Olahraga
Clarissa Maria Thomas, Dari BJE Sulut Kini Tercatat Pemain Timnas U-18
MANADO, mediakontras.com — Perjalanan panjang tak selalu berliku. Kadang, ia justru berkelok indah menuju mimpi. Itulah yang kini dirasakan oleh Clarissa Maria Thomas, gadis asli Manado yang baru saja terpukul bahagia.
Panggilan untuk membela tim nasional voli putri U-18 Indonesia di ajang Princess Cup dan AVC 2026 membuat Icha—sapaan akrabnya—berdecak kagum pada jalan hidupnya sendiri.
“Masa? Saya?” ujarnya setengah tak percaya saat pertama kali mendengar namanya masuk dalam daftar 12 pemain pilihan PBVSI.
Sukacita itu masih terasa hangat ketika mediakontras.com menghubunginya, Minggu (31/5/26). Icha baru saja menutup panggung Proliga 2026 bersama Falcon Medan. Satu musim penuh ia bergulat sebagai setter andalan. Kini, kesempatan lebih besar menanti: mengenakan seragam Merah Putih.
“Ini penghargaan luar biasa buat saya. Pertama kali membela Indonesia di level internasional,” tutur Icha dengan mata berbinar.

Panggung Pertama di BJE Sulut
Cerita Icha tidak dimulai di atas matras empuk. Ia mengawali langkah dari lantai keras GOR BJE Sulut di Manado, tempat klub BJE Sulut berlatih. Di sanalah Joko Susanto, pelatih kepala yang juga dikenal sebagai arsitek tim-tim muda Sulawesi Utara, menemukan bakat mentahnya.
“Saya masih ingat betul pertama kali dilatih coach Joko. Waktu itu saya belum tahu apa-apa tentang voli. Cara memegang bola pun salah,” kenang Icha sambil tertawa kecil.
Namun perlahan, tangan dingin Joko meramu Icha dari nol. Kaki-kaki yang kaku menjadi lincah. Tangan yang kaku menjadi lentur. Perasaan takut diganti dengan keberanian.
“Coach Joko lah yang membuat saya mengenal voli sampai ke titik ini. Ilmu beliau benar-benar membentuk fondasi saya. Sampai kapan pun, saya berutang budi kepada beliau,” kata Icha dengan nada haru.
Ia tak lupa menyebut doa dari mantan rekan-rekan setim di BJE Sulut yang kini tersebar. “Mereka selalu menyemangati dari jauh. Itu menjadi energi tambahan.”
Mata pada Princess Cup dan AVC 2026
Sebagai pengatur serangan, Icha sadar tanggung jawabnya tidak ringan. Namun ia menolak terbebani. “Saya akan nikmati setiap proses. Ini semua sudah digariskan Tuhan. Saya hanya perlu setia menjalaninya.”
Dari tribun kecil di Manado hingga panggung Asia—Icha membawa satu tekad: membuktikan bahwa anak daerah juga bisa. Terlebih dengan dukungan doa keluarga dan bayang-bayang semangat dari sang pelatih pertama.
“Semua karena campur tangan Tuhan Yesus. Tidak lebih,” pungkasnya sambil tersenyum pamit. Di ujung senja, langkah Icha terasa ringan. Seperti bola voli yang melambung tinggi, sebelum ia tempatkan dengan sempurna ke sisi lawan.
Satu nama telah tercatat: Clarissa Maria Thomas untuk Indonesia. (*)