Artikel
Kuko Bupati, dan Harapan Sekejap Sunyi
By : Reymoond ‘Kex’ Mudami
Malam itu tidak benar-benar gaduh. Ia justru datang dengan cara yang paling sunyi—pelan, hampir tanpa suara, tetapi terasa sampai ke dalam.
Kabar itu menyebut nama Chyntia Ingrid Kalangit, yang di berapa komunikasi saya dengannya saya memanggilnya Kuko Bupati.
Penetapan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara berjalan sebagaimana mestinya sebuah proses hukum.
Namun perasaan tidak selalu berjalan setegas itu.
Ada bagian dalam diri publik yang tidak segera menemukan kata. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tetapi karena terlalu banyak yang ingin dipahami sekaligus.
Di situlah kesunyian mengambil tempat—bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang yang penuh oleh hal-hal yang belum sempat diucapkan.
Kuko, bagi Sitaro, bukan sekadar nama dalam lembar keputusan. Ia adalah wajah yang pernah berdiri di tengah harapan. Dukungan yang ia terima waktu itu bukan hanya angka; ia adalah kepercayaan yang dititipkan dengan sungguh-sungguh.

Orang tidak hanya memilih. Mereka membayangkan.
Membayangkan perubahan yang mungkin datang. Membayangkan kedekatan yang terasa. Membayangkan bahwa kali ini, sesuatu bisa berjalan sedikit lebih baik.
Dan karena itulah, ketika kenyataan bergerak ke arah yang tidak diharapkan, yang terasa bukan sekadar keterkejutan.
Ia lebih mirip jeda panjang—seperti seseorang yang sedang mencoba memastikan apakah yang ia dengar benar adanya.
Tidak semua kesedihan perlu suara. Tidak semua kekecewaan mencari arah untuk disalahkan.
Ada yang memilih diam, bukan karena tidak peduli, tetapi karena sedang menjaga sesuatu di dalam dirinya—barangkali sisa kepercayaan itu sendiri.
Tulisan ini tidak sedang menimbang benar dan salah. Waktu dan proses akan menjawab itu dengan caranya.
Tetapi ada sisi lain yang layak dirawat: bagaimana sebuah harapan, yang pernah tumbuh bersama, kini harus berhadapan dengan kenyataan yang berbeda.
Dan di antara keduanya, ada ruang yang sunyi.
Sunyi yang tidak menuduh.
Sunyi yang tidak membela.
Sunyi yang hanya mencoba mengerti.
Mungkin, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang jatuh atau siapa yang bertahan. Melainkan tentang bagaimana kita semua belajar bahwa harapan—seindah apa pun ia pernah dirajut—tetaplah sesuatu yang rapuh.
Ia bisa tumbuh dengan cepat, tetapi juga bisa terdiam dalam sekejap.
Dan malam itu, di Sitaro, banyak orang tidak berkata apa-apa.
Bukan karena tidak merasa.
Tetapi karena perasaan itu terlalu dalam untuk segera diberi nama.
Barangkali di titik inilah kita diajak kembali menata cara berharap.
Bahwa harapan kepada pemimpin tidak cukup hanya dengan kekaguman, kedekatan, atau kebanggaan asal-usul. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih sunyi dan lebih kuat: integritas yang bertahan bahkan ketika tidak ada yang melihat, dan tanggung jawab yang tidak goyah bahkan ketika kekuasaan terasa begitu dekat.
Sebab pada akhirnya, yang diuji bukan hanya mereka yang diberi mandat, tetapi juga kita yang memberi.
Apakah kita akan berhenti berharap, atau belajar berharap dengan cara yang lebih dewasa.
Dan kesunyian malam itu, mungkin, bukan akhir dari segalanya—
melainkan awal dari pengertian yang baru.(*)