Connect with us

Artikel

“LATAR BELAKANG SEJARAH TAHUN BARU IMLEK DAN ASPEK BUDAYA TIONGHOA”

Redaksi

Published

on

Wenshi (Ws) Sofyan Jimmy Yosadi, SH.

Advokat, Dewan Pakar Pengurus Pusat MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Pengurus FKUB Sulut, Budayawan Tionghoa

LATAR BELAKANG SEJARAH TAHUN BARU IMLEK

Kalender dengan penanggalan Imlek atau Yin Li pertama kali diciptakan oleh Huang Di (Oei Tee / Ui Tee : dialek Hokkian), salah satu Sheng Huang atau Nabi Purba dan Sheng Wang  atau Raja suci dalam sejarah perkembangan Ru Jiao nama awalnya agama Khonghucu. Huang Di seorang ahli astronomi yang hidup pada tahun 2698 sM – 2598 sM merupakan nenek moyang Suku Han, suku terbesar di Tiongkok. Nama lahirnya Xuanyuan atau Youxiong, nama leluhurnya Gongsun. Beliau sering disebut sebagai Kaisar Kuning.

Saat Huang Di berkuasa, walaupun diciptakannya namun Kalender ini belum digunakan. Baru beberapa ratus tahun kemudian pada masa Dinasti pertama Xia (2205 sM – 1766 sM) kalender tersebut digunakan, sehingga lazim disebut sebagai Kalender Xia atau He. Pendiri Dinasti Cia (He) bernama Xia Yu merupana salah satu Nabi Sheng Huang dalam Ru Jiao agama Khonghucu. Kaisar Xia Yu menetapkan perhitungan tahun baru Imlek disaat awal musim semi (Chun).

Setelah Dinasti Xia runtuh diganti Dinasti Shang, (1766 sM – 1122 sM) kaisar yang juga seorang Sheng Wang Raja Suci dalam agama Khonghucu Ru Jiao kemudian menggantikannya dengan Kalender Shang dan penetapan tahun baru Imlek maju satu bulan disaat Musim Dingin.

Demikian pula saat peralihan dari Dinasti Shang ke Dinasti Zhou (1122 sM – 255 sM) Kaisar Wen Wang pendiri Dinasti Zhou yang merupakan seorang Sheng Huang Nabi dalam Ru Jiao agama Khonghucu, kemudian menetapkan tahun baru Imlek awal tahun barunya 1 Zhengyue dimajukan lagi satu bulan hingga jatuh tepat musim dingin (Tang).

Kemudian ketika kekuasaan di Tiongkok berganti ke Dinasti Qin (255 sM – 202 sM) maka kalender penanggalan Imlek didasarkan pada perhitungan Dinasti Qin dan perhitungan saat tahun baru Imlek dimajukan lagi hingga masih berada di musim dingin (Tang).

Saat Dinasti Han berkuasa (202 sM – 206 M) Kalender Xia (He) baru digunakan kembali saat Kaisar keempat Dinasti Han yang bernama Han Wu Di memerintah. Pada tahun 104 SM, Kaisar Han Wu Di kemudian menetapkan digunakannya kembali Kalender Dinasti Xia, mengikuti anjuran dan sabda Nabi Kongzi : “Pakailah Penanggalan Dinasti He” tersurat pada Kitab Suci Si Shu, khusus Kitab Lun Yu Sabda Suci Jilid XV : 11. Bertepatan saat itupula Kaisar Han Wu DI menetapkan Ru Jiao / agama Khonghucu sebagai agama Negara (State Religion).

Seruan sabda Nabi Kongzi untuk memakai penanggalan Dinasti He (Xia) yang mulanya diciptakan Huang Di, selain didasarkan pada penghitungan astronomi juga pertimbangan lainnya. Dalam kalender Xia (He), tahun baru Imlek awal datangnya musim semi (Chun). Di Tiongkok terdapat empat musim yakni Musim semi (Chun), musim panas (He), musim rontok (Qiu) dan musim dingin (Tang). Maka setelah melewati musim dingin dan tibanya musim semi hal ini membawa harapan baru. Masyarakat Tiongkok yang mayoritas agraris para petani mulai menanam, mengolah sawah ladangnya dan memulai kembali kehidupan meraih hasil bumi. Maka penanggalan Imlek ini disebut pula penanggalan petani (Nong Li).

Tahun Baru Imlek sering juga disebut Xin Zheng atau Sincia dalam dialek Hokkian, sebutan yang dibawa oleh masyarakat Fujian. Adapula yang menyebutnya dengan Chunjie yang artinya Festival Musim Semi karena di Tiongkok akan memasuki musim semi Chun.

Kaisar Han Wu Di menetapkan penghitungan 1 Zhengyue tahun baru Imlek saat musim semi (Chun) kalendernya dihitung sejak 551 SM, tahun kelahiran Nabi Kongzi. Jika ditambahkan tahun Masehi 2024 maka tahun baru Imlek tahun ini adalah 2575 dan disebut pula Kongzili artinya penanggalan berdasarkan usia Nabi Kongzi. Tahun baru Imlek 2575 Kongzili ditahun 2024 jatuh pada hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2024.

Ribuan tahun sejak Kaisar Wan Hu Di dari Dinasti Han melewati lintasan sejarah panjang hingga Tiongkok menjadi Republik hingga saat ini, penetapan awal tahun baru Imlek sudah tetap tidak berganti di awal musim Semi (Chun). Penghitungan Nabi Kongzi (551 sM – 479 sM) yang menyerukan agar memakai penanggalan Dinasti Xia (He) melalui berbagai kajian kosmologi metafisika dan perhitungan astronomi didasarkan pada Kitab Yi Jing (Kitab Perubahan) salah satu Kitab Suci Ru Jiao agama Khonghucu dimana kitab ini merupakan warisan para pendahulu Sheng Huang Nabi Purba dan Sheng Wang Raja Suci yang kemudian diberi tafsir lebih jauh oleh Nabi Kongzi yang disebut Shi Yi (Sepuluh sayap).

Di Tiongkok selain agama Khonghucu belakangan berkembang pula agama Tao dan saat agama Khonghucu menjadi agama negara di Dinasti Han (202 sM – 206 M), agama Buddha masuk ke Tiongkok dari India. Sementara itu agama Khonghucu berkembang sampai ke Korea, Jepang, Vietnam, Myanmar, Mongolia, Asia Tenggara bahkan Eropa dan Amerika hingga keseluruh dunia, merayakan tahun baru Imlek dengan mengikuti penanggalan saat perhitungan kelahiran Nabi Kongzi.

Tahun baru Imlek adalah perayaan keagamaan Khonghucu (Ru Jiao) sudah dirayakan sejak kurang lebih 4000-an hingga 5000 tahun yang lalu. Melintasi ribuan jaman dan lintas batas belahan dunia.

Di Nusantara, jejak kedatangan masyarakat Tionghoa sudah ratusan tahun. Perayaan tahun baru Imlek sudah dirayakan sejak lama.

Di Sulawesi Utara, khususnya kota Manado perayaan tahun baru Imlek sudah dirayakan sejak ratusan tahun lalu. Dalam beberapa artikel saya, berdasarkan literatur dan berbagai artefak dalam perpustakaan pribadi di rumah “Wale Papendangan Library” sejak tahun 1655, orang-orang Tionghoa sudah ada di Manado. Ada yang didatangkan oleh VOC sebagai tukang dan petani.

Pemerintah Hindia Belanda telah membuka Loji di Manado dan mendirikan benteng kayu. Yang semula sudah dibangun oleh bangsa Portugis dan Spanyol. Keberadaan orang-orang Tionghoa pada tahun-tahun berikutnya ternyata kian berkembang. Kedatangan secara bergelombang para perantau Tionghoa dari negeri Tiongkok membuat keberadaan orang-orang Tionghoa yang ditempatkan dibelakang Benteng New Fort Amsterdam kini pusat kota Manado dan berdirinya Kampung Cina di Manado setidaknya membuktikan perayaan tahun baru Imlek sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu.

Di kampung Cina (China Town) Manado berdiri klenteng pertama dan tertua di Manado yang dinamakan Klenteng Ban Hing Kong yang didirikan sejak tahun 1700-an dan direnovasi pertama kali dengan bangunan semi permanen sejak tahun 1819. Kemudian dibangun pula rumah abu (Kong Tek Su) pada tahun 1839.

Jejak sejarah masyarakat Tionghoa lainnya adalah pekuburan Tionghoa pertama di daerah Gunung Wenang kemudian tahun 1825 beralih menjadi Rumah Sakit Belanda Wilhemina dan berganti nama menjadi rumah sakit Gunung Wenang dan sejak tahun 1902 pekuburan Tionghoa berada didaerah di Teling, Pekuburan-pekuburan itu kemudian ditutup dan dipindahkan ke Paal 2 (tahun 1961) dan kemudian sejak awal tahun 90-an meluas hingga ke daerah Manumbi Minahasa Utara.

Perayaan tahun baru Imlek sejak dahulu selain dipusatkan di Klenteng Ban Hing Kiong juga terjadi akulturasi budaya dengan masyarakat Minahasa yang mempunyai tradisi mengunjungi makam atau pekuburan saat tahun baru. Maka orang-orang Tionghoa melakukan ziarah ke pekuburan Tionghoa saat jelang tahun baru Imlek juga tahun baru Masehi dan saat hari raya sembahyang Qing Ming (Cheng Beng).

ASPEK BUDAYA TIONGHOA

Dalam setiap agama diwilayah mana agama tersebut mula-mula lahir dan berkembang maka budayanya ikut lestari sebagaimana agama Khonghucu yang seiring dengan unsur budaya Tionghoa. Sejarah agama Khonghucu / Ru Jiao berjalan bersama dalam lintasan sejarah bangsa Tionghoa selama kurun waktu 5000-an tahun hingga kini menjadikan masyarakat Tionghoa sangat kental dengan budaya Tionghoa dan mengalami akulturasi budaya dimana agama Khonghucu berkembang. Juga mewarnai masyarakat Tionghoa yang bukan beragama Khonghucu.

Setiap momen perayaan tahun baru Imlek pasti akan selalu ada pernak-pernik Imlek, angpao, barongsai dan Wushu, ramalam Shio dan quamia, Fengshui, pakaian yang didominasi warna merah / Cheongsam hingga riasan dan kuliner khas Imlek, semuanya adalah kebudayaan yang menyertai makna religi keagamaan Khonghucu.

Bagi umat Khonghucu, tahun baru Imlek adalah hari raya keagamaan. Bagi masyarakat Tionghoa yang bukan lagi beragama Khonghucu yang turut merayakannya dari sisi budaya Tionghoa, tidak ada yang melarangnya.

Mari kita bergembira bersama merayakan tahun baru Imlek dengan suka cita tapi etisnya jangan mengaburkan sejarah, makna keagamaannya dengan mengatakan bahwa tahun baru Imlek adalah budaya bukan agama. Kalau hanya unsur budaya tentu tidak ada upacara dan sembahyang yang seharusnya menjadi ranah agama.

Jikapun dikatakan bahwa tahun baru Imlek adalah perayaan etnis (dalam hal ini Tionghoa), juga kurang tepat. Hal ini Karena tahun baru Imlek dirayakan pula bangsa-bangsa lain di dunia seperti Korea dan Jepang, Vietnam, Singapura dan bangsa lainnya dengan istilah berbeda.

Regulasi, aturan hukum berkaitan dengan hari libur nasional di Republik Indonesia selalu berhubungan dengan peristiwa penting nasional serta agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu. Bukan hari raya etnis dan budaya semata.

tradisi makan keluarga untuk menjalin hubungan kekerabatan tepat malam tahun baru imlek. Hal tersebut untuk mempererat hubungan keluarga yang mungkin juga berjauhan. Makanan yang dimakan biasanya makanan khusus. Selain Mie yang artinya umur panjang, mereka memakan Ikan yang dalam bahasa Mandarin Yu artinya sisa. Analiginya berkat Tahun yang lama harus dihabiskan. Besoknya berkat besar akan didapatkan. Juga buah-buahan seperti jeruk sebagai lambang rejeki dan tradisi makan kue yang manis, dengan simbol harapan manisnya kehiduoan dan berbagai simbol budaya tradisi adat istiadat Tionghoa lainnya.

Saat memakai baju Merah lambang kegembiraan, berkat dan keberanian. Selain itu ada tradisi lainnya yang selalu marak saat tahun baru Imlek yakni menyalakan Kembang Api yang aslinya berasal dari Tiongkok dan dipasang sebagai simbol mengusir roh jahat, hawa jahat maupun orang yang bermaksud jahat.

Ketika tahun baru Imlek ada tradisi pemberian Hung Bao atau Ang pao (ang artinya merah, Pao itu artinya amplop) atau kertas merah dibagikan. Orang yang mapan dan sukses harus memberikan kepada orang tua terlebih dahulu. Hal tersebut sebagai ungkapan terima kasih, laku bakti kepada mereka. Lalu diberikan kepada anak-anak sebagai tanda memberikan kegembiraan selanjutnya orang yang tidak menikah, janda atau duda, agar mereka bahagia.

Perayaan tahun baru Imlek memiliki daya terima yang kuat, bernilai toleransi yang tinggi dan berakar di kalangan masyarakat Kota Manado dan Sulawesi Utara dan sekitarnya akibat terjadinya proses akulturasi budaya dengan kebudayaan minahasa, Sangihe, Bolaang Mongondow, Bantik dan lainnya sehingga sebenarnya menjadi satu kekuatan bagi pemeluk agama Khonghucu untuk mampu menyebarkan ajaran kebajikan sebagai ajaran penting dalam agama ke berbagai kalangan. Ini penting dilakukan agar ke depannya upacara keagamaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh kemudian akan menjadi ruang selebrasi keagamaan sekalipun tentu juga harus diterima bahwa ini juga rangkaian acara kebudayaan yang ada di Kota Manado dan Sulut serta Indonesia tanah tumpah darah negera yang kita cintai bersama.

Tahun baru Imlek tahun ini sangat spesial karena bertepatan dengan pemilu serentak. Maka para pemimpin dan rohaniwan Khonghucu senantiasa mengajak umat Khonghucu untuk berperan aktif mensukseskan pemilu serentak tahun 2024 sebagai kewajiban warga Negara Indonesia yang baik serta mendoakan agar Pemilu berjalan dengan aman, lancar, jujur dan adil, transparan dan siapapun yang terpilih adalah pemimpin bagi semua masyarakat Indonesia.

Tema perayaan tahun baru Imlek 2575 Kongzili tahun 2024 yang dikeluarkan MATAKIN adalah “Malu bila tidak tahu malu, menjadikan orang tidak tahu malu”

Selamat Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili.

Gong He Xin Xi, Semoga semua berjalan sesuai harapan. Shenti Jiangkang tubuh yang sheat dan Siji Ping an banyak berkat Selamat aman sepanjang tahun. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel

Erick Thohir Harus Mundur: Pertanggungjawaban atas Mega Korupsi di PT Pertamina

Redaksi

Published

on

By

Oleh: Ali Syarief_

Ketika berbicara tentang tanggung jawab seorang menteri, khususnya dalam mengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN), integritas dan akuntabilitas adalah dua hal yang mutlak. Erick Thohir, sebagai Menteri BUMN, semestinya memahami bahwa mega korupsi yang terjadi di PT. Pertamina bukan hanya sekadar skandal keuangan, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistemik dalam kepemimpinannya.

Ironisnya, alih-alih menunjukkan rasa tanggung jawab yang mendalam, Erick Thohir justru masih bisa tampil dengan wajah sumringah di depan publik, seolah tidak ada hal besar yang harus dipertanggungjawabkan.

Kasus korupsi di PT. Pertamina yang merugikan negara hingga triliunan rupiah seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah. Ini bukan sekadar kesalahan individu atau oknum tertentu, tetapi bukti nyata dari kelemahan pengawasan dan tata kelola yang seharusnya menjadi tanggung jawab penuh seorang Menteri BUMN.

Dalam sistem pemerintahan yang sehat, setiap menteri yang gagal menjalankan tugasnya dengan baik harus siap mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral. Namun, yang kita saksikan adalah sikap sebaliknya: pembelaan diri tanpa refleksi dan tanpa konsekuensi nyata.

Sikap Erick Thohir yang terkesan santai di tengah besarnya skandal ini justru memperburuk citra pemerintahan Jokowi di masa lalu, yang dilanjutkan Presiden Prabowo saat ini.

Masyarakat berhak mempertanyakan, apakah pemimpin seperti ini yang layak dipercaya mengelola aset-aset negara? Jika seorang pejabat publik tidak merasa malu atau terbebani dengan keterlibatan kementeriannya dalam kasus korupsi besar, maka ini adalah sinyal buruk bagi masa depan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan.

Keengganan untuk mundur menunjukkan bahwa pejabat di Indonesia masih jauh dari budaya pertanggungjawaban politik yang seharusnya.

Di negara-negara dengan sistem demokrasi yang matang, seorang pejabat yang institusinya tersandung skandal besar akan segera mengundurkan diri sebagai bentuk penghormatan terhadap jabatan yang diembannya.

Namun di Indonesia, jabatan justru dipertahankan mati-matian meskipun kepercayaan publik sudah jatuh ke titik terendah.

Mega korupsi di PT. Pertamina seharusnya menjadi momentum untuk perbaikan, bukan justru ditutupi dengan berbagai narasi pembelaan yang menyesatkan.

Jika Erick Thohir benar-benar memiliki integritas, seharusnya ia tidak menunggu desakan publik untuk mundur, melainkan secara sukarela mengambil langkah itu sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.

Lebih jauh, bukan hanya pengunduran dirinya yang dituntut, tetapi juga langkah hukum yang tegas untuk menyeret semua pihak yang terlibat dalam skandal ini.

Negara ini membutuhkan pemimpin yang berani menghadapi konsekuensi dari kegagalan mereka, bukan yang sekadar lihai berkomunikasi dan mencari perlindungan politik.

Jika budaya impunitas seperti ini terus dibiarkan, maka jangan heran jika kasus-kasus korupsi semakin menggurita dan kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin runtuh.

Erick Thohir, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kebijakan di BUMN, tidak boleh hanya diam dan terus menjalankan tugasnya seolah tidak ada yang terjadi.

Sudah saatnya bagi dia untuk mundur dan mempertanggungjawabkan kegagalannya dalam mengelola perusahaan-perusahaan negara dengan baik. (*)

Continue Reading

Artikel

Bitung Pada Satu Titik: DARI MMHH KE HHRM

Redaksi

Published

on

By

By : Kex

Tidak ada satu rezim yang bersifat permanen, pun di tata kelola pemerintahan. Setiap periode selalu akan ditandai munculnya sosok pemimpin baru apakah dari satu warna politik yang sama ataupun berbeda.
Entah apakah pula proses pergantian itu berlangsung mulus atau pun berjalan penuh diksi dan kontraksi, tetap juga semua akan bermuara pada satu titik : suksesi kepemimpinan.

Begitupun yang terjadi saat genta pelantikan serentak ditabuh, mereka yang dilantik segera kembali ke daerah masing masing dan memulai agenda membumikan visi misi dan program prioritas sebagaimana yang didengungkan selama kampanye.

Itu pula yang sementara berproses di kota Bitung, pasca era Maurits Mantiri selesai, lokomotiv kepemerintahan ada dalam tuas gerak Hengky Honandar dan Randito Maringka.
Seperti apapun konstalasi yang ada, sudah menjadi sebuah kemestian agar semua komponen memberi ruang seluas mungkin bagi HHRM untuk membangun kota ini.

Energi dan spirit objektif serta konstruktif harus lebih dominan mendapatkan ruang menindih sikap kenes, infantil dan aroma rivalitas yang masih merebak secara sporadis.

Saatnya move on memberi ruang dan suport bagi kepemimpinan baru membangun kota ini menjadi lebih baik. Bahwa lepas dari kekurangan dan kelemahan MM tetap telah mematri karya selama kepemimpinannya, saat ini tongkat kepemimpinan dipercayakan kepada sosok HH yang memiliki kematangan emosional dan spirituil, disokong energi muda RM, kolaborasi mereka akan efektif jika disuport secara proporsional oleh semua lini dengan tetap memberi ruang bagi mekanisme kontrol publik secara kritis etis.

Akhirnya banyak selamat HHRM selamat menapaktilasi esensi kepemimpinan sebagaimana frasa George R. Terry, “Kepemimpinan adalah kegiatan memengaruhi orang lain agar mau berjuang demi tujuan bersama”.

Terimakasih buat BPK Maurits Mantiri atas kiprah satu periode dan selamat melayani untuk Walikota Hengky Honandar dan Wakil Randito Maringka. Selamat membangun kota Bitung yang makin baik.(*)

Continue Reading

Artikel

Meresapi Lelehan Senjakala(Refleksi Dua Puluh Lima Tahun Kembara Media)

Reky Simboh

Published

on

Oleh : Emon Kex Mudami

The World is Flat….., (Thomas Friedman)

Apakah catatan sederhana ini terlecut oleh momentum Hari Pers 9 Februari baru lewat, entahlah. Yang pasti saya lebih nyaman menyebut sebagai proses berkontemplasi, berefleksi atas dunia (ke)media(an) atau jurnalis yang sudah —atau boleh juga baru- digeluti 25 tahun terakhir.

Ketika era makin terdigitalisasi, bidang media informasi komunikasi (mainstream, terutamanya surat kabar), termasuk salah satu yang mengalami efek melting (pencairan) dari konsep kerja sebagaimana biasa.

Fase senjakala media cetak ini perlahan namun pasti, terus merambah dari belahan barat sampai ke ceruk Asia.
Linier dengan gerak pelelehan itu, para pewarta melakukan apa yang saya sebut sebagai proses beradaptasi terhadap seleksi alam yang sementara berlangsung.

Sedikitnya ada tiga corak survive yang terlihat, pertama yang murni bertahan sambil melakukan berbagai inovasi (?) terhadap pasar yang sebetulnya sudah nyaris jenuh, kedua yang secara bertahap bersulih pola dari mainstream ke online atau alternative, dan ketiga mungkin ini lebih pas pada tataran personal adalah yang memilih total berkiprah di luar media.

Tentu pemetaan rada prematur di atas lebih bersifat amatan empiris belaka dan masih sangat terbuka ruang divisualkan lebih smooth lagi.

Saya selalu mengambil posisi memaklumi pilihan yang diambil oleh masing masing pekerja di bidang ini terutama kaum pewarta, sah saja kita memiliki pretensi dan sikap beragam terhadap proses yang ada.

Olehnya saya tidak bisa mendebat misalnya, jika —ijin- senior Joppie Worek telah hampir sepuluh tahun silam mengakui mulai tidak lagi membaca suratkabar karena langsung nyetel dengan android di mana media mainstream maupun alternative berselieweran tanpa batas.

Belakangan sosok yang total hampir 34 tahun aktif sebagai jurnalis itu menyebut memilih jadi WMS alias Wartawan Media Sosial, sekadar menyalurkan kesukaan menulis.

Namun di situasi yang lain, memaklumi mereka yang tetap bertahan melakoni rutinitas profesi, seolah putaran kaki sang waktu belum digerus oleh globalisasi dan high tech.

Adanya pernyataan masih terus belajar sebagai jurnalis misalnya, bisa dipetakkan sebagai sebuah bentuk totalitas walau tetap saja paradoks diperhadapkan dengan gerak jaman kekinian .

Saya meminta maaf, lebih dari sekali mendebat cukup sengit, teman teman yang masih eksis perihal kekauan mereka dalam mengeksekusi era keterbukaan media saat ini.

Saya berpikir ketika nyaris semua pintu multi media terkuak dan bisa diakases dengan mudah oleh netizen, sejogjanya pelaku media juga berlaku lebih terbuka dengan memberi akses seluas-luasnya ruang atau space media terhadap publik.

Bahwa dengan pertimbangan, seperti kata Friedman saat ini dunia telah menjadi datar bahkan tanpa batas (borderless), di mana koneksi publik dengan media tidak sesulit dulu, seseorang yang tidak memiliki bekal ilmu wartawan sekalipun, secara spontan bisa menampilkan news dengan unsur 5W + 1H meski serampangan melalui akun, grup atau berbagai instrumentasi lainnya.

Frame ini yang sepertinya luput dipertimbangkan, dengan kata lain jika dulu saluran publik masih sangat terbatas hanya pada kanal atau ruang media mainstream, namun saat ini ruang itu telah jauh meleleh.
Publik dapat berinteraksi secara massif baik melalui media online ataupun media alternative.

Inilah cuilan potret media kekinian, dimaui atau tidak khusus main stream akan tiba pada tingkap paling nadir, senja yang paling senja.

Mengutip terminilogi Kementerian Kominfo, dalam konteks pemasaran media mainstream tengah menghadapi vonis mati. Orang-orang media perlu bersegera menata diri, beradaptasi dengan era konvergensi .

Dalam motivasi ber-konvergen itu, mohon maaf jika kemarin saya sempat mencandai seorang sahabat melalui percakapan via wa, ia mengatakan hendak mengecek kerjasama media dengan Pemkot Bitung.

Saya mengatakan orang sekaliber dia, mestinya punya olahan lain yang lebih menantang lagi, terutamanya mengeksplorasi ruang yang direbak era digital saat ini.

Apakah kalimat itu ia terima sebagai sebuah tantangan atau apa, tetapi jika hendak memberi pilihan, maka saya berharap ketika menerima kabar, maka yang datang adalah konsep garapan yang lebih mutakhir dan factual lagi.

Maaf jika saya telah hampir sampai di ujung kembara dari labirin era mainstream.(*)

Continue Reading

Trending

× Kontak Redaksi