Connect with us

Biak Numfor

Antara QRIS dan Kenyataan: Jeritan Pedagang Kaki Lima dan Mama-Mama Biak di Pasar Darfuar

Henrry Morin

Published

pada

QRIS biak

Biak Numfor |mediakontras.com– Program digitalisasi transaksi melalui QRIS yang digencarkan pemerintah dan perbankan sejatinya hadir dengan tujuan modernisasi ekonomi rakyat. Namun di lapangan, terutama bagi pedagang kecil dan mama-mama asli Papua di Pasar Darfuar, penerapan sistem tersebut justru memunculkan kegelisahan baru yang perlahan berubah menjadi protes terbuka.

Investigasi Mediakontras.com menemukan bahwa sebagian besar pedagang kecil di Pasar Darfuar belum sepenuhnya siap menghadapi sistem transaksi digital. Kondisi ekonomi, keterbatasan jaringan internet, rendahnya pemahaman teknologi, hingga ketidakstabilan kepemilikan telepon pintar menjadi persoalan nyata yang selama ini jarang disorot.

Di tengah kampanye “transaksi non tunai”, mama-mama penjual hasil kebun justru masih bertahan dengan pola jual beli tradisional. Mereka menjual pinang, sayur, keladi, pisang, daun gedi, dan hasil kebun lainnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya pendidikan anak-anak mereka.

“Kadang satu hari jualan belum tentu habis. Kalau pembeli semua harus QRIS, kami bingung. Tidak semua mama punya HP bagus,” ungkap salah satu pedagang di Pasar Darfuar kepada Mediakontras.com.

Realita di Lapangan Tidak Semudah Sosialisasi

Dalam penelusuran di sejumlah titik perdagangan kecil di Kota Biak, ditemukan bahwa banyak pedagang sebenarnya belum memahami secara utuh mekanisme QRIS. Sebagian hanya mengetahui bahwa pembayaran harus menggunakan barcode, tetapi tidak memahami proses pencairan dana, biaya administrasi, maupun keamanan transaksi.

Beberapa pedagang bahkan mengaku pernah mengalami pembayaran yang tidak masuk, sinyal hilang saat transaksi, hingga kesulitan mengecek saldo rekening.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa digitalisasi yang dipaksakan tanpa kesiapan masyarakat kecil justru akan memperlebar jurang ekonomi antara pedagang besar dan pedagang tradisional.

Pasar Darfuar menjadi titik paling nyata dari kegelisahan tersebut. Puluhan mama-mama datang membawa hasil kebun ke Kantor Bupati Biak Numfor sebagai simbol bahwa ekonomi rakyat kecil masih bertumpu pada tanah, kebun, dan transaksi langsung antar manusia, bukan sekadar sistem digital.

Pedagang Kecil Merasa Tersisih

Sejumlah pedagang menilai kebijakan dan pengawasan di pasar belum sepenuhnya berpihak kepada pedagang lokal asli Papua. Mereka mengeluhkan semakin banyaknya toko besar dan pedagang bermodal kuat yang dianggap lebih mudah menyesuaikan diri dengan sistem digital dibanding pedagang tradisional.

“Kalau semua diarahkan digital, kami mama-mama kecil mau bersaing bagaimana?” kata seorang pedagang lainnya.

Investigasi juga menemukan bahwa sebagian mama-mama pedagang masih menggunakan sistem utang harian dengan pelanggan tetap. Praktik sosial seperti ini sulit diterapkan dalam pola transaksi digital yang bersifat formal dan tercatat otomatis.

Bagi mereka, pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi ruang hidup, ruang sosial, dan sumber bertahan hidup keluarga.

Asisten I Biak Numfor bertemu mama mama
Antara QRIS dan Kenyataan: Jeritan Pedagang Kaki Lima dan Mama-Mama Biak di Pasar Darfuar 141

Pemerintah Diminta Turun Melihat Fakta

Aksi protes di Kantor Bupati Biak Numfor akhirnya mendapat perhatian pemerintah daerah. Asisten I Setda Biak Numfor turun langsung menemui mama-mama pedagang untuk mendengar aspirasi mereka.

Namun para pedagang berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada dialog semata. Mereka meminta adanya perlindungan nyata terhadap pedagang kecil asli Papua, evaluasi penerapan QRIS di pasar tradisional, serta kebijakan yang mempertimbangkan kondisi riil masyarakat bawah.

Beberapa poin tuntutan yang disuarakan pedagang antara lain:

  • Perlindungan terhadap pedagang lokal asli Papua
  • Penataan pedagang besar dan toko modern
  • Evaluasi penerapan QRIS di pasar tradisional
  • Peraturan daerah yang melindungi usaha kecil mama-mama Papua
  • Digitalisasi Harus Berkeadilan

QRIS memang bagian dari perkembangan zaman. Namun pertanyaan besarnya adalah: apakah seluruh rakyat sudah benar-benar siap?

Di Biak, khususnya Pasar Darfuar, jawaban itu tampaknya belum sepenuhnya iya.

Digitalisasi ekonomi tanpa kesiapan sosial berpotensi melahirkan ketimpangan baru. Mama-mama Papua bukan menolak kemajuan, tetapi meminta agar kemajuan tidak menghapus ruang hidup mereka.

Di balik barcode dan sistem pembayaran modern, ada kenyataan yang tidak boleh diabaikan: rakyat kecil masih berjuang bertahan hidup dari hasil kebun dan jualan harian.

Dan dari Pasar Darfuar, suara itu kini mulai terdengar lebih keras.
(Henrry Morin)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */