Connect with us

Manado

Beto Disebut Aktor Biang Keladi Kemelut di BSG

Reky Simboh

Published

pada

Screenshot 20260424 122548

Manado,mediakontras.com – Kemelut yang tengah melilit Bank SulutGo (BSG), khususnya dugaan mark up Rp 300 miliar pembangunan kantor pusat baru, oleh para mantan karyawan disebut tak lepas dari peran Joubert Dondokambey.

Kerabat mantan gubernur Olly Dondokambey yang masih tetap dipercaya memegang jabatan Direktur Umum BSG itu, dituding menjadi pengendali segala hal di bank ini.

“Di atas kertas Direktur Utamanya adalah Revino Pepah, tapi defacto-nya si Beto lah pengendali BSG, termasuk soal dugaan mark up kantor pusat yang ramai diberitakan media itu,” ungkap mantan karyawan yang meminta identitasnya tak dipublikasikan itu sambil menyebut nama panggilan Joubert Dondokambey.

Menurut dia, sejak awal, tak seharusnya Beto diakomodir di BSG karena ketika ikut fit and proper test (FPT) di salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk jabatan setingkat pemimpin divisi saja, Beto tidak lolos.

“Makanya kami kaget juga ketika Beto bisa jadi Pemimpin Divisi Umum dan kemudian Direktur Umum, malah menjabat hingga dua periode ini,” kata sumber.

Sumber ini menyebut, pengangkatan Beto, baik sejak pemimpin divisi hingga jadi direksi, telah menyalahi undang undang perseroan maupun tata kelola bank.

“Ada yang namanya derajat yang dihitung ke atas, ke bawah, ke samping, ke depan dan ke belakang dari pemegang saham, apalagi pemegang saham pengendali. Mereka yang masuk katagori derajat itu tidak bisa ditunjuk dan diangkat jadi pejabat bank,” ungkapnya.

Sumber menyayangkan, model yang sudah menyalahi aturan ini tidak hanya ditetapkan pada Beto, namun juga Louisa Parengkuan, Direktur Operasional yang disebut-sebut masih famili dekat mantan Wakil Gubernur, Steven Kandou.

Karena itu, kata sumber, tidak heran jika kemudian Gubernur Sulut diduga ikut-ikutan menempatkan saudara kandungnya di jajaran pengurus BSG yang baru saja ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) belum lama ini.

Oleh sebab itu, tambah sumber, jangan heran jika polah para petinggi ini dijadikan rujukan para karyawan di bawahnya dengan melakukan pembobolan hingga belasan miliar rupiah.

“Kesejahteraan karyawan tak lagi menjadi prioritas dan malah diabaikan, makanya jangan heran jika kemudian terjadi fraud seperti itu. Ada peluang dan celah, ketika sedang dihimpit kebutuhan akibat kesejahteraan sudah hilang, maka ditempuhlah cara ini meski dia paham telah melanggar aturan,” urai sumber.

Sumber kemudian mencontohkan kasus pembobolan karyawan Rp 13,1 miliar BSG Cabang Tilamuta, Rp 1,8 miliar di Cabang Tahuna dan Rp 1,2 miliar di Cabang Kotamobagu.

“Yang terungkap ini baru kulit luarnya saja. Jika dibedah lebih dalam, ada banyak penyimpangan yang belum dikorek, misalnya kredit Rp 300 miliar sudah di-write off, tak lagi terdeteksi di neraca sebagai kredit macet karena telah di-off balanced-kan,”paparnya.

Sebagai mantan karyawan yang ikut berjuang mengangkat BSG dari keterpurukan setelah kasus commercial papar di tahun 1996, sumber mengaku sangat prihatin dengan kondisi BSG saat ini.

“Semoga para pemegang saham benar-benar berpikir dan bertindak untuk kemajuan bank dan kontribusinya bagi daerah. Bukan hanya mencari keuntungan pribadi,” tutupnya menyarankan.

Hence Rumende, Pemimpin Divisi Corporate Secretary yang dikonfirmasi via whatsapp di no 0853435xxxx9 enggan untuk menanggapinya. Begitu juga dengan Direktur Umum Jounert Dondokambey ketika di konformasi via ponselnya di no 0852xxxx7964 dalam kondiso tidak aktif. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */