Connect with us

Artikel

“Surga yang Terselip Sampah: Wajah Lain Bunaken yang Tak Tertangkap Brosur”

Published

pada

4f309ff0 a74f 417d aeea 876243a6d4f8

Oleh M Yazin Solichin

Pagi itu, cahaya matahari jatuh lembut di atas perairan Taman Nasional Bunaken. Laut tampak seperti kaca yang dipoles—tenang, jernih, memantulkan langit biru yang nyaris tanpa cela. Perahu-perahu kecil mulai bergerak, membawa wisatawan yang datang dengan satu harapan: menyaksikan salah satu surga bawah laut terbaik di dunia.

Namun, beberapa langkah dari garis air, ada cerita lain yang jarang masuk dalam brosur.

Di sela pasir putih yang hangat, terselip botol plastik, bungkus makanan, dan serpihan styrofoam yang terombang-ambing ringan. Tidak banyak—tapi cukup untuk mengganggu. Cukup untuk membuat kita bertanya: sejak kapan surga ini mulai menyimpan sisa-sisa yang kita tinggalkan?

Seorang pemandu lokal, yang hampir setiap hari menyusuri pantai, menunjuk ke arah tumpukan kecil di balik batu.

“Kalau pagi biasanya begini. Kadang lebih banyak,” katanya pelan.

Ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Tapi nadanya menyimpan kelelahan yang tidak diucapkan.

Bunaken telah lama menjadi kebanggaan. Nama yang membawa Manado ke peta dunia. Terumbu karangnya, keanekaragaman hayatinya, dan kejernihan lautnya menjadi cerita yang berulang-ulang diceritakan—dari brosur wisata, media internasional, hingga cerita mulut ke mulut.

Tapi seperti banyak tempat indah lainnya, ada bagian yang tidak selalu kita lihat.

Sampah di pesisir bukanlah gelombang besar yang datang sekaligus. Ia hadir perlahan. Satu botol hari ini. Satu kantong besok. Satu kebiasaan kecil yang diulang tanpa sadar. Dan lama-lama, ia menjadi lanskap baru yang kita anggap biasa.

Di beberapa titik, terutama setelah arus laut berubah arah, sampah kiriman terlihat lebih jelas. Ada yang datang dari aktivitas lokal. Ada yang diduga terbawa dari daratan yang lebih jauh. Laut, yang selama ini kita anggap sebagai pemisah, justru menjadi penghubung—membawa apa pun yang kita buang kembali kepada kita.

Seorang wisatawan yang baru pertama kali datang terlihat memungut sepotong plastik kecil, lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Tempatnya luar biasa indah,” katanya. “Makanya sayang kalau ada beginian.”

Kalimat sederhana itu seperti cermin.

Bunaken tidak kehilangan keindahannya. Belum. Tapi tanda-tanda kecil itu ada. Dan seringkali, perubahan besar memang selalu dimulai dari hal-hal yang tampak sepele.

Pertanyaannya bukan lagi apakah sampah itu ada.

Pertanyaannya adalah: apakah kita memilih untuk melihatnya?

Karena selama ini, mungkin kita terlalu sibuk memotret keindahan, sampai lupa memperhatikan apa yang terselip di pinggirnya.

Melalui seri tulisan ini, SULUT ENVIRONMENTAL WATCH (SEW) memulai satu langkah sederhana: melihat lebih dekat, mendengar lebih jujur, dan menceritakan apa adanya.

Bukan untuk menghakimi.

Bukan untuk mempermalukan.

Tetapi untuk mengingatkan—bahwa tempat seindah Bunaken pun membutuhkan perhatian yang nyata, bukan hanya kekaguman.

Dan mungkin, perubahan itu tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Cukup dari satu tindakan kecil:

mengambil, bukan meninggalkan.

Dalam waktu dekat, langkah itu akan diwujudkan lebih nyata.

Bukan hanya dalam tulisan—tetapi juga dalam aksi.

Dari pantai yang sama, dari cerita yang sama, sebuah gerakan akan dimulai.

Dan dari sana, kita akan melihat:

apakah kepedulian bisa tumbuh menjadi kekuatan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */