Religi
Berani Berhenti

Nats Alkitab : Lukas 5:16
Pdt Lucy Abe Gerret STh
Saudara-saudaraku yang terkasih didalam Tuhan, Pada bulan Februari 2013, sebuah peristiwa mengguncang industri pariwisata dunia yang menimpa kapal pesiar raksasa mewah bernama Carnival Triumph.
Kapal mewah 14 lantai ini sedang berlayar di Teluk Meksiko dengan membawa lebih dari 4.200 penumpang dan kru di dalamnya. Demi mengejar keuntungan musim liburan, manajemen memaksa kapal ini terus beroperasi dari pelabuhan ke pelabuhan tanpa mengambil waktu jeda untuk perawatan mesin.
Kapten dan kru merasa selama kapal masih bisa bergerak maju, berarti semuanya aman. Hingga pada suatu pagi, bencana itu terjadi. Akibat dipaksakan bekerja terus-menerus tanpa istirahat, salah satu pipa saluran bahan bakar di ruang mesin mengalami kebocoran dan menyembur ke bagian mesin generator yang sudah terlanjur mengalami overheat (panas ekstrem). Detik itu juga, ledakan dan kebakaran hebat melanda ruang mesin.
Meskipun api akhirnya berhasil dipadamkan, dampaknya sangat mengerikan: kapal pesiar itu kehilangan seluruh daya listriknya. Kapal mewah itu seketika berubah menjadi “penjara apung” yang bau, panas, dan terombang-ambing tak berdaya di tengah laut lepas selama 5 hari sebelum akhirnya berhasil ditarik ke daratan. Kapal yang begitu megah lumpuh total hanya karena mesinnya dipaksa bekerja tanpa waktu jeda.
Saudara, waktu jeda sangat penting. Waktu beristirahat dan memulihkan kelelahan dan kepenatan tidak bisa dianggap sepele, bukan hanya untuk mesin tetapi juga untuk manusia.
Mari kita perhatikan apa yang dilakukan oleh Yesus dalam Lukas 5:16. Saat popularitas pelayanan Yesus sedang berada di puncaknya, dimana ada ribuan orang sakit disembuhkan, mukjizat-mukjizat besar terjadi, dan orang-orang berbondong-bondong datang mencari-Nya – secara logika manusia, ini adalah momen terbaik bagi Yesus untuk terus “bekerja” tanpa henti memanfaatkan momentum.
Namun, firman Tuhan mencatat keputusan Yesus yang sangat mengejutkan: “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”
Yesus sengaja keluar dari hiruk-pikuk rutinitas pelayanan. Mengapa? Karena Dia tahu bahwa pekerjaan yang berdampak besar tidak lahir dari kesibukan yang membabi buta, melainkan dari hubungan yang intim dengan Bapa di surga. Di tempat yang sunyi itulah Yesus menerima kesegaran dan kekuatan baru.
Saudaraku, bahkan Yesuspun beristirahat untuk memulihkan segala tenaga yang terkuras, teristimewa membaharui hati dan pikiranNya untuk terkoneksi dengan Bapa, maka hal yang sama juga berlaku bagi kita.
juga berlaku mutlak bagi kita semua. Mengambil waktu untuk keluar dari rutinitas keduniawian bukanlah tanda kelemahan atau kemunduran. Ini adalah strategi rohani yang vital. Tanpa waktu jeda bersama Tuhan, pekerjaan kita akan berubah menjadi beban yang menyiksa, pelayanan kita menjadi kering, dan keluarga kita hanya akan mendapatkan sisa-sisa emosi kita yang sudah lelah.
Saudaraku, bayangkan sebuah busur panah. Agar anak panah dapat melesat jauh ke depan dan mengenai sasaran dengan tepat, anak panah itu harus ditarik ke belakang terlebih dahulu. Saat ditarik ke belakang, anak panah itu berada dalam posisi diam dan seolah-olah bergerak mundur menjauhi sasaran.
Namun kita tahu, tanpa proses ditarik ke belakang dalam keheningan itu, anak panah tidak akan pernah memiliki daya dorong untuk melesat maju. Demikian pula dengan kita, dalam kehidupan ini kita semua pasti menghadapi kejenuhan akibat urusan pekerjaan atau urusan rumah tangga yang tidak ada habisnya.
Dipagi hari kita bangun dan langsung menyibukkan diri untuk bekerja mengejar materi, ataupun mengurus urusan rumah tangga. Kita mengulanginya lagi besok tanpa pernah mengambil waktu jeda untuk merawat roh kita.
Selama fisik kita masih kuat bergerak dan jadwal kita padat, berarti hidup kita baik-baik saja. Akibatnya, kita mengorbankan waktu intim kita dengan Tuhan demi mengejar rutinitas dunia, sampai akhirnya kita menyadari bahwa jiwa kita telah mengalami panas ekstrem—stres, hampa, mudah jengkel, dan rohani kita padam total di tengah jalan.
Saat seperti ini datang, entah ada berapa banyak orang yang justru melarikan diri ke hiburan duniawi atau media sosial, yang anehnya justru membuat jiwa makin terasa hampa. Maka mari belajar dari Firman ini. Saudaraku, saat kamu “Lelah” mari undur diri sejenak, ambil waktu terbaik dengan Tuhan, ijikan Tuhan menarik hidup kita ke “belakang” dari rutinitas dunia untuk mengisi daya rohani kita.
Maka, Mari ambil jeda. Mundurlah sejenak ke tempat sunyi di pagi hari, temui Bapa dalam doa, dan biarkan Dia mengisi ulang jiwa kita agar kita dapat melesat lebih jauh dan berdampak bagi kemuliaan nama-Nya. Amin













