Connect with us

Religi

Sang Pendosa dan Sang Juruselamat

Redaksi

Published

pada

IMG 20260727 WA0053

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Pembacaan : Yohanes 8:1-11

Saudara, jemaat yang dikasihi Tuhan. Tahukah kita, ada sebuah sindrom yang disebut “crab mentality”?

Mengapa disebut demikian karena perilakunya sama dengan tingkah kepiting-kepiting, jika kita menaruh beberapa ekor kepiting di dalam ember terbuka.

Kita tidak perlu kuatir mereka akan keluar dari ember, Mengapa? Karena setiap kali ada satu kepiting yang berusaha merangkak naik untuk keluar, kepiting-kepiting di bawahnya akan menariknya kembali ke dasar.

Prinsip hidup kepiting itu sederhana: “Kalau saya tidak bisa bebas, kamu juga tidak boleh. Kita harus jatuh bersama”.

Inilah sindrom yang sering menyerang manusia, tidak mau orang lain lebih maju, lebih sukses lebih baik dari kita.

Sebuah potret hati yang dipenuhi iri hati, benci dan dengki. Kita menganggap kebaikan orang lain sebagai ancaman, lalu mulai mencari cari cara untuk menjatuhkan mereka.

Seperti halnya orang Farisi dan ahli taurat ketika mereka menyeret seorang perempuan yang kedapatan berzina di hadapan Yesus.

Sejenak terlihat kelicikan mereka dari satu pertanyaan: Di mana laki-lakinya? Hukum Taurat (Imamat 20:10) tegas menyatakan bahwa dalam kasus perzinaan, kedua belah pihak harus dihukum mati.

Namun aneh hanya perempuan ini yang ditelanjangi di depan publik? Jelas, mereka tidak peduli pada kesucian hukum.

Didorong oleh rasa iri terhadap pengaruh Yesus, perempuan ini hanya dijadikan umpan politik untuk menjebak-Nya ke dalam dilema hukum yang mustahil.

Manusia memang sangat cerdik dalam merancang kejatuhan sesamanya. Namun Hikmat Yesus melebihi segala-galanya.

Kelicikan mereka runtuh saat Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.”

Kalimat ini bukan sekadar kata bijak, melainkan teguran telak yang merujuk langsung pada prosedur eksekusi Hukum Taurat dalam Ulangan 13:9 dan Ulangan 17:7.

Dalam hukum Yahudi, hukuman mati tidak boleh menjadi amuk massa yang liar. Aturannya ketat: tangan para saksi utama harus menjadi yang pertama melemparkan batu.

Aturan ini dibuat Tuhan agar saksi tidak sembarangan menuduh karena iri atau benci.

Jika saksi memberikan kesaksian palsu atau memiliki motivasi busuk, maka darah orang yang dieksekusi akan ditanggung oleh saksi itu sendiri di hadapan pengadilan Allah.

Yesus menantang mereka: “Silakan hukum sesuai Taurat! Tetapi ingat, saksi utama harus melempar duluan.

Dan karena ini di hadapan Allah, pastikan tanganmu sendiri bersih dari dosa!”. Seketika nurani mereka tertampar. Satu per satu, mulai dari yang tertua, berjalan mundur dan pergi.

Batu-batu penghakiman jatuh berdentangan di tanah. Pada akhirnya, panggung itu kosong. Yang tersisa hanyalah Dua Orang: Sang Pendosa dan Sang Juruselamat.

Hanya Yesus satu-satunya yang tidak berdosa, yang berhak melempar batu. Namun, Dia memilih untuk mengampuni.

Saudara, Melalui peristiwa ini, Yesus mengingatkan kita bahwa pada dasarnya semua manusia adalah orang berdosa.

Jika Yesus yang suci memilih meletakkan batu penghakiman-Nya, siapakah kita yang penuh cela ini berani menggenggam batu gosip, dendam, atau kebencian untuk melempari sesama? Ubahlah penghakiman menjadi ruang pemulihan.
Tetapi pun juga saudaraku, pesan Yesus untuk perempuan itu jelas “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Ingatlah saudara, Kasih karunia tidak pernah melegalkan dosa.
Ada sebuah cerita tentang seorang bapak di Jepang mengalami hal yang malang, sebuah mangkok berharga peninggalan orang tuanya tak sengaja dijatuhkan.

Mangkok itu retak menjadi beberapa bagian. Namun karena begitu berharganya mangkok itu baginya, ia berupaya memperbaikinya dengan pergi kepada seorang pengrajin kintsugi(seni restorasi barang pecah belah dengan menyambungkan kembali bagian yang rusak menggunakan serbuk logam mulia).

Alhasil, mangkoknya kembali dengan utuh, dimana retakan-retakan itu menjadi semakin cantik dengan emas yang melapisinya.

Dan sang bapakpun menjaganya dengan baik dan semakin hati hati agar tidak jatuh lagi.

Saudara, Kita semua adalah keramik yang telah hancur karena dosa, tetapi hidup kita telah disambung kembali oleh garis emas kasih karunia Yesus.

Pengampunan Tuhan itu mahal dan berharga. Oleh karena itu, mari hargai restorasi-Nya. Jangan pernah sengaja menjatuhkan diri kembali ke dalam lubang dosa yang sama.
Hiduplah penuh kasih, dan jagalah kekudusan hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */