Connect with us

Manado

Dari Kursi Kejati ke Pelayanan  Jemaat: Arnold Angkouw Tetap Mengabdi Lewat Seni

Published

pada

5087fe18 a3a8 4616 904e f20bc2718106

Manado,mediakontras.com  — Langkahnya mungkin tak lagi berada di lorong-lorong hukum, tetapi semangat pengabdiannya tak pernah surut. Arnold Angkouw, sosok yang pernah dikenal luas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara di era 2000-an, kini menapaki panggung yang berbeda—panggung pelayanan jemaat.

Di Jemaat GMIM Genesaret Pateten, ia hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai pelayan. Bersama sang istri, Pdt Ria Luntungan, Arnold menjalani keseharian yang sederhana namun bermakna: mengisi waktu dengan mendukung dan terlibat langsung dalam pelayanan.

Yang menarik, pilihannya jatuh pada bidang seni—sebuah ruang yang mungkin tak banyak disangka dari seorang mantan penegak hukum. Namun di situlah ia menemukan cara baru untuk memberi arti.

Dalam setiap latihan dan penampilan, Arnold tak segan berdiri di antara anggota koor. Suaranya menyatu dalam pujian, tanpa sekat, tanpa jarak. Ia bukan lagi “mantan pejabat”, melainkan bagian dari harmoni itu sendiri.

Tak berhenti di situ, semangatnya juga tampak dalam irama masamper bersama tim Putra Genesaret. Dengan gerak yang luwes dan penuh sukacita, ia ikut bergoyang, menampilkan wajah budaya yang hidup—menghidupkan kembali semangat kebersamaan yang menjadi roh dari tradisi tersebut.

“Beliau memberi contoh bahwa melayani itu tidak mengenal status,” ujar salah satu Pelsus. “Apa yang dilakukan Pak Arnold ini sederhana, tapi sangat menyentuh.”

Apresiasi pun mengalir dari berbagai kalangan jemaat. Bukan semata karena latar belakangnya yang mentereng, melainkan karena kerendahan hati yang ia tunjukkan. Di tengah jemaat, ia hadir sebagai pribadi yang membumi—mau belajar, mau terlibat, dan mau menyatu.

Kehadirannya juga membawa dampak nyata. Bidang seni di jemaat semakin bergairah. Koor menjadi lebih hidup, masamper semakin semarak, dan generasi muda menemukan teladan baru: bahwa pelayanan bisa dilakukan siapa saja, dengan cara apa saja.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Arnold Angkouw seakan menegaskan kembali makna pengabdian. Bahwa setelah jabatan dan panggung besar berlalu, selalu ada ruang lain untuk tetap memberi arti.

Dari kursi Kejati ke panggung jemaat, perjalanan ini bukan tentang perubahan arah, melainkan kelanjutan dari panggilan hidup—melayani, dalam bentuk yang lebih sederhana, namun justru lebih menyentuh.

Dan di tengah harmoni koor serta irama masamper di Genesaret, kisah itu terus dinyanyikan.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */