Artikel
KEMERDEKAAN YANG BEKERJA DARI PULAU-PULAU

Catatan Reflektif HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia
Oleh : Reymoond ‘Kex’ Mudami
Setiap 17 Agustus, kita kembali mengibarkan Merah Putih. Kita mengenang perjuangan para pendahulu, menyanyikan lagu kebangsaan, mengikuti upacara, dan mengucapkan kalimat yang sangat akrab: Dirgahayu Republik Indonesia.
Tetapi setelah upacara selesai, sebuah pertanyaan penting patut diajukan:
Sejauh mana kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan rakyat?
Pertanyaan itu menjadi semakin bermakna ketika kita melihat Indonesia dari pulau-pulau kecil.
Di Bunaken, Manado Tua dan Siladen, kemerdekaan tidak cukup diterjemahkan melalui seremoni. Ia harus hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi nyata: air bersih, lingkungan yang terjaga, listrik yang menyala sepanjang hari, sampah yang terangkut, kesehatan masyarakat yang diperhatikan, pendidikan yang disentuh, serta pemerintah yang tidak berhenti memonitor persoalan warganya.
Dalam konteks itulah, kinerja Pemerintah Kota Manado di wilayah Kecamatan Bunaken Kepulauan layak mendapat perhatian pada momentum HUT ke-81 Republik Indonesia.
Salah satu sosok yang terlihat konsisten mengawal dinamika itu adalah Camat Bunaken Kepulauan, Imanuel Mandak, SE.
Bukan karena seorang camat harus dipuji hanya karena menjalankan tugasnya. Justru sebaliknya. Dalam negara yang telah 81 tahun merdeka, bekerja dengan sungguh-sungguh memang seharusnya menjadi kewajiban setiap aparatur.
Namun, ketika kerja itu dilakukan secara spartan, kontinyu dan progresif, ia layak dicatat sebagai contoh bahwa pemerintahan di tingkat paling dekat dengan masyarakat dapat menjadi wajah nyata kehadiran negara.
Lihat saja rangkaian kerja yang berlangsung di wilayah kepulauan.
Upaya pengendalian rabies melalui program vaksinasi dengan sasaran sekitar 5.000 dosis menunjukkan bahwa isu kesehatan masyarakat tidak boleh berhenti pada daratan utama. Masyarakat pulau juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan kesehatan.
Persoalan air bersih pun menjadi perhatian. Penyaluran air bersih ke wilayah pulau merupakan bentuk pelayanan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi masyarakat kepulauan memiliki arti yang sangat besar.
Kemudian ada Kelurahan Manado Tua Dua yang meraih Juara I Lomba Kebersihan antar-Kelurahan se-Kota Manado tahun 2026.
Prestasi tersebut menarik karena kebersihan di wilayah kepulauan bukan perkara mudah. Ada persoalan geografis, transportasi, keterbatasan sarana, hingga persoalan pengangkutan sampah.
Karena itu, konsistensi monitoring pengangkutan sampah dari Pulau Siladen menuju Dermaga Bahowo Tongkeina juga menjadi bagian penting dari cerita ini.
Begitu pula dengan peresmian listrik 1 x 24 jam di Pulau Siladen, setelah sebelumnya masyarakat hanya menikmati sekitar enam jam layanan listrik.
Bagi sebagian masyarakat di kota besar, listrik 24 jam mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Tetapi bagi masyarakat pulau yang sebelumnya harus hidup dengan keterbatasan waktu penerangan, perubahan itu mempunyai makna yang jauh lebih besar.
Di situlah kita belajar bahwa ukuran pembangunan tidak selalu harus dilihat dari megahnya gedung atau besarnya proyek.
Kadang-kadang, kemajuan justru terasa ketika sebuah rumah di pulau kecil akhirnya bisa menikmati terang lebih lama.
Kemerdekaan yang hadir melalui kolaborasi
Ada satu hal lain yang menarik dari kerja di Bunaken: pembangunan tidak dikerjakan pemerintah sendirian.
Kehadiran mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Seri Bunaken 2026 menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah, perguruan tinggi dan masyarakat dapat berjalan bersama.
Selama 50 hari berada di Pulau Bunaken, mahasiswa UGM menjalankan kurang lebih 181 program kegiatan yang diarahkan untuk memberi manfaat kepada masyarakat sekaligus mendorong pengembangan potensi daerah dan pariwisata.
Pada audiensi penarikan Tim KKN-PPM UGM di Aula Kantor Inspektorat Provinsi Sulawesi Utara, 10 Agustus 2026, Camat Imanuel Mandak menyampaikan apresiasi terhadap pengabdian tersebut.
Menurut Mandak, kehadiran mahasiswa UGM bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Apresiasi itu penting karena menunjukkan satu cara pandang: pemerintahan yang baik bukan hanya pemerintah yang bekerja sendiri, melainkan pemerintah yang mampu mengajak banyak pihak untuk bekerja bersama.
Terlebih, kehadiran UGM di Bunaken telah berlangsung secara berturut-turut selama tiga tahun.
Bagi masa depan Bunaken sebagai kawasan pariwisata, pendidikan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, kolaborasi semacam ini tentu mempunyai nilai strategis.
Mandak sebagai catatan kecil tentang birokrasi yang bekerja
Pada akhirnya, catatan ini bukan semata-mata tentang seorang camat.
Ia lebih besar dari itu.
Imanuel Mandak hanyalah satu bagian dari mesin pemerintahan Kota Manado yang harus terus bergerak melayani masyarakat. Karena itu, apresiasi terhadap kinerjanya juga harus dibaca sebagai apresiasi terhadap Pemerintah Kota Manado yang terus mendorong pelayanan di wilayah kepulauan.
Namun, sebuah sistem pemerintahan membutuhkan orang-orang di lapangan yang mau memastikan bahwa kebijakan tidak berhenti di atas kertas.
Di titik itulah peran camat menjadi penting.
Camat bukan sekadar pejabat administratif. Di wilayah kepulauan, ia adalah salah satu mata dan telinga pemerintah yang bersentuhan langsung dengan realitas masyarakat.
Ia melihat persoalan air.
Ia berhadapan dengan persoalan sampah.
Ia mengawal persoalan kesehatan.
Ia menyaksikan kebutuhan listrik.
Ia bertemu masyarakat.
Ia berkoordinasi dengan pemerintah.
Dan ketika perguruan tinggi datang membawa mahasiswa untuk mengabdi, ia pula yang ikut memastikan kehadiran mereka memberi manfaat.
Karena itu, kerja yang dilakukan secara terus-menerus memang pantas diberi ruang dalam catatan publik.
Bukan untuk mengkultuskan seseorang.
Bukan pula untuk mengubah pelayanan publik menjadi panggung pujian.
Tetapi untuk memberikan pesan sederhana kepada birokrasi kita:
kerja yang sungguh-sungguh akan selalu menemukan cara untuk dirasakan masyarakat.
Merdeka berarti rakyat merasakan kehadiran negara
HUT ke-81 RI semestinya tidak hanya menjadi momentum untuk bertanya berapa tahun Indonesia telah merdeka.
Lebih penting, kita bertanya:
Apa yang sudah dirasakan rakyat dari kemerdekaan itu?
Di Bunaken, jawabannya mungkin tidak selalu hadir dalam kalimat-kalimat besar.
Ia hadir ketika air bersih tiba.
Ketika sampah terangkut.
Ketika lingkungan menjadi bersih.
Ketika vaksinasi rabies menjangkau masyarakat.
Ketika listrik menyala 24 jam.
Ketika mahasiswa datang bukan hanya untuk belajar, tetapi juga mengabdi.
Dan ketika pemerintah hadir, memonitor, mengawal dan memastikan berbagai program tidak berhenti sebagai rencana.
Itulah wajah lain kemerdekaan.
Kemerdekaan yang bekerja.
Dan dari pulau-pulau kecil di utara Sulawesi, kita kembali diingatkan bahwa Republik Indonesia tidak boleh hanya terasa di pusat kota.
Ia harus terasa sampai ke pulau terluar, ke kampung-kampung pesisir, ke rumah-rumah sederhana, dan kepada masyarakat yang setiap hari menjaga laut dan tanah air dari wilayahnya masing-masing.
Pada HUT ke-81 Republik Indonesia ini, kinerja Pemerintah Kota Manado di wilayah Bunaken Kepulauan—dengan Camat Imanuel Mandak sebagai salah satu figur yang konsisten mengawal pelaksanaannya—layak diberi apresiasi.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana kita mengibarkan bendera.
Kemerdekaan adalah tentang bagaimana negara hadir dan bekerja untuk rakyatnya.
Dan di Bunaken, pekerjaan itu masih terus berlangsung.
Merdeka!🔥🌈💪















