Connect with us

Artikel

Bungkahe di Balik DevidenPerumda Air Dua Sudara Bitung

Redaksi

Published

pada

By

FB IMG 1771833095309

Catatan : Reymoond ‘Kex’ Mudami

Ada pemimpin yang bekerja dari balik meja, ada pula yang memilih tepi sungai sebagai ruang baca realitas.

Sejak dilantik akhir 2022, Alfred Salindeho tak memberi jeda bagi mesin organisasi. Ia tancap gas, memacu kinerja Perumda Air Minum Dua Sudara dengan ritme yang tegas: disiplin operasional, pembenahan manajemen, dan keberanian mengambil keputusan.

Hasilnya tak sekadar angka di laporan tahunan. Empat tahun berturut-turut, perusahaan daerah itu mampu menyetor deviden kepada Kota Bitung dengan total mencapai 4,2 miliar rupiah.

Sebuah hasil yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga menandai kesehatan tata kelola dan arah bisnis yang tepat.

Di tengah tantangan BUMD yang sering terjebak pada beban sosial dan efisiensi yang rapuh, capaian ini terasa seperti oase.

Menariknya, ketika ditanya rahasia keberhasilan itu, ia berkelakar: “karena bungkahe.”

Singkong—pangan sederhana dari Nusa Utara—yang menurutnya menempa daya tahan. Di situ kita menemukan metafora kepemimpinan: bersahaja, keras, dan tak mudah rapuh.

Bungkahe bukan sekadar menu; ia adalah simbol mentalitas Spartan—tahan lapar, tahan lelah, tahan kritik.

Cerita tentang lima jam menyusuri pinggiran aliran sungai untuk membaca kondisi sumber dan hilirnya menjadi penegas.

Seorang direktur utama yang rela membasahi sepatu dan mengukur arus dengan mata kepala sendiri sedang memberi pesan kepada organisasi: keputusan terbaik lahir dari kedekatan pada fakta.

Air tak bisa dipahami hanya dari grafik; ia harus didengar gemericiknya, diraba debitnya, ditelusuri lukanya.

Di sisi lain, perannya sebagai ketua yayasan pendidikan yang menaungi sekolah tinggi di Bitung memperlihatkan konsistensi pada investasi jangka panjang: manusia.

Mengelola air adalah mengelola hajat hidup; mengelola pendidikan adalah menyiapkan masa depan. Keduanya bertemu pada satu simpul: tanggung jawab.

Maka “bungkahe di balik setor deviden” bukanlah anekdot ringan. Ia adalah cara seorang pemimpin merendahkan diri pada akar, sembari menegakkan standar tinggi pada kinerja.

Dari sungai ke laporan keuangan, dari lapangan ke ruang rapat, dari kelakar ke capaian—kita belajar bahwa kesederhanaan yang ditempa disiplin bisa menjelma prestasi.

Dalam budaya Nusa Utara, bungkahe—singkong—bukan sekadar pangan alternatif. Ia adalah simbol daya hidup.

Tumbuh di tanah yang tak selalu subur, tidak manja oleh musim, namun tetap memberi hasil.
Ia sederhana, tetapi mengenyangkan.
Ia tidak dipamerkan di meja-meja perjamuan, tetapi setia hadir di dapur-dapur keluarga.

Ketika Alfred Salindeho menyebut “bungkahe” sebagai rahasia energinya, mungkin itu terdengar seperti kelakar.

Namun sesungguhnya, di sanalah terbaca akar mentalitasnya. Ia dibentuk oleh kesederhanaan yang keras.

Oleh kebiasaan hidup yang tidak berlebihan. Oleh pola pikir yang tidak menunggu fasilitas lengkap untuk mulai bekerja.

Bungkahe mengajarkan tiga hal.
Pertama, daya tahan. Seperti singkong yang mampu hidup di tanah kering, kepemimpinan pun diuji dalam situasi yang tak selalu ideal.

Ketika menghadapi tantangan teknis, tekanan publik, atau ekspektasi tinggi terhadap kinerja Perumda Air Minum Dua Sudara, ia tidak reaktif.

Ia bertahan, membaca situasi, lalu bergerak sistematis.
Kedua, kesederhanaan yang produktif. Bungkahe bukan makanan mewah, tetapi ia memberi tenaga untuk bekerja seharian.

Dalam konteks manajerial, ini menjelma pada efisiensi. Tidak berlebihan dalam belanja operasional, tidak tergoda pada keputusan populis yang jangka pendek.

Hasilnya nyata: tiga tahun berturut-turut perusahaan menyumbang deviden bagi Kota Bitung dengan total 4,2 miliar rupiah. Angka itu lahir dari disiplin, bukan keberuntungan.

Ketiga, akar yang kuat. Singkong tumbuh dengan umbi yang menghujam ke dalam tanah.
Kepemimpinan pun demikian. Ia tidak hanya mengandalkan permukaan—laporan, grafik, atau presentasi—tetapi turun langsung menyusuri sungai, membaca hulu dan hilir.

Lima jam di bantaran aliran bukanlah gestur simbolik; itu adalah cara memastikan akar persoalan dipahami sebelum solusi ditetapkan.

Filosofi bungkahe pada akhirnya menjelaskan satu hal penting: keberhasilan tidak selalu lahir dari gemerlap strategi besar.

Ia sering tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten.
Dari kedisiplinan bangun pagi. Dari keberanian turun lapangan.
Dari kesediaan mendengar teknisi di bawah, bukan hanya konsultan di atas.

Dan mungkin itulah yang membuat kisah ini relevan bagi kota pelabuhan yang terus bergerak.

Bahwa di tengah modernisasi, digitalisasi, dan tuntutan profesionalisme tinggi, akar kultural tetap punya tempat.

Bahwa nilai-nilai lokal tidak bertentangan dengan manajemen modern—justru dapat menjadi fondasinya.

Di antara gemericik air dan angka-angka laporan keuangan, filosofi bungkahe berdiri sebagai pengingat:
kerja keras tidak perlu riuh, cukup konsisten.

prestasi tidak perlu dibesar-besarkan, cukup dibuktikan. Dan kepemimpinan tidak harus mewah, cukup menguatkan. (*)

Catatan penyebutan bungkahe saat saya bersama Dirut di ibadah duka, Dirut merespon apresiasi saya atas kinerja perusahaan yang konsisten sejak ia menjabat,di antaranya berhasil memberi deviden.

Sumber foto : redaksi sulut.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */