ke bawah. Jikalau kita mau berada paling depan, kita harus mundur kebelakang. Maka, lewat firman ini kita diajak, ditengah-tengah hidup yang dipenuhi dengan keegoisan dan keangkuhan, turunlah dalam kerendahan hati, karena hanya itu satu-satunya jalan untuk naik di hadapan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */