Connect with us

Tomohon

Jalur Pendakian Tiga Gunung Ditutup!

Keselamatan Pendaki dan Kelestarian Alam Jadi Prioritas

Reky Simboh

Published

pada

9afe0614 7956 40e3 8702 16ac182ea2f4

TOMOHON, mediakontras.com – Kabar penting bagi para pendaki dan komunitas pencinta ini bukan tanpa alasan. Keselamatan jiwa, potensi bencana, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menghadapi kondisi musim kemarau.

Penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan dan kewaspadaan, dengan memperhatikan rekomendasi teknis BKSDA Sulawesi Utara dan Pos Pengamatan Gunung Api PVMBG, serta arahan Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Sulawesi Utara terkait pencegahan dan penanggulangan karhutla.

LOKON MASIH LEVEL WASPADA

Untuk Gunung Lokon, kewaspadaan menjadi perhatian khusus. Gunung api ini saat ini berada pada Status Level II (Waspada).

PVMBG merekomendasikan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.

Kondisi tersebut membuat aktivitas pendakian di kawasan Gunung Lokon harus benar-benar memperhatikan aspek keselamatan. Pemerintah tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun yang berpotensi membahayakan nyawa pendaki.

EMPUNG BERADA DI KAWASAN KONSERVASI

Sementara itu, Gunung Empung meski bukan gunung api aktif tersendiri, berada dalam kawasan Cagar Alam Lokon-Empung dan secara geografis berada tepat di depan Kawah Tompaluan.

Karena itu, aktivitas di kawasan Gunung Empung tetap harus mengikuti ketentuan konservasi serta batas-batas keselamatan yang berlaku.

Artinya, keindahan alam bukan berarti kawasan tersebut bebas dieksplorasi tanpa batas. Ada aturan konservasi yang harus dihormati demi menjaga ekosistem sekaligus keselamatan masyarakat.

MAHAWU NORMAL, TAPI TETAP HARUS DIJAGA

Bagaimana dengan Gunung Mahawu?

Gunung Mahawu saat ini berstatus Level I (Normal). Namun, status normal bukan berarti kawasan tersebut bebas dari potensi ancaman.

Mahawu merupakan kawasan hutan lindung yang harus tetap dijaga. Terlebih pada musim kemarau, ketika kondisi vegetasi yang kering dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, pembatasan aktivitas di kawasan ini lebih diarahkan sebagai langkah preventif untuk menjaga hutan dan mencegah terjadinya karhutla.

BUKAN MELARANG CINTA PADA ALAM

Kalaksa BPBD Kota Tomohon, H.Y. Supit, mengajak masyarakat, khususnya para pendaki dan komunitas pencinta alam, untuk menahan diri sementara serta mendukung kebijakan pemerintah.

“Menutup jalur pendakian bukan berarti menghentikan kecintaan kita kepada alam. Justru dengan menahan diri, mematuhi ketentuan dan menjaga kawasan, kita sedang menunjukkan bahwa mencintai alam berarti juga menghormati keselamatan dan kelestariannya,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan ini harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab bersama, bukan sebagai upaya untuk mematikan aktivitas komunitas pencinta alam maupun sektor wisata pendakian.

BALIHO PERINGATAN MULAI DIPASANG

Untuk memastikan informasi sampai kepada masyarakat, BPBD Kota Tomohon bersama pemerintah kelurahan dan kecamatan telah memasang baliho-baliho peringatan di sejumlah lokasi sebagai bentuk sosialisasi.

Pemerintah juga berharap para pencinta alam, pemandu wisata serta masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung ikut membantu menyampaikan informasi tersebut.

“Kami berharap rekan-rekan pencinta alam, para pemandu wisata dan masyarakat sekitar dapat membantu mensosialisasikan kebijakan ini,” ujar Supit.

PENUTUPAN TAK AKAN PERMANEN

Ada kabar baik bagi para pendaki. Penutupan jalur pendakian ini tidak dimaksudkan untuk berlaku permanen.

Pemerintah Kota Tomohon akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan serta rekomendasi dari pihak berwenang.

“Penutupan ini kami yakin tidak akan permanen. Kita berharap semua akan kembali normal dan pasti akan kami umumkan kembali untuk pembukaan jalur pendakian,” jelasnya.

Dengan demikian, para pendaki diminta tidak memaksakan diri memasuki kawasan yang telah ditutup. Menunggu hingga kondisi dinyatakan aman jauh lebih penting daripada mempertaruhkan keselamatan.

Sebab, gunung akan tetap berdiri. Hutan akan tetap menunggu untuk dijelajahi kembali.

Keselamatan jiwa adalah prioritas. Kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */