Manado
Bertindak Seperti Seorang ‘Ayah’. GM Usman Bangun Rangkul SP PLN Berjuang Bersama di Pusat

MANADO,mediakontras.com – Suasana di Kantor PLN UID Suluttenggo yang berada di kawasan jalan Bethesda Manado, berubah menjadi panggung emosional ketika puluhan anggota Serikat Pekerja (SP) DPD PLN Suluttenggo menggelar aksi demonstrasi, Senin(20/7/26). Kedatangan pasukan ‘merah’ ini yang sejak awal sudah digembar gemborkan, disambut dengan tangan terbuka oleh GM PT PLN UID Suluttenggo Usman Bangun.
Sosok seorang ‘ayah’ di perusahan pelat merah tersebut tampil didepan dengan style yang sederhana sambil menenteng pengeras suara megaphone untuk menerima uneg – uneg dari karyawannya.

Ditengah panasnya teriknya sinar matahari, tak menyurutkan langkah GM Usman Bangun, untuk keluar dari ruang kerjanya dan langsung menemui massa SP Suluttenggo. Dengan senyum khasnya, Usman Bangun membuktikan bahwa seorang pemimpin tak harus selalu berada di balik meja.
“Dengarkan saya, anak-anakku. Hari ini saya bukan sebagai GM, tetapi sebagai ayah bagi kalian semua di PLN Suluttenggo,” Seru Usman Bangun yang langsung meredam teriakan orasi yang sebelumnya menggema.
Dihadapan puluhan pasang mata yang penuh tanya, pria yang dikenal low profile ini justru membongkar fakta mengejutkan. Ia membeberkan perjuangannya yang selama ini berjalan di balik layar, yang nyaris tak pernah terpublikasi.
“Saya tegas katakan, tuduhan bahwa saya tidak peduli adalah Keliru besar,” ujarnya dengan intonasi yang lemah lembut.

Usman Bangun mengungkapkan bahwa dirinya telah berkali-kali mengajukan gagasan kepada PLN Pusat di Jakarta. Salah satu isu pelik yang ia angkat adalah HCBP adalah posisi atau tim di dalam perusahaan yang bertugas mengelola sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, ini bukan sekadar angka, melainkan simbol keadilan bagi seluruh pekerja.
“Saya pernah memohon agar wewenang HBCP itu diberikan ke daerah. Bukan untuk kepentingan saya, tapi agar talent-talent terbaik Suluttenggo, bisa berkarir dan mengabdi di daerah masing-masing. Saya ingin anak-anak Sulteng, Gorontalo, Luwuk, Tahuna, hingga Manado tidak harus merantau jauh hanya demi hidup yang layak,” tuturnya dengan suara bergetar.
“Saya tahu, tugas saya berat. Tapi saya berjanji, apa pun yang menjadi wewenang saya, akan saya perjuangkan. Dan yang bukan wewenang saya, akan saya bawa ke pusat dengan cara yang santun,” tambahnya
Menutup sambutannya, Usman Bangun tidak memberi janji palsu. Ia mengajak seluruh serikat pekerja masuk ke ruang rapat untuk berdialog.
“Kita duduk bareng, kita cari solusi. Karena ini bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang bagaimana kita memastikan masa depan anak-anak PLN Suluttenggo lebih cerah. Saya adalah ayah yang peduli, dan ayah tidak akan pernah mengabaikan anaknya,” pungkasnya.
Dibalik aksi demo ini terbersit sebuah pelajaran berharga: bahwa dalam hiruk-pikuk tuntutan buruh, seorang pemimpin sejati bisa mengubah amarah menjadi harapan, hanya dengan menyebut kata “Ayah”.**













