Connect with us

Artikel

NasDem Tower, Sekte, BPMS, dan Pertanyaan yang Menggantung.

Redaksi

Published

pada

649480396 10237914298509069 8242503635965096224 n

Catatan : Reymoond ‘Kex’ Mudami

Penyebutan GMIM sebagai “sekte Protestan terbesar” mungkin menjadi pemantik awal perdebatan.

Namun setelah emosi mereda, publik akan menemukan bahwa persoalan sesungguhnya bukan berada pada satu kata itu.

GMIM bukan sekte. Secara sejarah, teologi, kelembagaan, dan pengakuan dalam persekutuan gereja-gereja, GMIM merupakan bagian dari arus utama gereja Protestan di Indonesia. Karena itu, penggunaan istilah “sekte” terhadap GMIM tidak tepat dan wajar jika menimbulkan keberatan dari banyak warga gereja.

Tetapi setelah persoalan istilah diluruskan, sebuah pertanyaan lain muncul: mengapa kunjungan BPMS ke NasDem Tower menimbulkan reaksi yang begitu besar?

Jawabannya mungkin bukan terletak pada pertemuan itu sendiri. Gereja tidak hidup dalam ruang hampa. Gereja berinteraksi dengan pemerintah, partai politik, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai komponen bangsa.

Tidak ada yang salah dengan komunikasi.

Yang menjadi persoalan adalah konteksnya.

Di tengah munculnya berbagai diskusi mengenai kinerja, prioritas pelayanan, dan harapan jemaat terhadap kepemimpinan gereja, setiap langkah BPMS akan dibaca lebih kritis dibanding sebelumnya. Apa yang dahulu dianggap biasa, kini dipertanyakan. Apa yang dahulu diterima begitu saja, kini diminta penjelasannya.

Karena itu, reaksi yang muncul tidak dapat serta-merta dianggap sebagai sikap anti-politik atau upaya mencari kesalahan. Sebagian besar justru lahir dari kepedulian. Jemaat ingin mengetahui arah. Jemaat ingin memahami tujuan. Jemaat ingin diyakinkan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi pelayanan gereja.

Dalam situasi seperti ini, diam bukan selalu pilihan terbaik. Ruang yang tidak diisi penjelasan sering kali akan dipenuhi asumsi. Ketika informasi terbatas, spekulasi tumbuh. Ketika komunikasi minim, kecurigaan berkembang.

Mungkin itulah sebabnya perdebatan mengenai kata “sekte” cepat menyebar. Bukan karena istilah itu sendiri sangat penting, melainkan karena ia hadir di tengah suasana ketika banyak pertanyaan lain belum memperoleh jawaban yang memadai.

Pada akhirnya, masalah terbesar GMIM hari ini mungkin bukan soal istilah, bukan pula soal lokasi pertemuan. Yang sedang diuji adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun oleh simbol, foto, atau seremoni. Kepercayaan dibangun melalui keterbukaan, keteladanan, dan kesediaan menjelaskan kepada jemaat alasan di balik setiap langkah yang diambil.

Sebab ketika jemaat mulai bertanya, yang mereka cari bukan kontroversi. Mereka mencari kepastian bahwa gereja tetap berjalan dalam terang, bukan dalam ruang yang dipenuhi tanda tanya.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */