Connect with us

Manado

DARI PEDALAMAN KALIMANTAN HINGGA PELAYANAN KESEHATAN MENTAL

32 Tahun Perjalanan Pelayanan Pdt. Barnabas Sumampouw: Merawat Manusia Secara Utuh (Holistik)

Reky Simboh

Published

pada

IMG 20260606 WA0084

MANADO,mediakontras.com — Di tengah dunia yang terus berubah dengan segala kemajuan teknologi, pendidikan, dan pembangunan, manusia modern justru menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Di balik kemajuan itu, semakin banyak orang bergumul dengan kecemasan, stres, trauma, depresi, kesepian, konflik keluarga, kehilangan makna hidup, hingga krisis spiritual yang tidak selalu terlihat oleh mata.

Di tengah realitas tersebut, perjalanan pelayanan Pdt. Barnabas Sumampouw, S.Th., CHt (IACT-USA), CCH (NGH-USA), CI menjadi menarik untuk disimak.

Selama kurang lebih 32 tahun pelayanan, ia telah menapaki perjalanan panjang yang membawanya dari pedalaman Kalimantan, kehidupan masyarakat Dayak, jemaat-jemaat terpencil di wilayah perbatasan, dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, hingga pelayanan pastoral rumah sakit, kesehatan mental, dan hipnoterapi profesional di Sulawesi Utara.

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat tugas atau jabatan gerejawi. Seluruh pengalaman tersebut membentuk sebuah visi pelayanan yang terus dipegangnya hingga hari ini:
“Melayani manusia secara utuh (holistik)—menyentuh pikiran, memulihkan perasaan, membentuk perilaku, dan memperdalam spiritualitas agar kasih Kristus nyata dalam kehidupan.”

SETULANG: SEKOLAH KEHIDUPAN YANG MEMBENTUK PELAYANAN

Perjalanan pelayanan Barnabas dimulai setelah menyelesaikan pendidikan teologi di UKIT Tomohon dan menjalani masa vikariat di GKPI Tarakan.

Namun salah satu pengalaman yang paling membentuk kehidupannya terjadi ketika ia tinggal di Setulang, sebuah komunitas masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan Utara.

Bagi banyak orang, Setulang mungkin hanya sebuah desa di pedalaman.
Namun bagi Barnabas, Setulang adalah “Sekolah Kehidupan.”

Di tempat itu ia datang, belajar, tinggal, dan hidup berbaur bersama masyarakat Dayak Kalimantan.
Ia belajar tentang kesederhanaan, ketahanan hidup, solidaritas, penghormatan terhadap alam, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak selalu ditemukan di ruang-ruang akademik.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi fondasi yang membentuk cara pandangnya tentang manusia dan pelayanan hingga hari ini.

MENGGEMBALAKAN JEMAAT DI PEDALAMAN KALIMANTAN

Setelah itu ia melayani sebagai Pendeta/Gembala sekaligus Ketua Majelis Jemaat di tiga jemaat pedalaman GKPI, yaitu:
Pulau Sapi
Furu’ Tegop
Pulungan
Pada masa itu, pelayanan dilakukan di tengah keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi.

Perjalanan menggunakan perahu menyusuri sungai-sungai Kalimantan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, pelayanan gereja tidak hanya berbicara tentang ibadah dan pemberitaan Firman, tetapi juga pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan sosial, dan pendampingan kehidupan warga jemaat.

Setelah restrukturisasi organisasi gereja, Barnabas melanjutkan pelayanan sebagai:
Pendeta Jemaat GKPI Kuala Lapang
Pendeta Jemaat GKPI Malinau Kota
Pendeta Jemaat GKPI Tanjung Lapang
Pendeta Jemaat GKPI Samarinda

24 TAHUN MENGABDI DI KALIMANTAN

Kurang lebih 24 tahun hidup dan melayani di Kalimantan menjadi bagian yang sangat menentukan dalam perjalanan pelayanannya.

Selain menggembalakan jemaat, Barnabas juga dipercaya memimpin Yayasan Pemancar Kasih (YPK-GKPI) Malinau pada periode 2016–2018.

Yayasan tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam masa kepemimpinannya, lahir salah satu inisiatif strategis yang kemudian menjadi tonggak penting hubungan antargereja di Indonesia.

Sebagai Ketua Yayasan, ia turut merintis dan memprakarsai kerja sama antara GMIM dan GKPI yang diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua sinode.

Salah satu implementasi penting dari kerja sama tersebut adalah rencana pengutusan Tenaga Utusan Gereja (TUG) dari GMIM, baik di bidang teologi maupun bidang umum, untuk mendukung pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial, dan pengembangan masyarakat yang berada di bawah Yayasan Pemancar Kasih.

Kerja sama tersebut menjadi simbol persaudaraan, kolaborasi, dan kesatuan pelayanan lintas sinode demi melayani masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan Kalimantan.

KEMBALI KE LINGKUNGAN GMIM

Pada tahun 2018, Barnabas memasuki babak baru pelayanannya ketika dipercayakan sebagai Pendeta Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda Tomohon.

Sebagai Tenaga Pastoral Sosial Medis, ia mendampingi pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan yang setiap hari berhadapan dengan pergumulan hidup, penderitaan, harapan, dan pemulihan.

Setelah itu ia melayani sebagai Pendeta Jemaat GMIM Kanaan Winenet Wilayah Bitung XII selama lebih dari empat tahun.

Selanjutnya ia dipercayakan melayani sebagai Pendeta Jemaat GMIM Sion Perak Sorong Wilayah Manado Tenggara.

Saat ini ia kembali melayani sebagai Pendeta Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado, mendampingi pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, dan seluruh unsur rumah sakit melalui pelayanan pastoral, pendampingan spiritual, dan penguatan kesehatan mental.

MENJEMBATANI TEOLOGI, KESEHATAN MENTAL, DAN HIPNOTERAPI PROFESIONAL

Selain dikenal sebagai pendeta, Barnabas juga dikenal sebagai salah satu praktisi hipnosis dan hipnoterapi yang kompeten, legal, dan profesional di Sulawesi Utara.

Ia memiliki berbagai sertifikasi nasional dan internasional, antara lain:
Certified Hypnotherapist (CHt – IACT USA)
Certified Clinical Hypnotherapist (CCH – NGH USA)
Certified Instructor (CI)
Sertifikasi Kompetensi BNSP Republik Indonesia
Sertifikat Kompetensi Klinis Hipnoterapi
Sertifikat Cakap Praktik Hipnoterapi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Kompetensi yang dikembangkan melalui kolaborasi Indonesian Hypnosis Centre (IHC), Kementerian Kesehatan RI, dan KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit)
Selain menjalankan praktik profesional, ia juga aktif sebagai Instruktur Hipnosis Bersertifikat Indonesian Hypnosis Centre (IHC).

Melalui jejaring IHC, ia secara rutin menyelenggarakan workshop dan pelatihan profesi hipnosis yang hampir setiap bulan dilaksanakan di Kota Manado, termasuk di Aston Manado Hotel dan berbagai lokasi pelatihan lainnya.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tenaga kesehatan, guru, dosen, rohaniwan, konselor, mahasiswa, profesional, hingga masyarakat umum.

Saat ini ia juga dipercaya sebagai:
Ketua DPD KITA IHC Sulawesi Utara
Ketua DPD PKHI Manado
Owner dan Hypnotherapist Utama BPS Hypnotherapy Centre
Instruktur Hipnosis Bersertifikat IHC

MENANGANI BERAGAM KASUS KLINIS DAN PSIKOLOGIS

Selain aktif dalam edukasi dan pelatihan, Barnabas juga telah menangani banyak klien dan pasien dari berbagai latar belakang usia, profesi, dan kondisi kehidupan.

Kasus-kasus yang pernah ditangani antara lain:
Kecemasan dan stres
Trauma psikologis
Gangguan tidur
Fobia
Psikosomatis
Regulasi emosi
Kepercayaan diri
Konflik keluarga
Duka dan kehilangan
Persiapan tindakan medis
Pendampingan pasien penyakit kronis dan paliatif
Motivasi belajar
Pengembangan potensi diri
Berbagai kebutuhan konseling dan pemulihan psikologis lainnya
Menurut Barnabas, hipnosis dan hipnoterapi bukanlah pengganti pelayanan medis, psikologi, maupun pelayanan pastoral.
Sebaliknya, hipnoterapi merupakan salah satu pendekatan profesional yang dapat digunakan secara etis, ilmiah, dan kolaboratif untuk membantu proses pemulihan manusia.

GEREJA HARUS MENJADI RUANG PEMULIHAN JIWA

Dalam berbagai kesempatan pelayanan maupun talkshow publik, Barnabas kerap menyampaikan sebuah refleksi yang menurutnya semakin penting bagi gereja masa kini.

Menurutnya, gereja tentu tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai persekutuan orang percaya yang berpusat kepada Kristus, pemberitaan Firman, sakramen, dan kehidupan ibadah.

Namun di saat yang sama, gereja juga perlu semakin menyadari realitas pergumulan yang sedang dihadapi banyak warga gereja dan masyarakat.

Ia berpandangan bahwa gereja tidak cukup hanya menjadi tempat berkhotbah atau melayani di altar, tetapi juga perlu semakin bertumbuh menjadi ruang pemulihan jiwa.

“Banyak orang datang ke gereja dengan pakaian terbaiknya, tetapi tidak sedikit yang datang membawa kecemasan, luka batin, konflik keluarga, ketakutan, dan pergumulan hidup yang tidak diketahui orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, gereja saat ini berhadapan dengan berbagai persoalan yang semakin kompleks:
Kecanduan gawai pada anak-anak
Kecanduan media sosial
Krisis identitas pada remaja
Bullying
Kecanduan pornografi
Penyalahgunaan narkoba
Pergaulan berisiko
Broken home
Kekerasan dalam rumah tangga
Perceraian
Konflik keluarga
Kesepian
Stres berkepanjangan
Depresi dan kecemasan
Krisis karakter dan integritas
Kehilangan makna hidup
Luka batin akibat penolakan dan trauma
Burnout pada pekerja dan pelayan gereja
Persoalan kesehatan mental yang semakin meningkat di masyarakat
Menurutnya, sebagian besar persoalan tersebut tidak berada jauh di luar gereja.

Persoalan-persoalan itu juga hadir di tengah keluarga-keluarga Kristen, jemaat, bahkan tidak jarang di tengah para pelayan gereja sendiri.

Karena itu, ia meyakini bahwa gereja masa depan perlu semakin mengembangkan pelayanan yang tidak hanya kuat dalam aspek liturgi dan spiritualitas, tetapi juga memberi ruang bagi konseling pastoral, pendidikan karakter, penguatan keluarga, kesehatan mental, dan pendampingan emosional yang sehat.

“Bukankah Yesus bukan hanya berkhotbah? Yesus juga mendengarkan, menemani, menghibur, menyembuhkan, dan memulihkan,” katanya.

Karena itu, menurut Barnabas, gereja dipanggil bukan hanya untuk memberitakan pemulihan, tetapi juga menjadi tempat di mana pemulihan itu sungguh-sungguh dapat dialami.

NARASUMBER WELLNESS CARE MONTINI RADIO FM

Karena pengalaman dan kompetensi yang dimilikinya, Barnabas juga kerap diundang sebagai narasumber dalam berbagai seminar, workshop, pelatihan, dan forum edukasi publik.
Ia dikenal luas melalui keterlibatannya dalam Program Talkshow “Wellness Care” di Montini Radio FM Manado, yang secara rutin membahas isu kesehatan mental, hipnosis, hipnoterapi, pendidikan karakter, spiritualitas, keluarga, serta berbagai tantangan psikososial masyarakat modern.

Melalui program tersebut, ia berupaya membangun pemahaman bahwa iman, ilmu pengetahuan, dan kesehatan mental tidak perlu dipertentangkan.

Sebaliknya, ketiganya dapat berjalan bersama dalam membantu manusia menemukan pemulihan dan pertumbuhan yang lebih utuh.

MELAYANI MANUSIA SECARA UTUH

Setelah lebih dari tiga dekade pelayanan, dari sungai-sungai pedalaman Kalimantan hingga koridor rumah sakit, dari mimbar gereja hingga ruang edukasi kesehatan mental, satu keyakinan yang terus dipegangnya tetap sama:
“Melayani manusia secara utuh (holistik)—menyentuh pikiran, memulihkan perasaan, membentuk perilaku, dan memperdalam spiritualitas agar kasih Kristus nyata dalam kehidupan.”

Bagi Barnabas, pelayanan pada akhirnya bukanlah tentang jabatan, gedung, atau penghargaan. Pelayanan adalah tentang manusia.
Manusia yang terluka.
Manusia yang mencari harapan.

Manusia yang membutuhkan pendampingan.
Dan manusia yang rindu mengalami pemulihan.
Soli Deo Gloria.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */